Komunitas Profesional Muda RI di AS Diluncurkan, Bahas Investasi Hijau

- Komunitas SANARA resmi diluncurkan di KJRI New York, menghadirkan forum publik bersama Columbia SIPA untuk membahas masa depan investasi hijau dan transisi energi Indonesia.
- Para pembicara menyoroti perlunya reformasi kebijakan, penghapusan subsidi BBM, serta pendekatan pembiayaan baru agar investasi energi terbarukan lebih kompetitif dan berkelanjutan.
- Diskusi menekankan kesenjangan kesiapan daerah dan pelaku usaha dalam menyerap investasi hijau, dengan ajakan memperkuat kolaborasi lintas sektor demi percepatan ekonomi berkelanjutan.
Jakarta, IDN Times - Komunitas profesional muda Indonesia di Amerika Serikat, SANARA (Sustainability Network of Nusantara), resmi diluncurkan di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) New York pada 24 April 2026.
Peluncuran organisasi ini dibarengi forum publik yang mengangkat masa depan investasi hijau Indonesia, dengan menggandeng Sustainable Investing Research Initiative (SIRI) Columbia SIPA.
Sekitar 40–50 profesional, peneliti, dan investor hadir dalam dua sesi diskusi panel. Forum ini membedah tantangan sekaligus peluang dalam mendorong transisi energi Indonesia, dari sekadar ambisi menuju implementasi nyata di lapangan.
1. Reformasi kebijakan dinilai jadi kunci dorong investasi hijau

Sejumlah pembicara menilai, hambatan terbesar investasi energi terbarukan di Indonesia masih terletak pada struktur kebijakan dan insentif ekonomi.
Mantan Menteri Keuangan dan anggota Dewan Ekonomi Nasional, Chatib Basri, menegaskan ketimpangan harga energi menjadi persoalan utama. “Investasi energi terbarukan hanya akan berhasil jika kita memperbaiki struktur harga,” ujarnya.
Chatib menyebut, subsidi bahan bakar fosil membuat energi bersih sulit bersaing. “Selama subsidi bahan bakar fosil terus berlanjut, tidak ada banyak insentif untuk energi terbarukan,” katanya.
Menurut Chatib, langkah konkret yang bisa segera dilakukan adalah penghapusan subsidi BBM, serta deregulasi ekonomi. “Lakukan deregulasi ekonomi. Saya menyebutnya stimulus tanpa biaya fiskal,” tegasnya.
Pandangan serupa juga disampaikan peneliti dari Columbia Center on Sustainable Investment, Ana Maria Camelo Vega. Ia menilai persepsi risiko terhadap Indonesia kerap berlebihan.
“Risiko yang dipersepsikan sebenarnya jauh lebih tinggi dari risiko yang sesungguhnya. Peringkat sovereign tidak selalu akurat. Kita butuh pengukuran yang lebih granular dan berakar pada realitas lokal,” kata dia.
2. Pendekatan pembiayaan dan implementasi di lapangan perlu diselaraskan

Selain kebijakan, tantangan lain muncul dari sisi pembiayaan dan implementasi proyek di lapangan.
Direktur Blended Finance SIRI Columbia University, Nnamdi Igbokwe, menekankan perlunya perubahan pendekatan dalam pembiayaan. “Kita tidak bisa lagi melihat blended finance secara deal per deal,” katanya.
Ia menilai, pembiayaan harus diarahkan untuk membangun pasar yang berkelanjutan. “Harus mulai membangun pasar, meninggalkan jejak di setiap transaksi agar pasar bisa belajar dan berkembang secara mandiri,” lanjutnya.
Di sisi lain, peneliti Columbia SIPA, Zongyuan (Zoe) Liu, menilai tantangan bukan lagi pada desain kebijakan. “Bagaimana memastikan pemerintah bisa menyampaikan kebijakan yang tepat, dan mengelola konsekuensi yang tidak diinginkan, itu mungkin lebih penting,” ujarnya.
3. Kesenjangan kesiapan daerah hingga pelaku usaha masih jadi PR

Diskusi juga menyoroti realitas di lapangan, terutama terkait kesiapan daerah dan pelaku usaha dalam menyerap investasi hijau.
Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York, Tessal Maharizky Febrian, menyebut Indonesia sebenarnya telah mengalami kemajuan regulasi. “Kita perlu berada di halaman yang sama. Indonesia sangat prospektif, dan ini adalah waktu yang tepat,” ujarnya.
Namun, Ketua HIPMI Institute, Rizka Gita Miranti, mengingatkan masih ada kesenjangan besar di tingkat pelaku usaha. “Peluang untuk keberlanjutan sangat besar, namun kenyataan pahitnya adalah banyak wirausahawan lokal, terutama di luar Jakarta, mungkin belum siap,” katanya.
Ia menegaskan organisasinya berupaya menjembatani kesenjangan tersebut melalui pengembangan kapasitas dan program kesiapan investasi.
Sementara itu, perwakilan Indonesia Financial Group, Yemima Silitonga, menyoroti pentingnya keselarasan antara proyek dan investor. “Tidak semua modal itu sama,” ujarnya.
“Tantangannya bukan hanya menarik investor, tapi menemukan keselarasan antara proyek kita dan tujuan mereka,” tambahnya.
Forum ini juga memberikan penghargaan kepada delegasi Pemerintah Kota Makassar sebagai pemenang program RISE dari World Resources Institute, sebagai bukti diskusi global memiliki dampak nyata hingga ke daerah.
Sebagai informasi, SANARA merupakan komunitas yang beranggotakan lebih dari 180 profesional muda dan mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat. Organisasi ini berafiliasi dengan sejumlah kampus ternama seperti Columbia, Stanford, Cornell, dan Carnegie Mellon, serta berfokus pada pengembangan jejaring dan kolaborasi di bidang keberlanjutan.

















