Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Influencer Bisa Membuat Iklan Terasa seperti Rekomendasi Teman?
ilustrasi influencer fashion (freepik.com/freepik)
  • Kedekatan semu dari paparan konten berulang membuat rekomendasi influencer terasa seperti saran teman, meski audiens hanya melihat bagian hidup yang dibagikan.
  • Cerita pengalaman pribadi dan produk yang muncul dalam rutinitas membuat promosi terasa relevan, santai, serta tidak seperti iklan konvensional.
  • Audiens perlu membedakan rekomendasi tulus dan kerja sama berbayar, karena kesamaan selera atau rasa akrab tidak menjamin produk sesuai kebutuhan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah melihat influencer membagikan produk yang awalnya tidak menarik perhatianmu, tetapi lama-lama justru membuatmu penasaran? Apalagi kalau produk tersebut muncul dalam cerita sehari-hari mereka, mulai dari rutinitas pagi, perjalanan liburan, sampai obrolan santai sebelum tidur. Tanpa terasa, kita jadi ingin mencoba produk yang sama, seolah-olah sedang mendapat rekomendasi dari teman sendiri.

Menariknya, cara kerja iklan seperti ini berbeda dari iklan konvensional yang terang-terangan menawarkan produk. Influencer tidak selalu datang dengan kalimat promosi yang terdengar meyakinkan. Mereka justru membagikan pengalaman pribadi, menunjukkan kebiasaan sehari-hari, atau menceritakan masalah yang bisa diselesaikan oleh produk tertentu. Lalu, kenapa rekomendasi influencer bisa terasa begitu dekat dan lebih mudah dipercaya?

1. Kita merasa sudah mengenal influencer

ilustrasi menonton konten seorang influencer (unsplash.com/Detail .co)

Salah satu alasannya adalah kita terbiasa melihat kehidupan influencer melalui media sosial. Kita tahu makanan favoritnya, tempat yang sering dikunjungi, bahkan keluh kesah yang sesekali mereka ceritakan kepada pengikutnya. Walaupun sebenarnya tidak mengenal mereka secara pribadi, ada perasaan akrab yang terbentuk setelah berulang kali melihat konten mereka. 

Situasi ini membuat rekomendasi produk terasa berbeda. Ketika teman bercerita tentang skincare yang cocok di kulitnya, kita mungkin tertarik untuk mencoba. Hal serupa bisa terjadi ketika influencer yang rutin kita tonton mengatakan bahwa sebuah produk membantunya mengatasi masalah kulit.

Padahal, kedekatan tersebut tidak selalu berarti kita benar-benar mengenal orang yang bersangkutan. Kita hanya melihat bagian kehidupan yang mereka bagikan di internet. Namun, perasaan akrab itu bisa cukup kuat untuk memengaruhi cara kita menilai sebuah rekomendasi.

2. Cerita pribadi terasa lebih meyakinkan daripada iklan

ilustrasi seorang influencer sedang membuat konten (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Iklan biasanya menonjolkan keunggulan produk, mulai dari harga, kualitas, sampai manfaat yang ditawarkan. Sementara itu, influencer bisa menyampaikan informasi yang sama melalui cerita yang terasa lebih santai. Misalnya, alih-alih langsung menjelaskan keunggulan botol minum, seorang influencer bercerita bahwa dirinya sering lupa minum saat bekerja. Setelah menggunakan botol dengan penanda waktu, ia merasa lebih terbantu untuk memenuhi kebutuhan cairan sehari-hari.

Cerita seperti ini dianggap mirip dengan pengalaman banyak orang. Kita tidak hanya melihat barang yang dijual, tetapi juga situasi ketika barang tersebut digunakan. Akhirnya, produk terasa relevan dengan kebutuhan pribadi kita. 

3. Konten promosi menyatu dengan kehidupan sehari-hari

ilustrasi seorang influencer sedang membuat konten (unsplash.com/Videodeck .co)

Hal lain yang membuat iklan influencer terasa seperti rekomendasi teman adalah cara produk dimasukkan ke dalam konten. Produk bisa muncul saat mereka bersiap pergi, memasak di rumah, bekerja, atau menghabiskan waktu bersama keluarga. Karena disajikan sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari, kita mungkin tidak langsung merasa sedang melihat iklan. Apalagi jika gaya penyampaiannya sesuai dengan karakter influencer tersebut. Promosi terasa seperti obrolan biasa, bukan penawaran yang sengaja dirancang untuk membuat orang membeli sesuatu.

Di satu sisi, pendekatan ini memang membuat iklan terasa lebih menarik dan tidak membosankan. Namun, ada baiknya kita tetap memperhatikan konteksnya. Bisa saja produk yang terlihat digunakan secara alami itu sebenarnya merupakan bagian dari kerja sama berbayar dengan sebuah brand.

4. Kita mempercayai selera orang yang diikuti

ilustrasi fashion content creator (pexels.com/Miriam Alonso)

Ketika mengikuti influencer dalam waktu lama, kita mungkin mulai merasa memiliki selera yang mirip dengan mereka. Misalnya, kita menyukai gaya berpakaian seorang kreator, merasa cocok dengan rekomendasi bukunya, atau tertarik pada tempat makan yang ia kunjungi. Dari situ, kepercayaan terhadap selera mereka bisa meluas ke kategori produk lain. Jika sebelumnya rekomendasi pakaian mereka sering sesuai dengan keinginan kita, bukan tidak mungkin kita juga tertarik mencoba parfum atau produk perawatan yang mereka promosikan.

Padahal, menyukai pilihan seseorang dalam satu hal tidak otomatis berarti semua rekomendasinya akan cocok. Influencer juga punya kebutuhan, preferensi, dan pertimbangan yang mungkin berbeda dari kita. Selain itu, rekomendasi yang diberikan belum tentu sepenuhnya didasarkan pada pengalaman pribadi. Ada kalanya konten dibuat berdasarkan kesepakatan dengan merek atau kebutuhan kampanye pemasaran.

5. Rekomendasi teman dan promosi punya batas yang berbeda

ilustrasi influencer sedang membuat konten fashion (freepik.com/freepik)

Media sosial membuat batas antara rekomendasi tulus dan promosi menjadi semakin tipis. Kita terbiasa meminta pendapat teman sebelum membeli sesuatu, sehingga gaya komunikasi influencer yang santai bisa menimbulkan kesan serupa. Namun, ada perbedaan penting yang perlu diingat. Teman biasanya merekomendasikan produk berdasarkan pengalaman dan hubungan pribadi, sedangkan influencer dapat menerima bayaran, komisi, atau produk gratis untuk membuat konten promosi.

Pada akhirnya, tidak ada salahnya menemukan produk menarik dari influencer favorit. Media sosial memang bisa menjadi tempat untuk mencari referensi sebelum berbelanja. Kita hanya perlu membedakan antara merasa dekat dengan seseorang dan benar-benar memiliki cukup alasan untuk mempercayai rekomendasinya.

Sebab, rekomendasi yang terasa seperti obrolan teman tetap bisa menjadi bagian dari strategi pemasaran. Sebelum ikut membeli, selalu tanyakan kepada diri sendiri apakah produk ini memang dibutuhkan, atau kita hanya tertarik karena seorang influencer terlihat menggunakannya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article