Kinerja PTP Nonpetikemas Tumbuh, Topang Arus Logistik Nasional

- PTP Nonpetikemas mencatat throughput 12,84 juta ton pada kuartal I-2026, dengan curah kering mendominasi dan segmen curah cair tumbuh 16 persen berkat peningkatan aktivitas ekspor CPO.
- Kinerja positif didukung cabang pelabuhan seperti Tanjung Priok, Teluk Bayur, Pontianak Kijing, dan Bengkulu yang melampaui target di berbagai segmen kargo utama.
- Transformasi digital lewat sistem PTOS-M serta inovasi operasional dan proyek strategis seperti Terminal Kijing menjadi pendorong efisiensi, keberlanjutan, dan daya saing layanan logistik nasional.
Jakarta, IDN Times – Kinerja operasional PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) menunjukkan tren positif sepanjang awal 2026. Perusahaan yang merupakan bagian dari Pelindo Group ini terus memperkuat perannya sebagai operator terminal multipurpose melalui peningkatan layanan, transformasi digital, hingga optimalisasi operasional di berbagai pelabuhan.
Sebagai operator terminal multipurpose pertama di Indonesia, PTP Nonpetikemas menangani beragam jenis kargo mulai dari curah kering, curah cair, hingga general cargo. Saat ini, operasionalnya tersebar di 11 cabang pelabuhan yang menjadi simpul penting dalam rantai pasok nasional.
Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha sekaligus Plt Direktur Operasi PTP Nonpetikemas, Dwi Rahmat Toto menegaskan, transformasi yang dilakukan menjadi kunci peningkatan daya saing layanan.
“PTP Nonpetikemas terus berupaya menghadirkan layanan yang lebih efisien, terintegrasi, dan adaptif terhadap kebutuhan pelanggan. Transformasi digital dan penguatan operasional menjadi kunci dalam mendukung kelancaran rantai pasok nasional,” ujar Toto di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (29/4/2026).
1. Kinerja throughput capai 12,84 juta ton pada kuartal I-2026

Kinerja PTP Nonpetikemas pada kuartal I-2026 mencatat total throughput nonpetikemas sebesar 12,84 juta ton. Angka ini mencerminkan performa yang tetap terjaga di tengah dinamika arus logistik nasional. Dari total tersebut, curah kering masih mendominasi dengan porsi 46 persen, diikuti curah cair 25 persen, general cargo 24 persen, dan bag cargo sebesar 5 persen.
Segmen curah cair mencatat pertumbuhan paling signifikan, yakni mencapai 3,09 juta ton atau naik 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,67 juta ton. Capaian ini bahkan melampaui 23 persen dari target 2026 sebesar 2,52 juta ton, didorong oleh aktivitas ekspor CPO di Teluk Bayur, bongkar muat di Pontianak, serta peningkatan aktivitas komoditas di Tanjung Priok.
Sementara itu, curah kering sebagai backbone operasional mencatat realisasi 5,76 juta ton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dan sejalan dengan target. Di sisi lain, general cargo mencapai 2,92 juta ton, sedangkan bag cargo tercatat 656 ribu ton atau turun tipis 3,3 persen secara tahunan.
2. Performa cabang pelabuhan dorong kontribusi kinerja

Kontribusi kinerja juga ditopang oleh performa sejumlah cabang pelabuhan. Pada segmen general cargo, Cabang Tanjung Priok menjadi kontributor utama dengan realisasi 4.024 atau sekitar 130 persen dari target 3.097. Cabang Banten dan Tanjung Pandan turut mencatat capaian positif masing-masing 1.752 dan 1.627.
Untuk curah cair, Cabang Teluk Bayur memimpin dengan realisasi 5.287 atau sekitar 108 persen dari target, disusul kinerja Cabang Pontianak Kijing yang mencapai 3.550 atau sekitar 138 persen dari target.
Sementara itu, pada segmen curah kering, Cabang Bengkulu mencatat kinerja menonjol dengan realisasi 6.902 atau sekitar 170 persen dari target, sekaligus menempati peringkat ketiga di tingkat grup.
3. Transformasi digital dan inovasi jadi penggerak pertumbuhan

Pertumbuhan kinerja PTP Nonpetikemas tidak lepas dari transformasi digital yang dijalankan perusahaan melalui implementasi PTOS-M. Sistem ini mengintegrasikan layanan terminal secara end-to-end, mulai dari perencanaan hingga pembayaran secara host-to-host dengan perbankan dan sistem kepabeanan.
Selain itu, perusahaan juga mengembangkan berbagai inovasi operasional, termasuk penggunaan portable drop tank dengan submersible pump untuk meningkatkan efisiensi bongkar muat sekaligus menekan biaya dan dampak lingkungan.
Pengembangan Terminal Kijing di Kalimantan Barat juga menjadi salah satu proyek strategis yang mendorong pertumbuhan, terutama dalam mendukung aktivitas ekspor-impor dan hilirisasi mineral. Di sisi lain, layanan shorebase dikembangkan di Lhokseumawe, Tanjung Priok, Cirebon, dan Banyuwangi guna mendukung industri minyak dan gas.
Komitmen terhadap keberlanjutan juga diwujudkan melalui berbagai inisiatif ESG, seperti elektrifikasi alat bongkar muat, penggunaan overhead crane, hingga lampu LED untuk efisiensi energi.
SM Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas, Fiona Sari Utami menyampaikan, perusahaan juga terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Sebagai pelaku bisnis layanan kepelabuhanan, PTP Nonpetikemas tidak hanya fokus pada kinerja operasional, tetapi juga berkomitmen menjalankan program TJSL yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar, selain itu perusahaan juga terus memperkuat komunikasi dan kolaborasi dengan stakeholder, termasuk media, sebagai bagian dari transparansi dan penguatan reputasi perusahaan,” tutur Fiona.
Dengan berbagai capaian dan inovasi tersebut, PTP Nonpetikemas optimistis dapat terus memperkuat perannya sebagai mitra logistik andal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional serta meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

















