Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Gaji Kurang dari UMR Bisa Masuk Desil 10? Ini Penjelasannya
ilustrasi gaji (pexels.com/Karolina Grabowska)
  • Desil DTSEN memeringkat kesejahteraan keluarga secara relatif; desil 10 adalah 10 persen teratas dalam data, bukan bukti seseorang bergaji tertinggi atau kaya raya.
  • Status kerja dan gaji individu bukan penentu tunggal karena penilaian melihat kondisi keluarga, termasuk tanggungan, rumah, aset, pendidikan, fasilitas dasar, kesehatan, serta sumber penghasilan anggota lain.
  • Desil memengaruhi usulan bansos tertentu: desil 1–4 untuk PKH dan Sembako, desil 5 untuk PBI-JK; data yang tak sesuai dapat dimutakhirkan melalui kanal resmi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Status desil belakangan ini ramai jadi buah bibir karena hasil yang muncul tidak selalu cocok dengan kondisi ekonomi yang terlihat sehari-hari. Ada orang yang penghasilannya masih di bawah UMR, mepet UMR, bahkan ada yang sedang tidak bekerja tetapi tercatat di desil 8, 9, atau 10. Di sisi lain, orang dengan penghasilan jauh lebih besar belum tentu mendapatkan angka desil yang sama, sehingga muncul anggapan bahwa desil 10 berarti seseorang termasuk orang terkaya di Indonesia.

Padahal, angka desil tidak dibuat untuk mengurutkan orang berdasarkan besar kecilnya gaji. Status tersebut berkaitan dengan pemeringkatan kondisi sosial ekonomi keluarga berdasarkan data yang tercatat dalam DTSEN (Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional). Karena itu, ada beberapa hal yang perlu dipahami sebelum menyimpulkan bahwa hasil desil kamu tidak masuk akal.

1. Desil 10 bukan berarti masuk 10 persen orang terkaya di Indonesia

ilustrasi orang kaya (pexels.com/cottonbro studio)

Desil membagi keluarga ke dalam 10 kelompok berdasarkan peringkat kesejahteraan, dengan masing-masing kelompok mencakup sekitar 10 persen keluarga. Desil 1 berada di kelompok 10 persen terbawah, sedangkan desil 10 berada di kelompok 10 persen teratas dalam pemeringkatan tersebut. Gampangnya, bayangkan ada 100 keluarga yang sudah diurutkan dari posisi kesejahteraan paling rendah sampai paling tinggi. Sepuluh keluarga paling bawah masuk desil 1, sepuluh keluarga berikutnya masuk desil 2, dan begitu seterusnya sampai sepuluh keluarga terakhir masuk desil 10.

Jadi, desil 10 menunjukkan posisi dalam kelompok 10 persen teratas, bukan menunjukkan bahwa orang tersebut mempunyai gaji yang masuk 10 persen gaji tertinggi di Indonesia. Angka itu juga tidak berarti orang yang bersangkutan termasuk orang terkaya karena desil bukan peringkat kekayaan pribadi. Ini sebabnya tidak ada aturan seperti Rp3 juta berarti desil 3, Rp5 juta berarti desil 5, atau Rp20 juta otomatis berarti desil 10. Nominal gaji seseorang memang tidak bisa dibaca langsung sebagai angka desil.

2. Orang yang tidak bekerja pun bisa tercatat di desil 10

ilustrasi pengangguran (pexels.com/Ron Lach)

Hal ini bisa terjadi karena status pekerjaan seseorang tidak berdiri sendiri ketika data dibaca sebagai kondisi keluarga. Seseorang yang tidak bekerja tetap tercatat sebagai bagian dari keluarga tempat dirinya terdaftar, sehingga kondisi ekonomi keluarga tersebut tidak otomatis berubah menjadi rendah hanya karena satu anggotanya tidak mempunyai pekerjaan.

Misalnya, seorang anak sudah lulus kuliah tetapi belum mendapatkan pekerjaan dan masih tinggal bersama orang tua. Ia sendiri tidak mempunyai penghasilan, tetapi orang tuanya bekerja, rumah yang ditempati merupakan milik keluarga, dan anggota keluarga lainnya juga mempunyai sumber penghasilan. Dalam kondisi seperti itu, status “tidak bekerja” pada anak tersebut tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan bahwa keluarga tersebut berada di kelompok kesejahteraan paling bawah.

Contoh lain adalah seseorang yang sedang berhenti bekerja tetapi masih tinggal bersama pasangan yang mempunyai penghasilan. Jika data keluarga menunjukkan kondisi ekonomi yang relatif lebih tinggi dibandingkan keluarga lain, perubahan pekerjaan satu orang tidak otomatis membuat seluruh keluarga berpindah ke desil rendah.

Sebaliknya, orang yang bekerja dengan penghasilan Rp5 juta belum tentu mempunyai kondisi ekonomi keluarga lebih tinggi. Ia bisa menjadi satu-satunya pencari nafkah, memiliki banyak anggota keluarga yang harus ditanggung, atau tinggal di rumah sewa dengan pengeluaran besar. Jadi, status “bekerja” atau “tidak bekerja” pada satu orang bukan penentu tunggal angka desil. Hal ini yang membuat orang yang sedang menganggur pun secara teori dapat tercatat dalam desil tinggi.

3. DTSEN punya banyak indikator bukan sekadar penghasilan

ilustrasi data (pexels.com/Pixabay)

DTSEN atau Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional memuat berbagai informasi mengenai kondisi sosial ekonomi penduduk. Data tersebut mencakup sejumlah aspek seperti pendidikan, pekerjaan, kondisi tempat tinggal, sanitasi dan air minum, kesehatan dan disabilitas, kepemilikan aset, serta kepemilikan usaha.

