Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mercedes-Benz Buka Lagi Program PHK Sukarela untuk Tekan Biaya Operasional

2 min read
Mercedes-Benz Buka Lagi Program PHK Sukarela untuk Tekan Biaya Operasional
Mercedes (Unsplash.com/Victor Sutty)
  • Mercedes-Benz membuka kembali program PHK sukarela di Jerman mulai Desember untuk menekan biaya operasional, sambil bernegosiasi dengan serikat pekerja mengenai skema penghematan menyeluruh.
  • CEO Ola Källenius menyoroti Jerman hanya menyumbang sekitar 15 persen penjualan, tetapi menampung dua pertiga karyawan dan operasional dengan biaya upah lebih tinggi.
  • Penjualan mobil penumpang kuartal ketiga turun 8 persen menjadi 407.232 unit akibat permintaan melemah dan perang harga di China, sehingga target margin laba dipangkas menjadi 2-3 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Produsen mobil Mercedes-Benz akan kembali membuka program pemutusan hubungan kerja (PHK) sukarela di Jerman mulai Desember mendatang. Kebijakan efisiensi ini diumumkan oleh CEO Ola Källenius menyusul adanya pemangkasan proyeksi laba tahunan perseroan.

Manajemen perusahaan saat ini tengah berdiskusi intensif bersama serikat pekerja untuk merumuskan skema penghematan biaya operasional secara menyeluruh. Langkah restrukturisasi ini ditempuh guna menyesuaikan beban pengeluaran perusahaan dengan kondisi pasar otomotif global yang tengah menghadapi tekanan.

  1. 1. Ketimpangan kontribusi pasar terhadap basis tenaga kerja

    potret logo MERCEDES BENZ.
    potret logo MERCEDES BENZ. (unsplash.com/Cédric Streit)

    Ola Källenius menyoroti ketidakseimbangan antara kontribusi pasar domestik Jerman terhadap pendapatan global perseroan dan besarnya konsentrasi tenaga kerja setempat. Penjualan kendaraan di Jerman hanya menyumbang porsi kecil dari total pendapatan, sementara sebagian besar biaya dan operasional pabrik masih terpusat di negara tersebut.

    "Jerman hanya menyumbang sekitar 15 persen dari total penjualan kami, tetapi dua pertiga karyawan dan operasional kami masih berbasis di sini," ujar Källenius.

    Ia menjelaskan bahwa upah tenaga kerja di Jerman jauh lebih tinggi dibandingkan dengan fasilitas pabrik di China, Hungaria, Rumania, maupun Amerika Serikat. Oleh karena itu, ekspansi manufaktur ke kawasan Eropa Timur dinilai menjadi langkah strategis untuk menekan rata-rata biaya produksi di tingkat regional.

  2. 2. Pembukaan kembali skema pesangon sukarela mulai Desember

    Pocari Sweat Run Indonesia 2023_Dok. PT Amerta Indah Otsuka (1).JPG
    Mercedes-Benz CLA Terbaru/Dok. Mercedes-Benz

    Demi mengurangi beban biaya tetap, manajemen memutuskan untuk kembali mengaktifkan skema pengunduran diri dengan kompensasi sukarela di Jerman mulai Desember mendatang. Program ini secara khusus ditujukan bagi para pekerja di divisi pendukung di berbagai fasilitas operasional perusahaan.

    Pihak manajemen belum menetapkan target jumlah pengurangan karyawan karena proses negosiasi bersama perwakilan serikat pekerja masih berjalan. Sebelumnya, sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, Mercedes-Benz telah mengalokasikan anggaran restrukturisasi sebesar 1,1 miliar euro (Rp22,3 triliun) yang sebagian besar digunakan untuk membiayai paket pesangon sukarela tahap awal di Jerman.

  3. 3. Tekanan persaingan di pasar China picu penurunan laba

    Mercedes.jpeg
    Donald Rachmat, CEO Mercedes-Benz Indonesia, saat merilis The all-new Mercedes-AMG GT 63 PRO 4MATIC+ dan The new GLC 200 4MATIC. Dok: Fortune Indonesia

    Langkah efisiensi tersebut dipicu oleh penurunan volume penjualan dan menyusutnya margin keuntungan pada divisi mobil penumpang. Sepanjang kuartal ketiga tahun ini, penjualan divisi tersebut terkoreksi 8 persen menjadi 407.232 unit akibat melemahnya permintaan serta perang diskon harga yang melibatkan lebih dari 100 produsen mobil di China.

    "Sebagai perusahaan otomotif global, kami tidak bisa mengabaikan potensi pasar China," tegas Källenius.

    Ketatnya persaingan memaksa perseroan menurunkan target margin laba tahunan ke kisaran 2 hingga 3 persen. Tantangan serupa yang dipicu oleh proses transisi ke kendaraan listrik serta melambatnya penjualan di kawasan Asia juga dialami oleh produsen otomotif Jerman lainnya, seperti BMW dan Volkswagen Group.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More