ilustrasi utang (vecteezy.com/Dilok Klaisataporn)
Devaluasi mata uang juga dapat menjadi salah satu pertimbangan pemerintah ketika menghadapi kewajiban pembayaran utang dalam mata uang domestik. Ketika pemerintah memiliki utang negara yang pembayarannya dilakukan secara rutin dan nilainya tetap, pelemahan mata uang secara nominal dapat membuat beban pembayaran tersebut terlihat lebih ringan jika diukur dengan mata uang asing.
Sebagai gambaran, suatu pemerintah memiliki kewajiban membayar bunga utang sebesar 1 juta dolar AS setiap bulan. Dalam ilustrasi devaluasi hingga setengah dari nilai awal mata uang domestik, pembayaran tersebut dapat bernilai setara dengan 500 ribu dolar AS dalam perhitungan nilai relatif yang digunakan dalam contoh tersebut.
Meski begitu, kebijakan ini tidak bisa diterapkan sembarangan. Jika pemerintah memiliki banyak obligasi atau kewajiban dalam mata uang asing, pelemahan mata uang domestik justru membuat pembayaran bunga dan pokok utang menjadi lebih mahal.
Selain itu, devaluasi yang dilakukan secara strategis juga berisiko memicu pembalasan dari negara lain. Jika berlangsung terus-menerus, persaingan pelemahan mata uang dapat berkembang menjadi perang mata uang.
Pada akhirnya, devaluasi memang dapat membantu meningkatkan ekspor, memperbaiki neraca perdagangan, dan meringankan sejumlah kewajiban pembayaran. Namun, pemerintah tetap perlu mempertimbangkan risiko kenaikan harga impor, inflasi, penurunan daya beli masyarakat, serta membengkaknya beban utang luar negeri.