Menjelang HUT RI, Pertamina Jaga Energi Tetap Mengalir untuk Semua

- Pemerintah dan Pertamina mempertahankan harga Pertalite Rp10.000 serta Biosolar Rp6.800 per liter hingga Agustus 2026 melalui subsidi, kompensasi, dan perluasan program BBM Satu Harga di wilayah 3T.
- Sepanjang 2025, penyaluran BBM dan LPG subsidi mendekati kuota nasional, sementara konsumsi BBM nonsubsidi meningkat, termasuk Pertamax Green 95 yang naik 117 persen setelah jaringan outlet diperluas.
- Pertamina mendorong penggunaan MyPertamina agar subsidi tepat sasaran, sedangkan pemerintah mempercepat energi terbarukan; bauran EBT pembangkit listrik mencapai 17,89 persen pada April 2026, melampaui target 16,46 persen.
Jakarta, IDN Times – Tidak ada yang bisa benar-benar memprediksi fluktuasi harga energi. Tahun 2026 membuktikan hal itu. Ketika geopolitik bergolak dan pasar bergerak cepat, tekanan pada rantai pasokan energi dalam negeri pun ikut terasa.
Namun, bagi jutaan warga Indonesia, pertanyaannya bukan soal grafik harga minyak dunia, melainkan lebih sederhana. Apakah Bahan Bakar Minyak (BBM) masih tersedia hari ini? Berapa harganya? PT Pertamina berada di garda terdepan untuk menjawab pertanyaan itu setiap hari.
Menjelang peringatan Kemerdekaan ke-81, bagaimana upaya-upaya Pertamina untuk menjaga ketahanan energi Indonesia?
1. Menjaga stabilitas harga BBM Indonesia

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara. (dok. IDN Times) Di tengah fluktuasi harga minyak dunia, Pemerintah bersama Pertamina memilih untuk tidak bergeming. Subsidi dipertahankan dan bahkan ditambah, untuk menjaga stabilitas harga energi. Harga BBM bersubsidi, Pertalite, bertengger di angka Rp10.000 dan Biosolar di Rp6.800 per liter. Angka ini tidak berubah sejak awal tahun hingga Agustus 2026.
Saat gejolak geopolitik memanas, pembengkakan selisih harga BBM untuk sementara ditanggung oleh Pertamina. Kompensasi dari Pemerintah pun dibayarkan sebanyak 70 persen dari total kewajiban setiap bulannya, secara berkelanjutan. Langkah ini menjaga arus kas Pertamina tetap sehat, sembari memberi ruang bagi pemerintah menjaga stabilitas fiskal.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan bahwa stabilitas harga energi menjadi faktor krusial bagi perekonomian. Alasannya, stabilitas harga menjadi fondasi dari perencanaan ekonomi yang sehat.
"Kestabilan harga (energi) itu sangat penting. Kenapa harus stabil? Supaya membuat perencanaan ekonomi lebih mudah," ujarnya dalam acara Ngobrol Seru by IDN Times "Subsidi Energi dan Ketahanan Energi: Menata Reformasi Subsidi untuk Indonesia yang Lebih Tangguh" (5/8).
Komitmen menjaga stabilitas juga diperluas lewat program BBM Satu Harga yang terus bergerak menjangkau masyarakat di wilayah 3T. Dari 583 titik yang sudah beroperasi, pemerintah tahun lalu menambah 225 lokasi baru untuk periode 2025–2029. Pemilihan lokasi-lokasi tersebut berdasarkan usulan pemerintah daerah, kondisi geografis, dan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan.
2. Distribusi BBM subsidi lancar dan naiknya konsumsi BBM nonsubsidi

ilustrasi distribusi BBM oleh Pertamina. (dok. IDN Times) Selain menjaga harga tetap stabil, pekerjaan rumah lain yang tak kalah penting untuk Pertamina adalah memastikan energi benar-benar sampai ke tangan masyarakat, dari Sabang sampai Merauke.
Data Pertamina Patra Niaga menunjukkan sepanjang 2025 penyaluran BBM subsidi berjalan sesuai koridor kuota dan ketentuan pemerintah. Adapun realisasi penyaluran Pertalite tercatat mencapai 90,1 persen dari kuota nasional, solar subsidi mencapai 98,7 persen, dan minyak tanah 97,6 persen.
Menariknya, tren positif juga terlihat di sisi BBM nonsubsidi. Dibandingkan tahun 2024, konsumsi Pertamax naik 20 persen, Pertamax Turbo melesat hingga 75 persen, Dexlite tumbuh 11 persen, dan Pertamina Dex naik 36 persen. Kenaikan paling signifikan datang dari Pertamax Green 95. Produk BBM ramah lingkungan satu ini konsumsinya melonjak hingga 117 persen. Fenomena ini tidak lepas dari perluasan jaringan outlet sebanyak 71 titik baru. Kini, Pertamax Green 95 sudah tersedia di 177 SPBU.
Cerita serupa juga terjadi di sektor LPG. Penyaluran LPG subsidi 3 kilogram terealisasi 99,77 persen dari kuota nasional sepanjang 2025. Sementara di segmen nonsubsidi rumah tangga, Bright Gas 5,5 kg tumbuh 13 persen dan Bright Gas 12 kg naik 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Konsistensi ini rupanya juga tertangkap radar internasional. Laporan Eye on the Market dari JP Morgan (April 2026) menempatkan Indonesia sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik kedua di dunia, hanya kalah dari Afrika Selatan dan unggul dari Tiongkok.
3. Peran masyarakat dalam menjaga ketahanan energi

Ilustrasi menjaga ketahanan energi. (dok. IDN Times) Namun, ketahanan energi bukan pekerjaan yang bisa dituntaskan sepihak. Masyarakat perlu mengambil bagian sebagai pengawas, sekaligus pengguna yang bijak. Sebab pada akhirnya, energi adalah sumber daya bernilai tinggi yang harus dijaga bersama.
Kesadaran itulah yang terus didorong Pertamina lewat berbagai edukasi soal pentingnya efisiensi energi. Salah satu langkah konkretnya lewat aplikasi MyPertamina, yang memastikan BBM bersubsidi benar-benar sampai ke kelompok yang berhak menerimanya. Lewat aplikasi ini, penyaluran subsidi energi jadi lebih terarah dan potensi penyalahgunaan dapat ditekan.
Di sisi lain, Pemerintah dan Pertamina juga tidak berhenti mendorong diversifikasi energi lewat percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Data Kementerian ESDM mencatat, realisasi bauran energi pembangkit listrik dari EBT sudah mencapai 17,89 persen per April 2026, melampaui target 16,46 persen yang ditetapkan.
Langkah-langkah Pertamina untuk menjaga stabilitas harga, kelancaran distribusi, hingga melakukan edukasi tanpa henti menjadi cerminan bahwa ketahanan energi adalah perjalanan panjang yang terus berjalan. Menjelang perayaan Kemerdekaan Indonesia ke-81, upaya-upaya tersebut menjadi pengingat bahwa energi terus mengalir merata ke seluruh rakyat Indonesia. (WEB)














