Pemerintah Atur Skema Impor Minyak Rusia Bisa via Pertamina dan BLU

- Pemerintah menetapkan Perpres Nomor 26 Tahun 2026 yang mengatur mekanisme impor minyak dari Rusia melalui Pertamina dan BLU agar prosesnya legal dan transparan.
- Presiden Prabowo berhasil mengamankan komitmen pasokan hingga 150 juta barel minyak dari Rusia setelah pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin di Moskow.
- Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari, sementara konflik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi rantai pasok dan harga energi global.
Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan pemerintah telah menyiapkan mekanisme impor minyak dari Rusia melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2026. Aturan tersebut membuka skema impor yang dapat dilakukan oleh badan usaha milik negara (BUMN), yakni PT Pertamina (Persero), maupun Badan Layanan Umum (BLU).
"Jadi untuk mekanismenya, ini kita sudah ada Perpres 26 Tahun 2026, di mana untuk impor itu bisa dilakukan langsung oleh teman-teman yang dari BUMN, dalam hal ini Pertamina, dan juga bisa dilakukan oleh BLU," katanya di Kompleks DPR RI, Jakarta, Senin (25/5/2026).
1. Perpres atur mekanisme impor minyak

Perpres terbaru disiapkan untuk mengatur mekanisme impor minyak agar tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari. Menurut dia, Indonesia selama ini mengimpor minyak dari berbagai wilayah seperti Timur Tengah, Afrika, Amerika, hingga Rusia.
Perbedaan sumber pasokan itu membuat pemerintah perlu mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari kualitas minyak, lokasi pengiriman, waktu distribusi, hingga fluktuasi harga minyak dunia.
"Jadi pada saat ini jangan menjadi permasalahan hukum di belakang hari, itu juga diatur dalam Perpres," kata mantan Wakil Menteri Investasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) itu.
2. Prabowo amankan pasokan 150 juta barel minyak Rusia

Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah memperoleh komitmen pasokan minyak dari Rusia hingga 150 juta barel untuk tahun ini.
Menurut Hashim, komitmen tersebut diperoleh setelah Prabowo bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, di Moskow selama sekitar tiga jam. Tambahan pasokan itu akan membantu menjaga keamanan pasokan minyak mentah dan produk minyak Indonesia sepanjang 2026.
"Indonesia akan memperoleh pasokan hingga 150 juta barel untuk tahun ini. Hal itu akan membuat pasokan minyak mentah dan produk minyak Indonesia aman dan terjamin sepanjang tahun ini," kata Hashim di ICE BSD, Rabu (20/5/2026).
3. Indonesia masih impor 1 juta barel minyak per hari

Hashim juga mengatakan konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel berpotensi memengaruhi banyak negara, termasuk Indonesia. Sebab, Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak mentah dan produk minyak setiap hari.
Menurut dia, konflik di kawasan Timur Tengah berisiko mengganggu rantai pasok minyak global sekaligus memicu kenaikan harga minyak dunia. Kawasan tersebut merupakan salah satu jalur utama perdagangan energi internasional.
Hashim menilai hubungan diplomatik Indonesia dengan berbagai negara menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan pasokan energi nasional. Karena itu, Indonesia disebut memperoleh tambahan komitmen pasokan minyak dari Rusia.
"Karena itu, kita beruntung berkat politik luar negeri kita yang menjalin persahabatan dengan semua negara dan tidak memiliki musuh," kata Hashim.



















