Adidas Raup Rekor Penjualan Rp492,9 T pada 2025, Siapkan Buyback Saham

- Adidas mencapai rekor pendapatan Rp492,9 triliun.
- Adidas akan memulai program pembelian kembali saham Rp19,8 triliun.
- Adidas mencatat hasil finansial solid sepanjang 2025.
Jakarta, IDN Times - Adidas mengumumkan pencapaian rekor penjualan sepanjang tahun 2025, pada Kamis (29/1/2026). Perusahaan olahraga asal Jerman tersebut melaporkan pendapatan tahunan mencapai 24,8 miliar euro (Rp492,9 triliun).
Prestasi finansial ini dicapai meskipun menghadapi tantangan signifikan dari tarif impor Amerika Serikat (AS) yang diberlakukan Presiden Donald Trump. Adidas berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan melalui strategi produk yang kuat dan ekspansi pasar global.
1. Adidas mendapatkan rekor pendapatan Rp492,9 triliun

Adidas melaporkan rekor pendapatan tahunan sebesar 24,8 miliar euro (Rp492,9 triliun) sepanjang 2025, meningkat 4,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Laba operasional tahunan melonjak lebih dari 700 juta euro (Rp13,9 triliun) menjadi 2,1 miliar euro (Rp41,7 triliun), dengan margin kotor stabil di 51,6 persen.
Adidas berhasil mempertahankan strategi penjualan dengan harga penuh yang tinggi sambil mengendalikan tingkat diskon secara efektif.
"Pertumbuhan dua digit di semua pasar dan kanal tentu sangat menyenangkan, tapi yang lebih penting adalah ini pertumbuhan berkualitas," ujar CEO Adidas Bjørn Gulden, dilansir Retail Dive.
2. Adidas akan memulai program pembelian kembali saham Rp19,8 triliun

Adidas akan memulai program pembelian kembali saham senilai hingga 1 miliar euro (Rp19,8 triliun) pada awal Februari 2026, didanai dari arus kas operasional yang diproyeksikan kuat tahun ini. Saham yang dibeli kembali akan dibatalkan sepenuhnya, menunjukkan keyakinan manajemen terhadap kekuatan merek dan posisi keuangan perusahaan yang kokoh. Pengumuman ini telah mendapatkan persetujuan penuh dari dewan pengawas Adidas.
Program buyback ini mencerminkan keberhasilan strategi lokal-driven yang diterapkan perusahaan, di mana pimpinan regional memiliki fleksibilitas menyesuaikan produk dan pemasaran dengan karakteristik pasar masing-masing. Pendekatan ini berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan dua digit di semua kanal dan wilayah geografis.
"Kami bangga dengan tim yang mencapai pertumbuhan dua digit meski ada gangguan eksternal seperti kebijakan tarif AS," ujar CEO Adidas Bjørn Gulden, dilansir Yahoo Finance.
Adidas menargetkan perluasan pangsa pasar lebih besar di tengah persaingan ketat dengan Nike, didukung oleh performa finansial yang mencapai rekor sepanjang 2025.
3. Adidas mencatat hasil finansial solid sepanjang 2025

Adidas mencatat hasil finansial solid sepanjang 2025 meski sempat mengkhawatirkan diskon besar-besaran akibat tarif impor AS yang diberlakukan pada Oktober 2025. Stabilitas harga membantu mempertahankan penjualan penuh harga yang tinggi, sehingga margin keuntungan perusahaan terhindar dari tekanan serius.
Perusahaan mempertahankan prospek positif untuk Olimpiade Musim Dingin 2026 dan Piala Dunia mendatang. Meski ada ketidakpastian tarif, Adidas berhasil tumbuh 14 persen di Eropa dan 13 persen di Greater China pada triwulan pertama, sementara Amerika Utara naik 3 persen setelah menghentikan penjualan Yeezy.
"Tim kami sangat pintar mengatur stok supaya pas terjual, menjaga harga penuh tinggi, dan diskon tetap terkendali," ujar CEO Adidas Bjørn Gulden.


















