Diprotes IMF-World Bank, Purbaya Bantah Jor-joran Kucurkan Subsidi BBM

- Purbaya menegaskan pemerintah tidak berlebihan memberi subsidi BBM dan tetap mengelola kebijakan secara terukur agar anggaran negara tetap aman meski dikritik IMF dan Bank Dunia.
- Kemenkeu disebut sebagai penjaga stabilitas ekonomi dengan menjaga inflasi tetap terkendali melalui kebijakan tidak menaikkan harga BBM bersubsidi di tengah kenaikan harga minyak dunia.
- Pemerintah memastikan ketahanan kas negara dengan dana cadangan sekitar 25 miliar dolar AS, sementara Pertamina menyesuaikan harga tiga jenis BBM nonsubsidi sesuai regulasi ESDM.
Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi saran Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dan Bank Dunia (World Bank) terkait kebijakan subsidi. Hal itu disampaikan dalam pertemuan Purbaya dan kedua lembaga internasional itu.
"Waktu di sana banyak yang protes lembaga-lembaga itu. Mereka bilang, pertanyaan baru diskusi adalah main message-nya adalah dari IMF-World Bank tuh sama, jangan kelebihan memberikan subsidi sehingga negara kamu rontok anggarannya," katanya di Kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Purbaya menegaskan, pemerintah tidak jor-joran karena harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi telah diserahkan ke mekanisme pasar, sementara subsidi tetap dikelola dengan terukur.
"Kita kan nggak kelebihan, yang kita kasih yang bersubsidi yang nggak subsidi biar saja saya lepas ke pasar saya bilang. Dia mengerti dan yang penting adalah kita manage dengan betul," ujarnya.
1. Purbaya sebut Kemenkeu sebagai penjaga stabilitas ekonomi

Purbaya menegaskan, Kemenkeu bukan sekadar bendahara atau petugas administrasi, melainkan penjaga stabilitas ekonomi negara. Dia menjelaskan, APBN berfungsi sebagai shock absorber atau penahan guncangan.
Fungsi tersebut telah dibuktikan dengan menjaga stabilitas inflasi, di mana pemerintah memilih tidak menaikkan harga BBM bersubsidi meski harga minyak dunia mengalami kenaikan. Kebijakan itu dinilai mampu untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang tak menentu.
"Waktu minyak dunia naik cuma kita nih yang nggak naikin. Sekarang naik tapi yang nonsubsidi, yang subsidi kan nggak naik kan tetap. Jadi inflasinya bisa dikendalikan," paparnya.
2. Pemerintah punya dana cadangan 25 miliar dolar AS

Terkait ketahanan kas negara, Purbaya menjelaskan, Indonesia masih memiliki beberapa lapisan pertahanan atau line of defense. Dia menyatakan, manajemen kas APBN saat ini terjaga dengan cukup baik.
Selain itu, pemerintah juga masih memiliki lapisan pertahanan dalam bentuk Sisa Anggaran Lebih (SAL). Purbaya mengakui dalam keadaan normal, menumpuk dana yang tidak terpakai memang kurang ideal.
"Dalam keadaan biasa itu konyol sebetulnya uang yang nggak kepakai ditaruh di situ menumpuk. Tapi dalam keadaan seperti ini boleh jugalah," tuturnya.
3. Jenis BBM nonsubsidi Pertamina yang harganya dinaikkan

PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mulai Sabtu (18/4/2026). Kenaikannya pun berbeda di masing-masing daerah.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron menjelaskan alasan kenaikan hanya pada ketiga jenis BBM nonsubsidi tersebut. Menurutnya, penyesuaian harga telah sesuai dengan ketentuan pemerintah yang tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi telah mempertimbangkan kondisi global, mulai dari pergerakan harga minyak minyak Internasional, hingga kurs rupiah terhadap dolar AS.
"Penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengacu pada Kepmen ESDM, dan keputusan penyesuaian harga hanya berlaku pada Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex," ujarnya, Sabtu (18/4).


















