IAA Ungkap Penyebab Garuda Kalah Frekuensi dengan Singapore Airlines

- IAA menegaskan tidak ada pelanggaran dalam perjanjian penerbangan Indonesia–Singapura, dan Garuda sebenarnya memiliki hak frekuensi setara dengan Singapore Airlines namun belum dimanfaatkan optimal.
- Keterbatasan armada dan fokus Garuda pada model point-to-point membuat daya saing internasionalnya tertinggal dibanding SQ yang sukses membangun jaringan hub global di Changi Airport.
- IAA merekomendasikan penguatan ekosistem aviasi nasional, pemanfaatan aliansi SkyTeam, serta pengembangan bandara utama sebagai hub internasional agar Indonesia lebih kompetitif di pasar ASEAN.
Jakarta, IDN Times - Ketua Umum Indonesia Aviation Association (IAA) Faik Fahmi menilai tidak ada pelanggaran atau ketidakadilan dalam perjanjian penerbangan antara Indonesia dan Singapura.
Menurutnya, kerangka kerja Bilateral Air Service Agreement (BASA) dan ASEAN Open Skies justru memberikan fleksibilitas bagi maskapai nasional untuk beroperasi di kawasan tersebut.
Faik menyebutkan prinsip resiprokalitas bukan hambatan, karena Garuda Indonesia memiliki hak frekuensi terbang hingga sembilan kali sehari, setara dengan Singapore Airlines (SQ).
"Tantangan utama justru terletak pada bagaimana airline dari Indonesia, khususnya Garuda Indonesia, dapat memanfaatkan peluang yang tersedia secara optimal," kata dia dalam keterangan yang diterima IDN Times, Kamis (5/3/2026).
1. Kalah di armada dan model bisnis

Faik menilai keterbatasan jumlah armada yang dioperasikan saat ini menjadi kendala utama Garuda Indonesia untuk meningkatkan frekuensi rute internasional, termasuk ke Singapura.
Meski demikian, dia mengapresiasi langkah Garuda yang melakukan kerja sama codeshare dengan SQ sebagai solusi taktis untuk tetap menjual tiket Jakarta-Singapura PP dengan memanfaatkan kapasitas pesawat mitra.
"Fokus Garuda yang masih dominan pada pasar point-to-point yang membatasi daya saing internasional. Hal ini berbeda dengan Singapore Airlines yang berhasil membangun network traffic internasional," paparnya.
Hal tersebut membuat Changi Airport menjadi hub utama yang mengoneksikan penumpang dari Indonesia ke berbagai destinasi dunia melalui ekosistem terintegrasi.
2. Strategi memperkuat daya saing internasional

IAA merekomendasikan tiga langkah strategis. Pertama, penguatan ekosistem aviasi yang melibatkan maskapai domestik lain, operator bandara di bawah Injourney, pemerintah, hingga mitra logistik dan pariwisata.
"Garuda perlu beralih dari pola point-to-point menuju network traffic model. Salah satu cara adalah dengan memanfaatkan keanggotaan Garuda dalam SkyTeam Alliance," kata Faik.
Langkah tersebut mencakup perluasan jangkauan melalui Codeshare Agreement, Special Prorate Agreement (SPA), hingga pembentukan Joint Venture pada rute internasional strategis guna mengantisipasi keterbatasan kapasitas armada.
Terakhir, Faik menekankan pentingnya pengembangan bandara utama di Indonesia sebagai hub internasional yang kompetitif. Tujuannya agar penumpang domestik terkonsolidasi di hub nasional sebelum terbang ke luar negeri, sekaligus memudahkan akses wisatawan mancanegara ke berbagai wilayah di Indonesia.
"Dengan langkah-langkah tersebut, Garuda Indonesia berpeluang memperkuat daya saing di pasar internasional sekaligus menjadikan Indonesia sebagai hub penerbangan yang lebih berpengaruh di kawasan ASEAN," paparnya.
3. Pernyataan Danantara soal ketimpangan frekuensi

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menyoroti ketimpangan hubungan penerbangan, dalam hal ini resiprokal atau timbal balik antara Garuda Indonesia dan Singapore Airlines.
SQ disebut memiliki frekuensi terbang yang sangat tinggi ke Indonesia, mencapai 6 hingga 8 kali sehari menggunakan pesawat berbadan lebar seperti Airbus A330-300. Sementara itu, Garuda Indonesia hanya melayani rute ke Singapura 1 sampai 2 kali saja per hari.
"Kalau Indonesia ke Singapura, Singapura berarti boleh ke Indonesia, Singapore Airlines-nya. Itu selalu risiprokal dan kali ini Indonesia tertindas nih risiprokalnya," kata Managing Director Stakeholders Management Danantara Rohan Hafas dalam diskusi dengan media di Wisma Danantara, Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Rohan menyebut rute dari Indonesia merupakan penyumbang pendapatan terbesar bagi Singapore Airlines. Dia memperkirakan sekitar 65 persen income maskapai tersebut berasal dari penerbangan intensif dengan rute Indonesia-Singapura.
"Selama ini kurang adil seperti yang tadi saya udah kasih prologue, SQ 8 kali, Garuda 2 kali ke Singapura," tuturnya.

















.jpg)