Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Inflasi Tahunan Juli 2026 Melandai Jadi 2,28 Persen
ilustrasi inflasi (unsplash.com/@joa70)
  • Inflasi tahunan Juli 2026 melandai menjadi 2,28 persen dari 3,34 persen pada Juni, seiring IHK naik dari 108,60 pada Juli 2025 menjadi 111,73.
  • Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil terbesar 0,87 persen, sementara transportasi menyumbang 0,62 persen akibat kenaikan bensin, angkutan udara, dan kendaraan.
  • Seluruh 38 provinsi mengalami inflasi; tertinggi Papua Barat 5,47 persen dan terendah Papua Selatan 1,46 persen. Inflasi inti tercatat 2,76 persen dengan andil 1,76 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan atau year on year (YoY) pada Juli 2026 sebesar 2,28 persen, turun dari 3,34 persen pada Juni 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, inflasi tahunan tersebut sejalan dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,60 pada Juli 2025 menjadi 111,73 pada Juli 2026.

"Pada Juli 2026 terjadi inflasi tahunan sebesar 2,28 persem atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 108,60 pada Juli 2025 menjadi 111,73 pada Juli 2026," ujar Ateng dalam konferensi pers BPS, Senin (3/8/2026).

1. Rincian komoditas penyumbang inflasi Juli

ilustrasi inflasi (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)

Lebih rinci, secara kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama ditopang kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 2,97 persen dengan andil 0,87 persen terhadap inflasi nasional.

Komoditas yang paling besar menyumbang inflasi pada kelompok tersebut antara lain ikan segar, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin, daging ayam ras, cabai merah, daging sapi, dan sigaret kretek tangan.

Selain itu, kelompok transportasi mencatat inflasi 5,12 persen dengan andil 0,62 persen, terutama dipicu kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, mobil, pelumas, oli mesin, dan sepeda motor.

2. Sebanyak 38 provinsi alami inflasi, terbesar Papua Barat

Ilustrasi Inflasi (unsplash/rc.xyz nft gallery)

Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 9,04 persen dengan andil 0,61 persen, terutama didorong kenaikan harga emas dan perhiasan.

Dari sisi wilayah, seluruh 38 provinsi mengalami inflasi tahunan. Inflasi tertinggi tercatat di Papua Barat sebesar 5,47 persen, sedangkan yang terendah terjadi di Papua Selatan sebesar 1,46 persen.

Berdasarkan komponen pembentuk inflasi, komponen inti mencatat inflasi 2,76 persen dengan andil terbesar, yakni 1,76 persen.

"Komoditas penyumbang utama berasal dari emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, dan biaya akademi atau perguruan tinggi," jelasnya.

3. Komponen harga yang diatur pemerintah alami inflasi 3,58 persen

Ilustrasi inflasi (freepik.com/rawpixel.com)

Adapun komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 3,58 persen dengan andil 0,70 persen.

"Komoditas yang dominan memberikan andil adalah bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin, dan bahan bakar rumah tangga," kata Ateng.

Sementara itu, komponen harga bergejolak mengalami inflasi 2,52 persen dengan andil 0,42 persen, terutama dipengaruhi kenaikan harga beras, daging ayam ras, cabai merah, dan daging sapi.

Editorial Team

Related Article