Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kita Harus Gimana kalau Nilai Tukar Rupiah sampai 20 Ribu?

Kita Harus Gimana kalau Nilai Tukar Rupiah sampai 20 Ribu?
ilustrasi rupiah (unsplash.com/naufal jajuli)
Intinya Sih
  • Saat rupiah melemah, harga barang naik sehingga perlu lebih cepat mengamankan kebutuhan pokok dan mengatur pengeluaran.

  • Penting mencatat pengeluaran, mengurangi produk impor, dan menghindari utang berbunga tinggi yang bisa makin membebani.

  • Memiliki penghasilan tambahan menjadi strategi penting untuk bertahan dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Harga-harga mulai naik. Bukan hanya 1 atau 2 barang, melainkan hampir semua sektor. Per 3 Juni 2026, rupiah kembali tertekan hingga mendekati angka Rp18 ribu per dolar Amerika Serikat.

Ini bukan cuma urusan orang kaya atau pengusaha besar. Sebab, ujungnya semua orang bakal kena, termasuk kamu. Kalau mau tau harus gimana biar tak terlalu babak belur, simak penjelasan berikut ini!

1. Beli kebutuhan pokok lebih awal sebelum harganya naik lagi

ilustrasi belanja kebutuhan pokok
ilustrasi belanja kebutuhan pokok (unsplash.com/Adhitya Sibikumar)

Banyak bahan pokok yang kita konsumsi sehari-hari yang sebetulnya didatangkan dari luar negeri. Gandum merupakan bahan baku mi instan dan roti, kedelai untuk membuat tahu serta tempe, sampai sebagian besar minyak goreng. Semua itu dibeli menggunakan dolar Amerika Serikat. Ketika rupiah melemah, importir butuh rupiah lebih banyak untuk membeli bahan baku dengan jumlah yang sama. Biaya tambahan itu akhirnya dilempar ke harga jual di pasar.

Kemudian, yang terjadi di lapangan, harga bisa naik dalam hitungan minggu, bahkan hari setelah ada pergerakan besar pada nilai tukar rupiah. Pedagang di pasar tradisional pun tak bisa menahan harga lama karena stok lama habis dan stok baru masuk dengan harga lebih tinggi. Kalau kamu punya sedikit ruang di dapur atau lemari, beli stok bahan pokok yang tahan lama sekarang, seperti beras, minyak, mi instan, gula, dan tepung. Bukan berarti borong sampai orang lain gak kebagian alias panic buying, tapi cukup untuk kebutuhan 1 sampai 2 bulan ke depan. Harga yang kamu bayar hari ini hampir pasti lebih murah dari harga bulan depan.

2. Mulai catat ke mana uangmu pergi, sekecil apa pun

ilustrasi mencatat pengeluaran
ilustrasi mencatat pengeluaran (unsplash.com/Jakub Żerdzicki)

Waktu harga naik, uang yang tadinya cukup untuk hidup sebulan bisa tiba-tiba habis lebih cepat. Ini bukan karena kamu boros, melainkan karena nilai riil dari uang yang kamu pegang sudah berkurang. Rp200 ribu yang bulan lalu bisa untuk belanja seminggu, sekarang mungkin cuma cukup buat 5 hari.

Masalahnya, banyak orang belum sadar ini salahnya di mana. Uang keluar terus, tapi tak jelas ke mana, akhirnya bingung sendiri kok cepet abis? Mulai dari sekarang, coba catat pengeluaran harian meski cuma di HP. Tak perlu aplikasi khusus atau membuat spreadsheet ribet. Cukup tulis menggunakan format beli apa, berapa, buat apa. Setelah seminggu, kamu bakal melihat sendiri mana pos yang bisa direm dan mana yang memang gak bisa dikurangi. Dari situ, baru kamu bisa ambil keputusan yang lebih sadar dan bijak saat menggunakan uang, bukan cuma ngerasa, "Kok habis terus? Kayaknya gaji gue yang kekecilan, deh!"

