Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meluncurkan Nusantara Rising. (IDN Times/Trio Hamdani)
Saras mengatakan pembangunan ekonomi membutuhkan ekosistem hexahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, asosiasi, akademisi, komunitas, dan media, serta didukung pembiayaan, teknologi, dan jejaring inovasi.
Dalam ekosistem tersebut, pemerintah berperan dalam arah kebijakan dan diplomasi. Kementerian Kebudayaan menjaga akar, nilai, dan kepribadian bangsa, sedangkan Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong penciptaan nilai, akses pasar, komersialisasi IP, dan pertumbuhan industri kreatif.
Akademisi, komunitas, dan media berperan dalam memperkuat riset, akar rumput, dan narasi publik. Sementara dunia usaha dan asosiasi membantu mengubah ide menjadi produk, karya menjadi industri, IP menjadi aset, dan kreativitas menjadi nilai ekonomi.
Saras mengatakan Kadin berada pada posisi untuk menghimpun dan menghubungkan ekosistem soft power dengan pasar, investasi, pembiayaan, distribusi, teknologi, dan skala industri.
Kadin tidak dimaksudkan untuk menggantikan pemerintah, melainkan menjadi jembatan antara kebijakan dan industri, kreator dan pembiayaan, serta IP lokal hingga peluang global. Karena itu, Kadin menginisiasi pembentukan Komite Soft Power Indonesia dengan dukungan Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Ekonomi Kreatif.
"Komite Soft Power Indonesia kami bayangkan sebagai ruang kolaborasi lintas sektor. Sebuah wadah untuk menghubungkan semua pemangku kepentingan dalam ekosistem soft power. Tujuannya bukan untuk menambah birokrasi. Tujuannya adalah mempercepat orkestrasi," ujar Saras.