Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Daftar 8 Barang yang Naik Harganya Imbas Perang AS-Israel vs Iran

Daftar 8 Barang yang Naik Harganya Imbas Perang AS-Israel vs Iran
ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)
Intinya Sih
  • Perang AS-Israel vs Iran sejak Februari 2026 memicu gangguan logistik global, menaikkan harga energi dan bahan baku impor yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi Indonesia.
  • Sejumlah komoditas di Indonesia seperti plastik, BBM nonsubsidi, LPG, avtur, hingga kedelai mengalami lonjakan harga signifikan akibat kenaikan biaya produksi dan distribusi dari Timur Tengah.
  • Dampak berantai terlihat pada sektor industri dan konsumsi; mulai dari naiknya harga produk kemasan, pakaian, minyak goreng curah, hingga tiket pesawat domestik yang disesuaikan pemerintah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Perang yang berkecamuk antara Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran sejak akhir Februari 2026 masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Pelan tapi pasti, perang membawa banyak dampak, tidak hanya bagi negara-negara terlibat konflik, melainkan juga negara-negara lain yang bahkan ribuan kilometer jauhnya dari Timur Tengah.

Indonesia contohnya, sejumlah barang telah mengalami kenaikan harga imbas perang tersebut. Banyak barang yang bahan bakunya bergantung pada impor dan distribusinya kini terganggu akibat perang dan memicu ditutupnya salah satu akses distribusi komoditas dari Timur Tengah, Selat Hormuz.

"Konflik ini terutama menambah tekanan biaya, ketidakpastian perdagangan, dan gangguan logistik. Tensi geopolitik di Timur Tengah cenderung melemahkan perdagangan global, menaikkan harga energi, memperbesar tagihan impor, dan menekan stabilitas eksternal Indonesia," tutur Ekonom Permata Bank, Josua Pardede kepada IDN Times, dikutip Selasa (21/4/2026).

Berikut ini sejumlah barang yang sejauh ini terpantau mengalami kenaikan akibat perang di Timur Tengah:

1. Plastik

WhatsApp Image 2026-04-21 at 2.42.20 PM (1).jpeg
Kenaikan harga plastik berdampak pada pedagang. (IDN Times/Prayugo Utomo)

Plastik jadi barang yang naik harganya akibat perang. Kehadiran plastik sangat penting bagi masyarakar, terutama ketika berbelanja di pasar. Kenaikan harganya pun membuat pedagang meradang lantaran harus melakukan penyesuaian dalam bisnisnya.

Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Reynaldi Sarijowan, mengatakan, kenaikan harga plastik sejatinya telah terjadi sejak pekan kedua bulan puasa.

"Setiap pekannya sejak pekan kedua puasa itu bervariasi, ada yang 500 perak, ada yang 700 perak dan melihat situasi hari ini memang hampir seluruh jenis plastik yang PE dan PP ini mengalami lonjakan mencapai 50 persen, bahkan ada yang 100 persen," kata Reynaldi kepada IDN Times, Senin (6/4/2026).

Reynaldi mengatakan, kenaikan harga plastik kresek terjadi dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per pak. Lalu, plastik jenis lainnya naik dari Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu per pak. Kenaikan terjadi lantaran industri plastik Indonesia masih sangat bergantung dengan bahan baku yang impor dari negara lain.

Oleh karena itu, Reynaldi mendesak pemerintah agar tidak membiarkan kondisi tersebut terjadi secara berkepanjangan. Caranya adalah dengan mulai mengganti pasokan bahan baku dari luar Timur Tengah.

"Perlu mengganti pasokan di luar dari Timur Tengah, pasokan-pasokan importasinya karena kita masih ketergantungan impor bahan baku plastik. Tentu ini akan berpengaruh sekali dan bahkan bisa multiplier effect-nya luar biasa tidak hanya terjadi di komunitas pangan saja, kosmetik, otomotif ini juga akan berpengaruh," kata dia.

Pelaku usaha pun tidak ketinggalan mengeluhkan naiknya harga plastik yang berimbas pada kemasan produk. PT Mega Global Food Industry (Kokola Group), produsen Fast Moving Consumer Goods (FMCG) biskuit dan wafer asal Indonesia mengakui bahan kemasan yang digunakan pihaknya mengalami rata-rata kenaikan 40 hingga 45 persen.

