Stok Plastik Diramal Habis Mei-Juni, Industri Makanan-Minuman Terancam

- Industri makanan dan minuman terancam karena harga plastik naik 30–60 persen dan stok bahan baku diprediksi habis pada Mei–Juni akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah.
- Sejumlah produsen mulai menyesuaikan harga jual, beralih ke kemasan kaca, serta mendorong peningkatan kapasitas daur ulang plastik untuk mengatasi keterbatasan pasokan bahan baku.
- Pemerintah mencari alternatif impor nafta dari India, Amerika Serikat, dan Afrika setelah pasokan dari Timur Tengah terganggu, yang menyebabkan lonjakan biaya produksi plastik secara global.
Jakarta, IDN Times – Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPPMI), Adhi S. Lukman, menyatakan bahwa industri makanan, minuman, dan sektor lain yang bergantung pada plastik menghadapi situasi sulit akibat kenaikan harga plastik yang terdampak gejolak geopolitik di Timur Tengah.
Bahkan, beberapa pemasok sudah memperingatkan bahwa stok bahan baku plastik diperkirakan akan habis pada akhir Mei hingga Juni.
"Selain harga yang naik, ketersediaan bahan baku juga terbatas. Itu dua hal utama yang kami hadapi. Beberapa pemasok bahkan menyampaikan bahwa stok bahan baku plastik kemungkinan sudah habis pada Mei atau Juni," tegasnya saat ditemui di Kemenko Perekonomian, Senin (13/4/2026).
1. Rata-rata kenaikan harga plastik sentuh 30-60 persen

Kenaikan harga plastik yang melambung tinggi menimbulkan tekanan berat bagi industri makanan dan minuman. Dalam hitungannya, kenaikan harga plastik mencapai rata-rata 30–60 persen, bahkan ada yang hampir 100 persen. Kenaikan ini sangat terasa untuk kemasan sederhana, seperti plastik untuk bakso atau frozen meat, sementara produsen tidak bisa menaikkan harga jual setinggi itu.
Adhi menekankan, kontribusi kemasan terhadap harga pokok produk sekitar 20–25 persen. Artinya, kenaikan 100 persen pada harga plastik bisa menambah harga pokok produk hingga 25 persen. Hal ini berpotensi membuat harga jual menjadi tinggi dan menyulitkan penjualan.
"Katakan kontribusi kemasan plastik terhadap harga pokok itu sekitar 25 persen saja ya. Kalau itu naik 100 persen kan berarti ke harga pokok tinggi sekali pengaruhnya, sekitar 25 persen. Dan ini akan menyebabkan industri mengalami kesulitan untuk menjual, karena produknya pasti harganya mahal," ungkapnya.
2. Sebagian industri makanan minuman mulai sesuaikan harga jual produk dan alihkan produk ke kaca

Meski demikian, ia tak menampik sebagian industri telah mulai menyesuaikan harga jual, namun kenaikan tidak bisa sepenuhnya diteruskan ke konsumen. Akibatnya, margin keuntungan perusahaan menurun dan beberapa produk berpotensi dijual dengan harga yang kurang kompetitif.
Industri hulu plastik dalam negeri juga terdampak karena produksi menurun hingga 70 persen, sebagian disebabkan keterbatasan impor komponen utama.
“Kalau dalam negeri tidak tersedia, mau tidak mau kita harus import,” tambahnya.
Sebagai alternatif, beberapa produsen beralih ke kemasan kaca, sementara industri daur ulang plastik (recycle) diharapkan bisa meningkatkan kapasitas untuk menghasilkan plastik food grade. Hal ini bisa menjadi solusi jangka menengah untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman tanpa tergantung pada impor.
Krisis ini mencerminkan tantangan kompleks yang dihadapi industri manufaktur, di mana harga bahan baku global dan gangguan rantai pasok memengaruhi produksi dan daya beli masyarakat. Para pelaku industri berharap situasi segera membaik, terutama jika konflik global yang memengaruhi pasokan bahan baku bisa cepat terselesaikan.
3. RI bergantung impor produk Nafta dari Timur Tengah sebagai bahan baku plastik

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyampaikan, selama ini Indonesia sangat bergantung pada pasokan nafta dari Timur Tengah. Namun, konflik geopolitik di kawasan tersebut membuat distribusi terganggu dan memicu kenaikan harga.
Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah telah mengalihkan sumber impor ke negara lain, seperti India, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Afrika. Proses impor saat ini sudah berjalan, meski membutuhkan waktu untuk terrealisasi di dalam negeri.
"Jadi pada prinsipnya kita cari solusi negara lain yang menyuplai bahan baku, dan kita juga koordinasi dengan teman-teman di perwakilan supaya membantu juga mencarikan alternatif dari negara lain," tegasnya saat ditemui di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (13/4/2026).
Nafta merupakan bahan baku utama dalam industri plastik. Bahan ini berasal dari hasil olahan minyak bumi yang kemudian diproses di pabrik petrokimia untuk menghasilkan zat dasar seperti etilena dan propilena. Selanjutnya, zat tersebut diolah menjadi berbagai produk plastik, seperti kemasan, botol, hingga bahan baku industri.
Artinya, jika harga atau pasokan nafta terganggu, biaya produksi plastik akan ikut naik dan berdampak pada harga barang di pasaran. Gangguan tersebut tidak hanya berasal dari sisi pasokan, tetapi juga dari distribusi. Jalur pengapalan yang terdampak konflik menyebabkan waktu pengiriman lebih lama dan biaya logistik meningkat, sehingga menekan harga di tingkat produsen hingga pedagang.
Di sisi lain, kondisi global juga memperburuk situasi. Sejumlah produsen plastik di negara seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, dan Singapura dilaporkan mengalami kendala produksi hingga force majeure akibat keterbatasan bahan baku.
"Produsen plastiknya di beberapa negara seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, Singapura itu kan banyak yang force majeure ya. Jadi memang ini krisis global terkait dengan keterbatasan bahan baku," tegasnya.

