Dalam ground check DTSEN, terdapat 39 variabel yang terdiri dari 13 variabel individu dan 26 variabel keluarga. Artinya, ketika kondisi sebuah keluarga dinilai, informasinya tidak berhenti pada pertanyaan tentang gaji. Kondisi tempat tinggal, kepemilikan aset, pekerjaan anggota keluarga, pendidikan, hingga kondisi keluarga lainnya ikut memberikan gambaran mengenai keadaan sosial ekonomi.

Contohnya, dua keluarga sama-sama mempunyai anggota yang menerima penghasilan Rp4 juta per bulan. Keluarga pertama tinggal di rumah milik sendiri, mempunyai anggota keluarga lain yang bekerja, dan memiliki akses fasilitas dasar yang memadai. Keluarga kedua tinggal di rumah kontrakan dan hanya mempunyai satu orang yang menghasilkan pendapatan untuk beberapa anggota keluarga.

Kedua keluarga tersebut mempunyai angka penghasilan yang sama pada satu anggota, tetapi kondisi keluarganya berbeda. Karena itu, tidak tepat mencari satu benda tertentu yang otomatis membuat keluarga masuk desil 10.

Punya rumah sendiri tidak otomatis desil 10, punya kendaraan tidak otomatis desil 10, begitu juga gaji di bawah UMR tidak otomatis desil 5. Data DTSEN sendiri juga terus dimutakhirkan karena kondisi keluarga dapat berubah. BPS menyebut pemutakhiran dilakukan untuk meningkatkan ketepatan sasaran berdasarkan perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

4. Desil bukan batas pengeluaran bulanan

ilustrasi pengeluaran (pexels.com/Jack Sparrow)

Desil juga tidak boleh dibaca sebagai batas pengeluaran keluarga dalam sebulan atau setahun. Misalnya, bukan berarti keluarga dengan pengeluaran di bawah Rp2 juta masuk desil 2, pengeluaran rentang Rp5 juta masuk desil 5, lalu keluarga dengan pengeluaran di atas Rp10 juta otomatis masuk desil 10.

Desil menunjukkan peringkat relatif, bukan nominal pengeluaran yang mempunyai batas tetap. Karena itu, tidak ada satu angka pengeluaran yang bisa digunakan sebagai patokan universal untuk mengatakan bahwa sebuah keluarga pasti masuk desil tertentu.

Hitungan ini juga berbeda dengan garis kemiskinan. Badan Pusat Statistik (BPS) menghitung garis kemiskinan menggunakan pendekatan pengeluaran per kapita per bulan untuk menentukan apakah seseorang berada di bawah garis kemiskinan. Angka tersebut tidak berfungsi sebagai batas untuk membagi masyarakat menjadi desil 1 sampai 10.

Perbedaan ini penting dipahami karena seseorang bisa saja memiliki pengeluaran yang terlihat rendah tetapi berada dalam keluarga dengan kondisi sosial ekonomi tertentu yang membuat posisi pemeringkatannya berbeda. Sebaliknya, pengeluaran yang lebih tinggi juga tidak otomatis berarti sebuah keluarga berada di desil 10. Tidak ada nominal gaji maupun pengeluaran per bulan yang bisa dijadikan patokan untuk masuk desil 10.

5. Masuk desil 10 bisa berpengaruh pada bantuan sosial

ilustrasi bansos (vecteezy.com/Bigc Studio)

Status desil menjadi penting karena digunakan sebagai salah satu dasar dalam penentuan sasaran sejumlah program bantuan sosial. Berdasarkan keterangan resmi Cek Bansos, keluarga yang berada di desil 1–4 atau 40 persen terbawah dapat diusulkan sebagai penerima PKH (Program Keluarga Harapan) dan Sembako, sedangkan desil 5 dapat diusulkan sebagai peserta PBI-JK (Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan).  

Karena itu, keluarga yang tercatat di desil 10 memang berada di luar kelompok desil 1–4 yang menjadi sasaran pengusulan PKH dan Sembako berdasarkan keterangan tersebut. Namun, desil 10 bukan berarti seseorang dinyatakan kaya raya dan otomatis tidak berhak atas semua bentuk bantuan pemerintah, karena setiap program memiliki persyaratan dan mekanisme penetapan penerima sendiri.

Kalau hasil desil tidak sesuai dengan keadaan ekonomi saat ini, persoalannya dapat berasal dari data yang belum diperbarui. Misalnya, kondisi pekerjaan seseorang sudah berubah, anggota keluarga bertambah atau berkurang, atau keadaan ekonomi keluarga sudah tidak sama dengan informasi yang sebelumnya tercatat.

Dalam kondisi seperti itu, masyarakat dapat mengajukan pemutakhiran melalui pemerintah desa atau kelurahan, dinas sosial, maupun kanal Cek Bansos yang tersedia. Data yang diperbarui kemudian perlu melalui proses verifikasi dan pengolahan sebelum memengaruhi hasil pemeringkatan berikutnya.

Jadi, kalau kamu bergaji kurang dari UMR, pas UMR, atau sedang tidak bekerja sama sekali tetapi mendapatkan desil 10, angka tersebut tidak sedang mengatakan bahwa kamu termasuk top 10 orang terkaya di Indonesia. Sebab yang ditunjukkan adalah posisi keluarga kamu dalam pemeringkatan kesejahteraan berdasarkan data sosial ekonomi yang digunakan, sehingga nominal gaji satu orang memang tidak bisa dipakai untuk menebak angka desilnya. Nah, kamu sendiri masuk desil berapa nih?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article