Direktur Mega Global Food Industry, Richard Cahyadi menyatakan, hal tersebut memaksa pihaknya untuk memiliki pembiayaan kuat karena banyak supplier bahan plastik meminta pembayaran di depan.

"Supply chain-nya sangat limited gitu. Dari ujung supply bahan kemasan plastiknya itu semua minta, karena uncertain ya jadi kita bayar di depan, kita bayar cash. Nah kita harus punya kekuatan funding financial yang kuat untuk kemasan itu," ujar Richard di pabrik Kokola Group, Gresik, Jawa Timur, Jumat (17/4/2026).

Guna mengimbangi kenaikan harga bahan plastik untuk kemasan, Kokola Group pun ikut menaikkan harga produk-produk yang dijualnya. Richard menyampaikan, kenaikan harga itu mulai berlaku per 15 April 2026.

"Jadi kenaikannya dari 5 sampai 10 persen. Kita gak bisa adjust di atas itu," kata dia.

Sebagai gantinya, Richard melakukan efisiensi di sisi produksinya. Contohnya adalah penggunaan kemasan alternatif dengan model baru.

"Yang kemarin yang ada satu keping dikemas langsung satu kemasan sekarang jadi dua keping satu kemasan. Itu akan cari alternatif seperti itu," kata dia.

2. Minyak goreng curah

Seorang pedagang sembako saat menata minyak goreng curah di lapak Pasar Peterongan Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Seorang pedagang sembako saat menata minyak goreng curah di lapak Pasar Peterongan Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Efek berganda dari kenaikan harga plastik membuat harga minyak goreng curah juga ikut melesat. Masyarakat pun mulai beralih ke Minyakita.

Sebagai informasi, minyak goreng curah umumnya plastik PE (Polyethylene) bening. Harga plastik tersebut mengalami kenaikan hingga 50 persen. Adapun kenaikan harga plastik merupakan dampak dari konflik di Timur Tengah yang mengerek harga bahan baku plastik.

"Jadi para konsumen minyak curah beralih kepada Minyakita. Karena kenaikan harga plastik, kemasan dan lain sebagainya sehingga beralih ke Minyakita,” kata Direktrur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani.

Oleh karena itu, permintaan terhadap Minyakita menjadi naik dan Bulog harus mengajukan kuota tambahan untuk menambah pasokan di pasar.

“Kita sudah mengajukan kuota tambahan Minyakita untuk memenuhi kebutuhan nasional, yaitu khususnya untuk pasar-pasar SP2KP seperti ini, ditambah pasar-pasar tradisional maupun bantuan pangan,” ucap Rizal.

Berdasarkan Info Pangan Jakarta, harga minyak goreng curah kemasan mengalami kenaikan Rp729 per kilonya. Harga minyak goreng curah kemasan per 21 April 2026 tercatat sebesar Rp21.594 per kilogram.

3. Pakaian

ilustrasi pakaian
ilustrasi pakaian (unsplash.com/Bennie Bates)

Industri dan produk tekstil semakin meradang akibat tekanan harga baku imbas konflik Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia ke level 110 dolar Amerika Serikat (AS) per barel.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta menerangkan, harga paraxylene yang merupakan bahan baku utama polyester saat ini sudah berada pada level 1.300 dolar AS per ton atau naik sekitar 40 persen dari dua pekan lalu.

Meski begitu, Redma menjelaskan, kenaikan harga tersebut belum sepenuhnya sampai ke industri hilir. Efek domino yang disebabkan kenaikan harga bahan baku tekstil akan berimbas secara bertahap hingga beberapa pekan ke depan.

"Dalam seminggu kedepan, kenaikan harga ini akan terdistribusi ke produsen kain dan dua minggu berikutnya akan terdistribusi ke sektor pakaian jadi," kata Redma dalam pernyataan resminya, Selasa (7/4/2026).

Selain itu, Redma mengungkapkan bakal terjadi penyesuaian harga di sektor retail. Penyesuaian harga barang jadi retail bisa sampai lebih dari lima persen.

