Kontra Elon Musk, Sam Altman Sebut Data Center Luar Angkasa Konyol

- Sam Altman menilai ide pusat data luar angkasa masih mustahil secara teknologi dan terlalu mahal, terutama karena biaya peluncuran roket serta kesulitan perawatan perangkat di orbit.
- Elon Musk melalui SpaceX justru mendorong pembangunan pusat data orbit sebagai solusi jangka panjang AI, bahkan mengajukan izin peluncuran hingga satu juta satelit untuk mendukung proyek tersebut.
- Peningkatan kebutuhan komputasi AI global membuat konsep pusat data berbasis luar angkasa mulai dilirik banyak perusahaan besar seperti Google dan Amazon meski tantangan biaya masih tinggi.
Jakarta, IDN Times – Chief Executive Officer (CEO) OpenAI Sam Altman menyatakan gagasan membangun pusat data di luar angkasa masih sulit diwujudkan dengan kemampuan teknologi saat ini. Dalam wawancara bersama Indian Express di New Delhi pada Jumat (20/2/2026), ia mengaku pernyataannya sempat memicu tawa audiens karena terdengar tak lazim.
“Saya jujur berpikir bahwa ide dengan lanskap saat ini untuk menempatkan data center di luar angkasa itu konyol,” kata Altman.
Menurutnya, hambatan utama terletak pada mahalnya biaya peluncuran roket serta kerumitan perawatan perangkat setelah berada di orbit, termasuk kesulitan mengganti cip komputer yang rusak di ruang angkasa.
1. Elon Musk meyakini pusat data orbit jadi solusi AI

Berbeda dengan Altman, CEO SpaceX Elon Musk justru memandang pusat data berbasis orbit sebagai solusi jangka panjang bagi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ia menilai kebutuhan listrik yang sangat besar untuk melatih dan menjalankan AI pada akhirnya membuat pusat data di Bumi tak lagi ramah lingkungan dan sulit dipertahankan.
Dalam acara pengumuman akuisisi xAI oleh SpaceX, Musk menyampaikan pandangannya.
“Dalam jangka panjang, AI berbasis luar angkasa jelas merupakan satu-satunya cara untuk melakukan scaling. Perkiraan saya adalah dalam 2-3 tahun, cara termurah untuk menghasilkan komputasi AI akan berada di luar angkasa,” kata Musk.
Ia juga berpendapat bahwa orbit menjadi lokasi paling masuk akal untuk memasok daya komputasi AI tanpa memperburuk dampak lingkungan di Bumi.
2. SpaceX mengajukan izin peluncuran satu juta satelit

SpaceX telah mengirimkan permohonan resmi kepada Komisi Komunikasi Federal (FCC) agar diizinkan meluncurkan hingga satu juta satelit yang dirancang sebagai jaringan pusat data di orbit. Berdasarkan memo internal perusahaan, targetnya adalah mengirim satu juta ton satelit setiap tahun dengan kapasitas 100 kilowatt per ton, sehingga total tambahan komputasi AI diperkirakan mencapai 100 gigawatt per tahun.
Merujuk rencana korporasi tersebut, penggabungan SpaceX dan xAI diperkirakan melahirkan entitas baru bernilai lebih dari satu triliun dolar AS menjelang penawaran saham perdana. Dana dari IPO itu akan digunakan untuk mempercepat pembangunan pusat data orbit, sementara perusahaan juga mulai merekrut insinyur khusus dan Musk menyebut akuisisi xAI akan membuat proyek bergerak lebih cepat.
3. Lonjakan kebutuhan AI mendorong eksplorasi komputasi orbit

Permintaan infrastruktur AI meningkat pesat sehingga komputasi berbasis luar angkasa mulai dilirik berbagai pihak. Saat ini pusat data di darat mengonsumsi listrik dan air dalam jumlah besar, membebani jaringan energi, meningkatkan polusi, serta memicu penolakan warga di sekitar lokasi pembangunan.
Investigasi Business Insider tahun lalu mencatat lebih dari 1.200 proyek pusat data telah memperoleh izin pembangunan di Amerika Serikat hingga akhir 2024, hampir empat kali lipat dibandingkan proyek yang disetujui pada 2010. Sejumlah rencana di negara bagian seperti Texas dan Oklahoma menghadapi penentangan keras dari masyarakat setempat.
Selain SpaceX, perusahaan teknologi lain juga menjajaki konsep serupa. Google memperkenalkan Project Suncatcher pada November 2025 dengan rencana menempatkan pusat data bertenaga surya di orbit paling cepat 2027 menurut CEO Sundar Pichai di Fox News Sunday, sementara CEO Amazon Web Services Matt Garman menyatakan di Cisco AI Summit bahwa biaya peluncuran masih mahal, jumlah roket belum memadai untuk mendukung satu juta satelit, dan pendekatan tersebut belum menguntungkan secara ekonomi saat ini.


















