Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ketika Valuasi Bayan Terpaut Jauh, Ada Masalah Kepercayaan di Pasar
Ilustrasi pasar saham (freepik.com)
  • Tawaran sekitar 3 miliar dolar AS untuk 62 persen saham Bayan mengindikasikan valuasi ekuitas 4,8 miliar dolar AS, jauh di bawah kapitalisasi pasar sekitar 26 miliar dolar AS.
  • Laksamana Sukardi menilai selisih valuasi belum membuktikan pelanggaran, tetapi menjadi isu kepercayaan pasar karena investor perlu informasi cukup untuk membentuk harga secara kredibel.
  • Untuk perusahaan batu bara, informasi material seperti keputusan kuota produksi dalam RKAB dapat memengaruhi produksi, pendapatan, arus kas, dan valuasi; penyampaiannya kepada pasar dinilai relevan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perbedaan indikasi nilai PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi sorotan setelah muncul laporan mengenai tawaran sekitar 3 miliar dolar AS untuk membeli sekitar 62 persen saham perusahaan tersebut. Di sisi lain, kapitalisasi pasar Bayan di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di kisaran 26 miliar dolar AS.

Jika tawaran 3 miliar dolar AS tersebut merupakan nilai untuk 62 persen saham, secara matematis transaksi itu mengimplikasikan nilai ekuitas Bayan sekitar 4,8 miliar dolar AS untuk keseluruhan perusahaan. Artinya, terdapat selisih yang sangat lebar antara kapitalisasi pasar Bayan dan nilai yang tersirat dari transaksi yang diberitakan.

Bloomberg pada 7 September 2026 melaporkan bahwa entitas yang dikendalikan pengusaha Haji Isam mengajukan tawaran sekitar 3 miliar dolar AS untuk membeli saham Bayan. Perbedaan tersebut kemudian memunculkan pertanyaan besar: mengapa terdapat dua indikasi nilai yang begitu jauh untuk perusahaan yang sama?

1. Perbedaan valuasi belum bisa dijadikan dasar menyimpulkan adanya kesalahan maupun pelanggaran

Ilustrasi Pria Sedang Mencatat Valuasi Saham (pixabay)

Mantan Menteri BUMN Laksamana Sukardi menilai, perbedaan valuasi tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya kesalahan maupun pelanggaran. Sebuah transaksi pengendalian perusahaan memiliki karakteristik berbeda dengan perdagangan saham sehari-hari di bursa. Selain itu, publik juga belum mengetahui seluruh proses dan kondisi di balik rencana transaksi tersebut.

Oleh karena itu, menurut Laksamana, ruang kosong informasi tersebut tidak tepat jika langsung diisi dengan spekulasi mengenai motif pembeli maupun penjual. Namun, persoalannya menjadi berbeda karena Bayan merupakan perusahaan terbuka dengan kapitalisasi pasar yang besar.

"Perbedaan valuasi sebesar ini tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan antara pembeli dan penjual. Ia menjadi persoalan kepercayaan terhadap mekanisme pasar," tulis Laksamana dalam keterangannya.

2. Dalam pasar modal, harga tidak ditentukan pemerintah, OJK dan bursa

ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)

Menurut dia, pertanyaan terpenting bukan apakah valuasi sekitar 26 miliar dolar AS terlalu tinggi atau nilai sekitar 4,8 miliar dolar AS terlalu rendah. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah pasar memiliki informasi yang cukup untuk menemukan harga secara kredibel. Price discovery bergantung pada informasi

Menurut Laksamana, pertanyaan tersebut berkaitan erat dengan mekanisme price discovery di pasar modal.

"Dalam pasar modal, harga seharusnya tidak ditentukan oleh pemerintah, OJK ataupun Bursa," jelasnya.

Dalam mekanisme pasar modal, harga saham terbentuk melalui interaksi pembeli dan penjual berdasarkan informasi yang tersedia. Pemerintah maupun regulator tidak menentukan harga pasar sebuah perusahaan. Karena itu, kualitas harga sangat bergantung pada kualitas informasi yang menjadi dasar keputusan investor.

3. Persoalan arus informasi menjadi semakin relevan bagi perusahaan tambang batu bara

Ilustrasi tambang batu bara (unsplash.com/Artyom Korshunov)

Ia menegaskan, informasi material harus tersedia secara memadai, dapat dipercaya, tepat waktu, dan relatif setara bagi pelaku pasar. Pasar tetap dapat menghasilkan harga meski informasi tidak pernah benar-benar sempurna. Namun, persoalannya adalah apakah harga tersebut masih mencerminkan proses price discovery yang dapat dipercaya.

"Pasar membutuhkan informasi, bukan spekulasi," tegas Laksamana.

Persoalan arus informasi menjadi semakin relevan bagi perusahaan tambang batu bara. Nilai sebuah perusahaan tambang tidak hanya ditentukan oleh cadangan batu bara yang berada di dalam tanah. Nilainya juga dipengaruhi oleh seberapa banyak komoditas tersebut dapat diproduksi.

Di sinilah Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menjadi penting. Keputusan mengenai kuota produksi dapat memengaruhi volume produksi, pendapatan, arus kas, dan pada akhirnya valuasi perusahaan. Keputusan mengenai kuota produksi dapat memengaruhi volume produksi, pendapatan, arus kas, dan pada akhirnya valuasi perusahaan. Artinya, informasi material bagi perusahaan publik tidak selalu berasal dari manajemen perusahaan. Keputusan pemerintah juga dapat memiliki dampak ekonomi yang signifikan terhadap nilai perusahaan.

Hal ini bukan berarti setiap keputusan pemerintah otomatis merupakan informasi material yang belum diketahui publik. Namun, ketika suatu keputusan berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap kinerja dan valuasi perusahaan terbuka, waktu serta mekanisme penyampaian informasi tersebut kepada pasar menjadi relevan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article