"Diperkirakan kenaikan di sektor retail akan berada di sekitar 10 persen,” katanya.

4. BBM nonsubsidi

WhatsApp Image 2026-02-02 at 9.18.32 AM.jpeg
Pertamax Turbo & Pertamina Dex (dok. Pertamina)

Setelah menahan tidak menaikkan harga BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi pada awal April 2026, PT Pertamina (Persero) akhirnya melakukan penyesuaian harga terhadap BBM nonsubsidi.

Pertamina mengumumkan kenaikan harga BBM nonsubsidi pada Sabtu (18/4/2026). Hal itu tercantum dalam informasi harga BBM di situs resmi MyPertamina.id.

Berikut daftar BBM nonsubsidi yang mengalami kenaikan per 18 April lalu:

  • Pertamax Turbo: Rp19.400 dari semula Rp13.100 (naik Rp6.300 setara dengan 48,09 persen)
  • Dexlite: Rp23.600 dari semula Rp14.200 (naik Rp9.400 setara dengan 66,20 persen)
  • Pertamina Dex: Rp23.900 dari semula Rp14.500 (naik Rp9.400 setara dengan 64,83 persen)

5. LPG nonsubsidi

IMG_20251031_095620_578.jpg
Tabung LPG Bright Gas 5,5 Kg. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Setelah harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi naik, PT Pertamina (Persero) mengumumkan kenaikan harga LPG nonsubsidi 5,5 kilogram (kg) dan 12 kilogram (kg). Dikutip dari situs resmi PT Pertamina Patra Niaga, harga Bright Gas 5,5 kg mengalami kenaikan 18,89 persen, dan harga Bright Gas 12 kg naik 18,75 persen.

Berikut rinciannya:

Harga Bright Gas atau LPG nonsubsidi 5,5 kg:

  • Pulau Jawa, Bali dan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) naik sebesar Rp17 ribu (18,89 persen), dari Rp90 ribu menjadi Rp107 ribu per tabung.
  • Provinsi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung, dan Sulawesi Selatan naik menjadi Rp111 ribu per tabung.
  • Free Trade Zone Batam, naik menjadi Rp100 ribu per tabung.
  • Provinsi Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan Gorontalo naik menjadi Rp114 ribu per tabung.
  • Di Kalimantan Utara (Tarakan) naik menjadi Rp124 ribu per tabung.
  • Di Maluku (Ambon) dan Papua (Jayapura) naik menjadi Rp134 ribu per tabung.

Harga Bright Gas atau LPG nonsubsidi 12 kg:

  • Pulau Jawa, Bali dan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) naik sebesar Rp36 ribu (18,75 persen), dari Rp192 ribu menjadi Rp228 ribu per tabung.
  • Provinsi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung, dan Sulawesi Selatan naik menjadi Rp230 ribu per tabung.
  • Free Trade Zone Batam, naik menjadi Rp208 ribu per tabung.
  • Provinsi Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan Gorontalo naik menjadi Rp238 ribu per tabung.
  • Kalimantan Utara (Tarakan) naik menjadi Rp265 ribu per tabung. Di Maluku (Ambon) dan Papua (Jayapura) naik menjadi Rp285 ribu per tabung.

6. Avtur

Pengisian avtur pesawat terbang di Bandara Ahmad Yani Semarang. (Dok. Pertamina)
Pengisian avtur pesawat terbang di Bandara Ahmad Yani Semarang. (Dok. Pertamina)

Pertamina juga melakukan penyesuaian harga jual bahan bakar pesawat jenis Avtur dan Avgas untuk periode 1 hingga 30 April 2026. Berdasarkan data Pertamina Posting Price, harga Avtur di Bandara Soekarno-Hatta (CGK) mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp13.656,51 per liter pada Maret 2026 menjadi Rp23.551.08 per liter untuk penerbangan domestik.

Penyesuaian serupa juga terjadi di Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) Jakarta yang kini menyentuh angka Rp24.775.38 per liter dari posisi sebelumnya Rp14.880,81 per liter. Seluruh harga yang tercantum tersebut merupakan harga into plane yang sudah termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Kenaikan harga Avtur terpantau merata di puluhan titik DPPU (Depot Pengisian Pesawat Udara) di seluruh Indonesia. Di wilayah Jawa, harga Avtur di Bandara Juanda Surabaya ditetapkan sebesar Rp25.131,54 per liter, sementara di Bandara Ngurah Rai Bali mencapai Rp25.343,01 per liter.

