Kenapa Banyak Coffee Shop Baru Tutup dalam Setahun? Ini Penyebabnya!

- Modal habis di dekorasi, lupa napas bisnis.
- Harga gak sesuai dengan target pasar.
- Ngandelin viral, tapi gak bangun pelanggan tetap.
Buka coffee shop kelihatannya seru dan kekinian. Tempat estetik, kopi enak, lalu pelanggan datang silih berganti sambil foto buat media sosial.
Tapi realitanya, banyak coffee shop baru yang gak bertahan sampai setahun. Baru ramai di awal, lalu pelan-pelan sepi sampai akhirnya tutup diam-diam. Sebenarnya bukan karena kopi mereka jelek, tapi ada beberapa kesalahan fatal yang sering terulang.
1. Modal habis di dekorasi, lupa napas bisnis

Banyak owner terlalu fokus bikin tempat yang Instagramable. Uang habis buat interior, mural, lampu estetik, dan furnitur mahal demi tampilan keren.
Masalahnya, setelah buka, sisa modal tipis untuk operasional harian. Begitu penjualan belum stabil, biaya sewa dan gaji langsung jadi beban berat yang gak tertutup pemasukan.
2. Harga gak sesuai dengan target pasar

Ada coffee shop yang pakai konsep premium tapi buka di area mahasiswa. Ada juga yang biaya produksi mahal tapi jual murah demi ikut kompetitor.
Akibatnya margin tipis atau malah rugi setiap gelas. Tanpa strategi harga yang pas dengan daya beli sekitar, seberapa ramai pun pengunjung tetap susah untung.
3. Ngandelin viral, tapi gak bangun pelanggan tetap

Di awal buka sering ramai karena soft opening, promo besar, atau konten viral. Tapi setelah hype turun, pelanggan ikut menghilang.
Masalahnya bukan di promosi awal, tapi karena gak ada strategi bikin orang balik lagi. Rasa biasa saja, pelayanan standar, dan gak ada pengalaman unik bikin coffee shop cepat dilupakan.
4. Salah hitung biaya operasional bulanan

Sewa tempat, listrik mesin kopi, bahan baku, gaji barista, sampai pajak sering diremehkan di awal. Di atas kertas kelihatan kecil, tapi kalau dijumlah bisa bikin kaget.
Banyak coffee shop sebenarnya ramai, tapi tetap tekor karena pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Tanpa kontrol cash flow, bisnis cepat megap-megap.
5. Owner turun semangat setelah realita terasa berat

Awalnya semangat jaga toko tiap hari, belajar racik kopi, dan promosi nonstop. Tapi setelah beberapa bulan sepi dan capek, motivasi mulai turun. Bisnis F&B itu maraton, bukan sprint. Begitu owner mulai jarang turun tangan, kualitas turun, pelayanan melemah, dan pelanggan ikut pergi pelan-pelan.
Tutupnya banyak coffee shop bukan karena industri ini jelek, tapi karena banyak yang masuk tanpa perhitungan matang. Fokus terlalu besar ke tampilan, tapi lupa ke strategi bisnis jangka panjang.
Kalau kamu mau buka coffee shop, ingat satu hal penting: kopi enak dan tempat keren itu baru awal. Yang bikin usaha bertahan adalah manajemen uang, pelanggan loyal, dan mental kuat menghadapi sepi. Tanpa itu, seviral apa pun di awal, ujungnya bisa bernasib sama—tutup sebelum setahun.


















