KEK Industropolis Batang Siap Bangun Dryport Berbasis Rel

- KEK Industropolis Batang menandatangani MoU pembangunan dryport berbasis rel bersama BUMN dan pemerintah daerah untuk memperkuat konektivitas logistik nasional serta menekan biaya distribusi barang.
- Dryport seluas 30 hektare ini berkapasitas awal 600–650 ribu TEUs per tahun dan berpotensi menjadi simpul logistik darat terbesar yang mendorong investasi serta pertumbuhan ekonomi Batang.
- Pembangunan dryport dijadwalkan mulai Juni 2026 hingga 2028, diharapkan menciptakan lapangan kerja baru dan menjadikan KEK Industropolis Batang sebagai hub logistik terintegrasi berskala global.
Jakarta, IDN Times – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang semakin serius memposisikan diri sebagai pusat industri sekaligus logistik nasional. Terbaru, pengelola kawasan menandatangani nota kesepahaman (MoU) pengembangan dryport berbasis rel yang digadang-gadang jadi game changer sistem distribusi barang di Indonesia.
Kerja sama ini melibatkan sejumlah BUMN dan pemerintah daerah, seperti PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Pelabuhan Indonesia (Persero), hingga pengelola kawasan industri Batang.
Langkah ini dinilai strategis karena mampu memangkas biaya logistik sekaligus meningkatkan konektivitas industri ke pasar global.
"Penguatan konektivitas berbasis rel dan integrasi dengan pelabuhan menjadi kunci untuk menurunkan biaya logistik nasional. Inisiatif seperti di Industropolis Batang ini adalah contoh konkret bagaimana kolaborasi dapat menghadirkan solusi nyata bagi efisiensi dan daya saing ekonomi Indonesia,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Republik Indonesia, Ali Murtopo Simbolon, dikutip Selasa (21/4/2026).
1. Dryport berbasis rel jadi solusi mahalnya logistik

Pengembangan dryport ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Fasilitas tersebut akan menjadi gerbang ekspor-impor sekaligus pusat konsolidasi logistik regional.
Dengan koneksi langsung ke jalur kereta api dan pelabuhan, distribusi barang tak lagi bergantung pada truk berbasis jalan. Dampaknya, waktu tempuh dan biaya logistik bisa ditekan secara signifikan.
Pemerintah pun menilai integrasi rel dan pelabuhan jadi kunci menurunkan biaya logistik nasional yang selama ini masih tinggi.
"KAI siap mendukung penuh pengembangan dryport ini melalui penyediaan jaringan dan layanan angkutan barang berbasis rel yang andal, efisien, dan berkelanjutan. Integrasi antara kawasan industri dan jaringan kereta api akan memberikan nilai tambah signifikan bagi para pelaku industri,” tutur Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin.
2. Kapasitas besar jadi simpul logistik strategis nasional

Dryport ini akan dibangun di atas lahan sekitar 30 hektare dengan kapasitas awal mencapai 600 ribu–650 ribu TEUs per tahun. Ke depan, kapasitasnya bahkan bisa meningkat hingga 1 juta TEUs, mengikuti pertumbuhan industri di kawasan Batang.
Dengan skala tersebut, fasilitas ini berpotensi menjadi salah satu simpul logistik darat terbesar di Indonesia, sekaligus memperkuat konektivitas Jawa Tengah dengan pelabuhan utama dan jaringan perdagangan global.
"Pengembangan dryport ini tidak hanya meningkatkan daya tarik investasi di Batang, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Kami optimistis, kehadiran infrastruktur logistik ini akan memberikan multiplier effect yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Bupati Batang, M Faiz Kurniawan.
3. Proyek dryport dimulai Juni 2026

Proyek ini ditargetkan mulai groundbreaking pada Juni 2026 dan akan dikembangkan secara bertahap hingga 2028 sebelum beroperasi penuh. Tak hanya berdampak pada industri, keberadaan dryport juga diyakini membuka peluang ekonomi baru di daerah. Mulai dari peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, hingga efek berganda (multiplier effect) bagi masyarakat sekitar.
Secara keseluruhan, pengembangan dryport berbasis rel ini mempertegas ambisi KEK Industropolis Batang untuk naik kelas, bukan hanya sebagai kawasan manufaktur, tetapi juga hub logistik terintegrasi yang siap bersaing di tingkat global.
"Kami melihat kebutuhan akan sistem logistik yang terintegrasi sebagai faktor kunci dalam menarik investasi berkualitas. Dengan adanya dryport, KEK Industropolis Batang tidak hanya menjadi kawasan industri, tetapi juga pusat logistik terintegrasi yang siap bersaing di tingkat global,” kata Direktur Utama KEK Industropolis Batang, Ngurah Wirawan.


