Untuk wilayah Sumatra, harga di Bandara Kualanamu Deli Serdang dipatok Rp24.819,90 per liter. Sedangkan untuk wilayah Indonesia Timur, harga Avtur di Bandara Sentani Jayapura dan Bandara Pattimura Ambon masing-masing berada di angka Rp25.521,09 dan Rp25.632,39 per liter.

7. Tiket pesawat domestik

ilustrasi pesawat
ilustrasi pesawat (pexels.com/Jeffry Surianto)

Harga tiket pesawat juga tidak luput dari kenaikan imbas harga avtur yang juga ikut naik. Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah membatasi kenaikan harga tiket pesawat domestik pada kisaran 9 hingga 13 persen.

"Untuk menjaga kenaikan harga tiket domestik agar tetap terjangkau oleh masyarakat, maka pemerintah menjaga kenaikan harga tiket hanya di kisaran 9 sampai 13 persen," katanya dalam konferensi pers terkait kebijakan transportasi dan BBM di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (6/4/2026).

Kenaikan harga avtur disebut Airlangga sangat memengaruhi struktur biaya operasional maskapai nasional, mengingat komponen bahan bakar berkontribusi sekitar 40 persen terhadap total biaya operasional pesawat.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyesuaikan nilai biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge. Airlangga menyebutkan besaran fuel surcharge kini disesuaikan menjadi 38 persen untuk pesawat jenis jet maupun propeller.

"Sebelumnya jet hanya 10 persen dan propeller 25 persen. Sekarang semuanya disesuaikan menjadi 38 persen, jadi kalau kenaikan dari segi jet sekitar 28 persen dan propeller 13 persen," ujarnya.

8. Kedelai

IMG_20260404_091008.jpg
Kedelai yang dijual di Pasar Peterongan Semarang semakin mahal. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Harga kedelai impor juga alami kenaikan imbas perang di Timur Tengah. Harga kedelai sempat menyentuh Rp11.650 per kilogram (kg). Terakhir, harga kedelai turun ke Rp10.950 per kilogram.

Di tengah ketidakpastian isu global yang berpengaruh pada harga kedelai impor, membuat produsen tempe di Kabupaten Tabanan memutar otak agar harga jual ke konsumen tidak naik, tetapi mereka tidak mengalami kerugian.

Seorang produsen tempe di kawasan pasar obral bekas (OB) Desa Dauh Peken, Kecamatan Tabanan, Mohammad Sabdullah (31), melakukan penyesuaian ketebalan tempe agar produksi tetap jalan dan harga jual tempe tidak naik.

"Agar harga ke konsumen tidak naik, satu langkah kami adalah melakukan penipisan tempe,'' ujarnya Sabdullah, Kamis (9/4/2026).

Sabdullah menghabiskan 90-100 kg kedelai dalam sehari. Sementara untuk kebutuhan plastik, dia memerlukan satu bal untuk 20 hari. Namun, harga plastik juga ikut naik menjadi Rp600 ribu per bal, dari sebelumnya Rp415 ribu.

Meskipun bahan baku dan plastik naik, dia tetap menjualnya dengan harga normal Rp5000 untuk ukuran panjang 20 cm. Namun, dia menipiskan ketebalan tempenya sekitar 0,5 cm.

"Sebelumnya ketebalan tempe itu 2,5 cm. Kami tipiskan jadi 2 cm. Untuk panjangnya tetap sekitar 20 cm," kata Sabdullah.

Sabdullah memilih kedelai impor untuk bahan baku tempe jualannya bukan tanpa alasan. Menurutnya, kedelai impor lebih cocok untuk tempe dibandingkan kedelai lokal. Hal ini karena kedelai lokal teksturnya tetap basah setelah didinginkan.

"Kedelai lokal itu sesudah direbus dan didinginkan, teksturnya tetap basah dan susah kering. Ini menyebabkan tempe jadinya benyek dan tidak tahan lama," kata Sabdullah

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More