Rapat KSSK, Menkeu Ungkap Tekanan Ekonomi dari Naiknya Harga Minyak

KSSK mencatat ekonomi domestik masih tahan, tetapi tekanan meningkat pada Oktober 2026 akibat konflik geopolitik, kenaikan harga energi global, kebijakan moneter ketat, dan likuiditas yang mengetat.
Pengumuman MSCI serta pelemahan rupiah turut membebani pasar keuangan domestik, dengan tekanan nilai tukar yang mendorong peningkatan arus modal keluar dari pasar saham.
KSSK menyoroti tren suku bunga global lebih tinggi lebih lama, sementara APBN diarahkan membiayai program prioritas, stimulus ekonomi, dan makan bergizi gratis bagi 57 juta penerima manfaat.
Jakarta, IDN Times - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menggelar konferensi pers hasil rapat berkala keempat di tahun ini.
Dalam konferensi pers itu, seluruh jajaran KSSK hadir, yakni Menteri Keuangan, Suahasil Nazara; Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti; Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi; dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu.
Adapun konferensi pers dilaksanakan di Gedung Thamrin Bank Indonesia (BI), Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026) pukul 17.00 WIB. Awalnya, konferensi pers dijadwalkan pada 16.00 WIB, tetapi diundur karena adanya rapat terbatas (ratas) di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.
Konferensi pers diawali dengan penyampaian oleh Menteri Keuangan (Menkeu), Suahasil Nazara terkait stabilitas fiskal Tanah Air hingga Oktober 2026.
1. Lonjakan harga minyak dunia tekan ekonomi RI
Di awal penyampaiannya, Suahasil menyampaikan kondisi perekonomian domestik yang masih menunjukkan ketahanan. Namun, informasi itu dilanjutkan dengan kabar yang kurang menyenangkan. Dia mengatakan, memasuki Oktober 2026, perekonomian menghadapi tekanan yang disebabkan oleh eskalasi konfilik geopolitik.
Tanpa berlama-lama, dia menyampaikan eskalasi itu menyebabkan dampak yang sudah dapat diprediksi, yakni lonjakan harga minyak dunia. Suahasil mengatakan, kenaikan harga minyak dunia itu menyebabkan tekanan ekonomi.
“Kita juga melihat bahwa tekanan kembali meningkat memasuki bulan Oktober 2026, seiring eskalasi konflik geopolitik yang mendorong naiknya harga energi global, dan kebijakan moneter global yang cenderung ketat, serta kondisi domestik yang ditandai dengan mengetatnya likuiditas,” ucap Suahasil yang hadir mengenakan atasan batik berwarna cokelat dan hitam.
2. MSCI dan pelemahan rupiah turut tekan ekonomi RI
Bukan hanya faktor geopolitik, Suahasil membeberkan faktor-faktor lain yang menekan aktivitas perekonomian domestik, terutama dari pasar modal dan pasar keuangan.
Dia mengatakan, pengumuman MSCI Inc (sebelumnya Morgan Stanley Capital International) yang rilis pada pertengahan Oktober 2026 lalu meningkatkan tekanan pada aktivitas ekonomi. Begitu juga dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang memicu arus modal ke luar dari pasar saham.
“Pengumuman MSCI terkait kondisi pasar saham itu juga mewarnai kondisi ekonomi kita dan meningkatnya tekanan terhadap nilai tukar juga menyebabkan terjadinya peningkatan arus modal keluar dari pasar saham,” tutur Suahasil.
3. Ekonomi global hadapi tren lonjakan suku bunga acuan
Suahasil mengatakan, dari hasil rapat KSSK, semua pihak menyoroti prospek perekonomian global, yang masih akan tertekan seiring dengan eskalasi konflik geopolitik.
“Masih kuatnya tensi perang di Timur Tengah mendorong tetap tingginya harga minyak, dan berbagai komoditas lainnya,” ucap Suahasil.
Di sisi lain, dunia menghadapi tren kebijakan moneter yang lebih ketat, karena bank-bank sentral negara-negara utama memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya.
“Seperti The Fed di Amerika, European Central Bank, dan juga Bank of Japan, dan keseluruhannya telah menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin pada bulan September,” tutur Suahasil.
Kondisi itu dinamakan dengan periode higher for longer yang tak boleh luput dari pantauan KSSK.
“Kita perkirakan akan berlanjut pada jangka waktu ke depan, sehingga kita memasuki periode yang sering disebut dengan higher for longer,” ujar Suahasil.
Paparan Suahasil dilanjutkan dengan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga September 2026. Secara keseluruhan, dia memastikan APBN akan tetap diarahkan untuk mengakselerasi pelaksanaan program prioritas termasuk program makan bergizi gratis yang telah terrealisasi Rp153,2 triliun pada akhir bulan September 2026 yang diterima oleh Rp57 juta penerima manfaat.
“Pemerintah juga memberikan berbagai paket stimulus yang mendukung keberlanjutan usaha dan aktivitas ekonomi, antara lain insentif perpajakan untuk penulis nasional, insentif PPN, DTP perumahan, bantuan pangan, diskon transportasi pada periode libur, lebaran dan sekolah, serta program magang dan vokasi,” tutur Suahasil.




















