Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pencapaian Hebat India, Bebaskan 496 Juta Jiwa dari Jerat Kemiskinan

3 min read
Pencapaian Hebat India, Bebaskan 496 Juta Jiwa dari Jerat Kemiskinan
ilustrasi warga India (pexels.com/GOWTHAM AGM)
  • India menurunkan kemiskinan berpendapatan di bawah 4,20 dolar AS per hari dari 57,7 persen pada 2011 menjadi 16,1 persen pada 2023, sehingga sekitar 496 juta orang keluar dari kemiskinan.
  • Peningkatan konsumsi, lapangan kerja, dan bantuan sosial mendorong capaian tersebut; namun kemiskinan masih terkonsentrasi di sejumlah wilayah, kesenjangan upah lebar, serta pengangguran pemuda meningkat.
  • Bank Dunia menegaskan estimasi kemiskinan berbasis mikrosimulasi dan survei konsumsi memiliki keterbatasan, sehingga perubahan angka juga dapat dipengaruhi metode pengukuran, bukan semata peningkatan kesejahteraan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – India berhasil mencatat penurunan angka kemiskinan secara signifikan berdasarkan laporan India Poverty and Equity Brief: October 2026 yang dirilis pada Jumat (30/10/2026). Persentase penduduk yang hidup dengan penghasilan di bawah 4,20 dolar AS (setara Rp76.020) per hari menyusut dari 57,7 persen pada 2011 menjadi 16,1 persen pada 2023. Penurunan tersebut membuat sekitar 496 juta orang berhasil keluar dari kemiskinan.

Perkembangan serupa juga terlihat pada kategori kemiskinan ekstrem dengan batas penghasilan 3 dolar AS (setara Rp54.300) per hari, yang turun dari 27,1 persen menjadi 2,6 persen. Sementara itu, berdasarkan pengukuran Inisiatif Kemiskinan dan Pembangunan Manusia Oxford (OPHI), kemiskinan multidimensi yang mencakup aspek pendidikan, kesehatan, dan sanitasi berkurang dari 53,8 persen pada 2005–2006 menjadi 16,4 persen pada 2019–2021. Adapun pengukuran multidimensi Bank Dunia (WB) mencatat angka 15,5 persen pada periode 2022–2023, sebagaimana dikutip Firstpost.

  1. 1. Konsumsi dan lapangan kerja dorong penurunan kemiskinan

    ilustrrasi suasana pasar di India
    ilustrasi suasana pasar di India (pexels.com/Shubhra Dhar)

    Ada tiga faktor utama yang berkontribusi terhadap penurunan kemiskinan di India, yakni peningkatan konsumsi rumah tangga, bertambahnya kesempatan kerja, serta perluasan bantuan sosial termasuk subsidi pangan. Kenaikan jumlah pekerja berbayar, terutama perempuan di wilayah pedesaan, turut menjadi bagian dari perkembangan tersebut. Data menunjukkan India berhasil menambah sekitar 134 juta orang ke dalam kelompok penduduk bekerja sepanjang 2017–2023, hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan pertumbuhan populasi usia kerja.

    Dalam proyeksi terbarunya yang dirilis, Bank Dunia memperkirakan persentase penduduk miskin dengan ambang penghasilan 4,20 dolar AS (setara Rp76.020) per hari akan kembali menyusut dari 14,2 persen pada 2026 menjadi 12,1 persen pada 2028. Menanggapi perkembangan tersebut, Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman menilai kebijakan pemerintah yang dijalankan secara berkelanjutan telah memberikan hasil konkret.

    “Upaya kebijakan berkelanjutan pemerintah membuahkan hasil nyata, memperkuat fondasi untuk pertumbuhan inklusif dan peluang ekonomi yang lebih besar,” katanya.

    Sitharaman juga mengaitkan capaian kebijakan pemerintah dengan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan yang dipimpin koalisi NDA.

    “Inilah alasan mengapa pemerintahan NDA memenangkan kepercayaan rakyat dan mandat dari warga kami,” katanya, dikutip News Indian Express.

  2. 2. Kesenjangan upah dan konsentrasi kemiskinan masih tinggi

    ilustrasi warga India
    ilustrasi warga India (pexels.com/Roman Saienko)

    Sebaran kemiskinan di India kini lebih terkonsentrasi pada wilayah dan kelompok masyarakat tertentu. Sekitar 57 persen penduduk miskin masih tinggal di kawasan yang membentang dari Uttar Pradesh hingga Benggala Barat. Pada 2023, pendapatan median 10 persen pekerja dengan penghasilan tertinggi tercatat 13 kali lebih besar dibandingkan kelompok 10 persen terbawah. Kemiskinan lebih banyak ditemukan pada rumah tangga berpendidikan rendah, memiliki sedikit aset, serta sulit memperoleh pekerjaan yang stabil.

    Selain kesenjangan pendapatan, kualitas kesempatan kerja juga masih menjadi persoalan. Tingkat pengangguran pemuda meningkat dari 14,6 persen menjadi 15,9 persen antara kuartal pertama Tahun Fiskal 2026 dan Tahun Fiskal 2027, dengan perempuan muda di pedesaan menjadi kelompok yang paling terdampak. Di sisi lain, pendapatan riil secara keseluruhan cenderung stagnan dan penyerapan tenaga kerja lebih banyak berlangsung pada sektor dengan produktivitas rendah.

  3. 3. Bank Dunia jelaskan keterbatasan metodologi pengukuran

    Bendera India (pexels.com/Studio Art Smile)
    Bendera India (pexels.com/Studio Art Smile)

    Bank Dunia turut memaparkan sejumlah keterbatasan dalam metode penghitungan dan proyeksi angka kemiskinan yang digunakan. Perkiraan tersebut bersifat indikatif karena mengandalkan mikrosimulasi, yaitu model yang memanfaatkan data rumah tangga dalam skala kecil untuk memperkirakan perkembangan suatu kondisi. Hasilnya masih dapat berubah mengikuti pembaruan informasi terbaru mengenai pasar tenaga kerja dan kondisi ekonomi makro.

    Penghitungan tingkat kemiskinan juga menggunakan survei konsumsi rumah tangga yang mencatat pengeluaran keluarga untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Dengan metode tersebut, perubahan angka kemiskinan yang tercatat dapat dipengaruhi oleh penyesuaian cara pengukuran maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat yang sesungguhnya. Karena itu, penurunan yang terlihat tak sepenuhnya mencerminkan peningkatan konsumsi rumah tangga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More