Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apa yang Terjadi Jika Saham Turun hingga Nol? Ini Jawabannya

Apa yang Terjadi Jika Saham Turun hingga Nol? Ini Jawabannya
Ilustrasi penurunan nilai saham (freepik.com)
Intinya Sih
  • Saham bisa turun hingga nol ketika perusahaan menghadapi masalah keuangan berat seperti kerugian berulang, utang besar, dan kehilangan kepercayaan investor yang memicu aksi jual masif.
  • Ketika saham mencapai nol, perusahaan berpotensi dihapus dari bursa, masuk proses kebangkrutan, dan investor kehilangan seluruh nilai investasinya.
  • Diversifikasi portofolio, pemantauan kondisi finansial perusahaan, serta penggunaan strategi stop-loss menjadi langkah penting untuk melindungi investasi dari risiko saham jatuh ke nol.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pasar saham selalu bergerak naik dan turun. Banyak investor berharap harga saham yang mereka beli terus meningkat, tetapi kenyataannya tidak semua perusahaan mampu bertahan dalam jangka panjang.

Dalam kondisi tertentu, sebuah saham bahkan bisa kehilangan seluruh nilainya hingga mendekati nol. Situasi ini biasanya terjadi ketika perusahaan mengalami masalah keuangan serius, seperti kebangkrutan atau gagal membayar utang.

Bagi investor, kondisi tersebut bisa menjadi mimpi buruk karena dana yang diinvestasikan berpotensi hilang sepenuhnya. Berikut penjelasan mengenai apa yang terjadi ketika saham jatuh ke nol, penyebabnya, dan cara melindungi portofolio investasi dari risiko tersebut, dikutip dari GOBankingRates.

Table of Content

Mengapa saham bisa turun hingga nol?

Mengapa saham bisa turun hingga nol?

Apa yang Terjadi Jika Saham Turun hingga Nol? Ini Jawabannya
Ilustrasi seorang wanita memerhatikan pergerakan pasar saham (freepik.com)

Harga saham biasanya jatuh drastis ketika perusahaan mengalami tekanan finansial berat. Beberapa penyebab yang paling umum antara lain:

  • Kerugian perusahaan yang terus berulang.
  • Utang yang terlalu besar.
  • Arus kas negatif.
  • Penurunan bisnis secara signifikan.
  • Kehilangan kepercayaan investor.
  • Ancaman kebangkrutan.

Ketika kondisi perusahaan semakin memburuk, investor mulai menjual saham mereka secara besar-besaran sehingga harga saham terus turun.

2. Apa yang terjadi ketika saham menjadi tidak bernilai?

Apa yang Terjadi Jika Saham Turun hingga Nol? Ini Jawabannya
Ilustrasi pasar saham (freepik.com)
  1. Saham bisa dihapus dari bursa

Jika harga saham jatuh terlalu rendah dan perusahaan gagal memenuhi syarat bursa, saham tersebut bisa dihapus dari perdagangan di bursa besar. Setelah delisting, saham biasanya hanya diperdagangkan di pasar OTC (over-the-counter) dengan harga sangat rendah.

  1. Nilai investasi bisa hilang total

Ketika saham mencapai nol, artinya kepemilikan investor di perusahaan tersebut praktis tidak lagi memiliki nilai. Investor berisiko kehilangan seluruh modal yang telah ditanamkan pada saham tersebut.

  1. Perusahaan bisa bangkrut

Saham yang anjlok ke nol sering menjadi tanda bahwa perusahaan sedang menuju kebangkrutan. Dalam kondisi ini, perusahaan biasanya:

  • Melakukan restrukturisasi utang.
  • Menjual aset.
  • Menghentikan operasional.
  • Masuk proses likuidasi.

3. Contoh kasus: Bed Bath & Beyond

Kasus Bed Bath & Beyond menjadi salah satu contoh bagaimana saham dapat kehilangan hampir seluruh nilainya. Perusahaan ritel tersebut mengalami penurunan bisnis selama beberapa kuartal hingga akhirnya harga sahamnya jatuh lebih dari 98 persen.

Tak lama kemudian, perusahaan mengumumkan proses kebangkrutan Chapter 11 dan sahamnya dihapus dari Nasdaq. Investor yang masih memegang saham perusahaan setelah proses tersebut praktis kehilangan seluruh nilai investasinya.

4. Cara melindungi portofolio dari risiko saham nol

Apa yang Terjadi Jika Saham Turun hingga Nol? Ini Jawabannya
Ilustrasi risiko investasi (freepik.com)
  1. Diversifikasi investasi

Diversifikasi menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengurangi risiko. Investor sebaiknya tidak menempatkan seluruh dana pada satu saham atau satu sektor industri saja. Memiliki kombinasi aset seperti saham, obligasi, emas, reksa dana, dan komoditas dapat membantu menjaga stabilitas portofolio.

  1. Rutin memantau kondisi perusahaan

Investor perlu memperhatikan kesehatan finansial perusahaan secara berkala. Beberapa tanda peringatan yang perlu diwaspadai:

  • Kerugian terus-menerus.
  • Utang meningkat tajam.
  • Arus kas negatif.
  • Pergantian direksi mendadak.
  • Penurunan bisnis yang signifikan.

Mengikuti perkembangan berita perusahaan juga penting untuk membantu mengurangi risiko investasi.

  1. Gunakan Stop-Loss

Strategi stop-loss dapat membantu membatasi kerugian. Dengan fitur ini, saham akan otomatis dijual ketika harga turun ke level tertentu sehingga kerugian tidak semakin besar.

Kasus saham turun hingga nol menjadi pengingat bahwa investasi saham selalu memiliki risiko. Perusahaan besar sekalipun bisa mengalami tekanan bisnis serius yang membuat harga sahamnya anjlok drastis.

Karena itu, investor perlu membangun strategi perlindungan portofolio melalui diversifikasi, riset mendalam, dan pengelolaan risiko yang disiplin. Dalam dunia investasi, menjaga modal sering kali sama pentingnya dengan mencari keuntungan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Related Articles

See More