Indeks Keyakinan Konsumen Mulai Melemah, BI: Masih di Zona Optimistis

- Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026 turun ke 120,9 dari 123,0, menandakan pelemahan meski masih di zona optimistis menurut survei Bank Indonesia.
- Optimisme tertinggi tercatat pada responden berpengeluaran di atas Rp5 juta dan usia 20–30 tahun, dengan persepsi ekonomi saat ini tetap kuat meski beberapa indeks menurun.
- Ekspektasi enam bulan mendatang menunjukkan peningkatan tipis pada lapangan kerja dan kegiatan usaha, sementara porsi pendapatan untuk konsumsi stabil di kisaran 72 persen.
Jakarta, IDN Timss - Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Mei 2026 menunjukkan pelemahan dengan turun ke level 120,9 dari 123,0 pada April 2026. Meski masih berada pada zona optimistis, penurunan tersebut mengindikasikan mulai melambatnya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini.
"Survei Konsumen Bank Indonesia pada Mei 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat. Hal ini tercermin dari IKK Mei 2026 yang berada pada level optimistis (indeks >100) sebesar 120,9," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangannya, Rabu (10/6/2026).
1. Keyakinan konsumen tertinggi terjadi pada responden dengan pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan

Denny menjelaskan, optimisme konsumen didukung oleh Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang meningkat tipis menjadi 129,7 dari 129,6 pada bulan sebelumnya. Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) masih berada di zona optimistis sebesar 112,2, meski turun dari 116,5 pada April 2026.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, keyakinan konsumen tetap berada pada level optimistis di seluruh kelompok. IKK tertinggi tercatat pada responden dengan pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan, yakni sebesar 124,6.
"Dari sisi usia, optimisme juga terlihat pada seluruh kelompok umur, dengan IKK tertinggi berada pada kelompok usia 20-30 tahun sebesar 129,1," tulis BI.
2. Persepsi konsumen terhadap kondisi saat ini masih kuat

Persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini juga tetap kuat, tercermin dari IKE yang berada pada level 112,2. Meski demikian, seluruh komponen penyusun IKE mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
Pada Mei 2026, Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) tercatat sebesar 123,2, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) sebesar 105,0, dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) sebesar 108,3. Ketiganya lebih rendah dibandingkan April 2026 yang masing-masing sebesar 128,1, 108,8, dan 112,6.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, persepsi terhadap penghasilan saat ini tetap kuat pada seluruh kelompok, dengan indeks tertinggi sebesar 129,7 pada kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta. Dari sisi usia, indeks tertinggi juga tercatat pada kelompok usia 20-30 tahun, meski turun menjadi 132,1.
3. Persepsi ketersediaan lapangan pekerjaan masih tinggi di level sarjana

Di sisi lain, Denny menjelaskan persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja masih berada pada level optimistis di seluruh jenjang pendidikan. Indeks tertinggi tercatat pada responden berpendidikan sarjana sebesar 117,3.
Berdasarkan kelompok usia, IKLK berada pada zona optimistis pada sebagian besar kelompok umur. Namun, kelompok usia 41-60 tahun masih mencatatkan persepsi pesimistis terhadap kondisi lapangan kerja.
Adapun Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) tetap berada pada level optimistis di seluruh kelompok pengeluaran. Indeks tertinggi tercatat pada kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta sebesar 113,2, meski mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Dari sisi usia, indeks tertinggi berada pada kelompok usia 20-30 tahun sebesar 117,1.
4. Indeks ekspektasi konsumen 6 bulan mendatang diprediksi naik

Di sisi lain, ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan mendatang diperkirakan sedikit membaik. Hal ini tercermin dari IEK Mei 2026 yang naik tipis menjadi 129,7 dari 129,6 pada April 2026.
Peningkatan tersebut terutama didorong oleh membaiknya ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja dan kegiatan usaha. Indeks ekspektasi lapangan kerja tercatat sebesar 128,1, naik dari 127,7 pada bulan sebelumnya. Sementara indeks ekspektasi kegiatan usaha meningkat menjadi 124,5 dari 124,1.
Sebaliknya, ekspektasi penghasilan masih berada pada level optimistis sebesar 136,5, meski sedikit menurun dibandingkan April 2026 yang sebesar 136,9.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, ekspektasi penghasilan enam bulan ke depan tetap optimistis di seluruh kelompok, dengan indeks tertinggi sebesar 138,2 pada kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta.
Dari sisi usia, kelompok usia 20-30 tahun, 31-40 tahun, dan 41-50 tahun mencatat peningkatan ekspektasi penghasilan masing-masing menjadi 142,6, 140,4, dan 135,9. Sementara kelompok usia lainnya mengalami penurunan.
5. Ekspektasi ketersediaan lapangan kerja meningkat pada kelompok usia 31-40

Perkiraan konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja enam bulan mendatang juga tetap optimistis pada seluruh tingkat pendidikan. Mayoritas kelompok pendidikan mencatat peningkatan indeks dibandingkan bulan sebelumnya.
Berdasarkan kelompok usia, ekspektasi ketersediaan lapangan kerja meningkat pada kelompok usia 31-40 tahun, 41-50 tahun, dan di atas 60 tahun dengan indeks masing-masing sebesar 129,6, 126,7, dan 119,3.
Sementara itu, ekspektasi terhadap perkembangan kegiatan usaha meningkat pada kelompok pengeluaran Rp1 juta-Rp2 juta, Rp2,1 juta-Rp3 juta, serta di atas Rp5 juta dengan indeks masing-masing sebesar 113,2, 119,1, dan 130,4. Mayoritas kelompok usia juga mencatat peningkatan optimisme terhadap prospek kegiatan usaha.
Survei Konsumen BI juga menunjukkan rata-rata proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) mencapai 72,3 persen pada Mei 2026, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 72,1 persen.
Di sisi lain, proporsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan atau utang (debt installment to income ratio) meningkat menjadi 10,2 persen dari 9,7 persen pada April 2026.
Sebaliknya, proporsi pendapatan yang disimpan (saving to income ratio) turun menjadi 17,5 persen dari 18,2 persen pada bulan sebelumnya.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, porsi konsumsi terhadap pendapatan meningkat pada kelompok pengeluaran Rp1 juta-Rp2 juta menjadi 76,7 persen dan kelompok Rp3,1 juta-Rp4 juta menjadi 72,2 persen. Sementara pada kelompok pengeluaran lainnya cenderung menurun.
Adapun porsi pendapatan untuk pembayaran cicilan meningkat pada kelompok pengeluaran Rp4,1 juta-Rp5 juta menjadi 10,7 persen dan kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta menjadi 12,8 persen.










![[QUIZ] Dari MBTI, Ini Ide Bisnis yang Cocok untuk Si Ekstrovert](https://image.idntimes.com/post/20240320/tim-mossholder-zhffvw2u93u-unsplash-90788451079a40c7884ed313ca93232a.jpg)