3. Geser ke produk lokal sebelum ke produk impor yang harganya makin gak masuk akal

ilustrasi produk lokal
ilustrasi produk lokal (unsplash.com/Yazid N)

Barang impor harganya akan langsung ikut naik begitu rupiah melemah karena memang dihitung memakai kurs dolar. Gawai, pakaian merek luar, sampai beberapa produk perawatan diri yang bahannya dari luar negeri, semua akan makin mahal dalam waktu dekat. Kalau kamu masih bisa pilih, sekarang saat yang tepat untuk mulai melirik alternatif produk lokal.

Contoh konkretnya gampang. Kecap, sambal, sabun, sampo, produk perawatan kulit, semua punya versi lokal dengan kualitas yang gak kalah jauh, tapi punya harga jauh lebih stabil. Itu karena bahan baku yang diperlukan gak sepenuhnya bergantung pada impor. Sepatu, baju, dan tas lokal, banyak pilihan dengan kualitas yang sudah bisa bersaing. Ini bukan soal nasionalisme saja atau mengimplementasikan bangga produk buatan dalam negeri atau cinta produk lokal. Namun, ini karena secara hitung-hitungan, kamu bakal lebih aman secara finansial kalau beralih memakai produk yang dengan harga yang gak ikut-ikutan naik setiap kurs dolar bergerak.

4. Kalau punya utang, prioritaskan bayar yang bunganya bisa naik

ilustrasi utang
ilustrasi utang (unsplash.com/Jakub Żerdzicki)

Ketika nilai tukar rupiah melemah parah, Bank Indonesia biasanya akan menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan lebih lanjut. Ini kebijakan standar yang sudah terjadi berkali-kali. Efeknya, bunga pinjaman juga ikut naik. Kredit tanpa agunan, kartu kredit, paylater, semua yang bunganya gak fixed bakal jadi lebih mahal dari sebelumnya.

Kalau kamu punya tunggakan kartu kredit atau paylater yang belum lunas, ini saatnya fokus beresin itu dulu sebelum bunganya naik lebih jauh. Sebagai contoh, kamu punya utang paylater Rp2 juta dengan bunga 3 persen per bulan. Kalau dibiarkan sambil nambah-nambah, dalam 3 bulan kamu bisa bayar jauh lebih besar dari pokok utangnya. Kalau lagi gak punya dana lebih buat lunasin sekaligus, minimal stop dulu nambah utang baru. Jangan buka cicilan baru untuk barang yang sebenarnya bisa ditunda. Situasi seperti ini bukan waktu yang tepat untuk menambah beban bulanan kalau kamu masih ingin selamat.

5. Cari satu sumber penghasilan tambahan, sekecil apa pun

ilustrasi kreator konten
ilustrasi kreator konten (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Pelemahan nilai tukar rupiah yang cukup ekstrem biasanya diikuti efisiensi di banyak perusahaan. Artinya, PHK, pengurangan jam kerja, atau pemotongan tunjangan akan terjadi. Hal semacam ini jelas pasti akan terjadi dan sulit untuk kamu kontrol. Namun, kamu bisa menambah penghasilan. Punya lebih dari satu sumber penghasilan, meski kecil, akan sangat berbeda rasanya dibanding cuma bergantung pada satu tempat.

Kamu tak harus langsung buka usaha besar. Kamu bisa mulai dari yang kamu bisa sekarang. Kalau bisa masak, kamu bisa coba jual beberapa porsi makanan ke tetangga atau teman kantor. Kalau punya motor, sesekali kamu bisa jadi sopir ojek daring di luar jam kerja. Kalau kamu punya keahlian tertentu, seperti desain, nulis, ngajar les, benerin elektronik, itu semua bisa dijual. Penghasilan tambahan Rp300 ribu sampai Rp500 ribu sebulan mungkin keliatan kecil. Namun, pada momen amit-amit kalau rupiah menyentuh angka Rp20 ribu, angka sekecil itu bisa jadi penyelamatmu.

Situasi ekonomi yang tengah gak stabil itu tak pernah menunggu kamu untuk siap menghadapi semuanya. Namun, orang-orang yang paling bisa bertahan bukan selalu yang paling banyak uangnya, melainkan yang paling cepat mengambil langkah kecil pada waktu yang tepat. Mulai dari satu hal yang paling kamu bisa lakukan hari ini, itu sudah jauh lebih baik daripada gak ngapa-ngapain sama sekali. Yuk, berbagi langkah apa yang mau kamu ambil di tengah krisis seperti sekarang!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More