Potret kota Seoul di Korea Selatan. (pexels.com/Gije Cho)
Data dari pemerintah kota Seoul menunjukkan penjualan harian kantong sampah melonjak drastis menjadi 2,7 juta kantong sampah pada akhir Maret 2026. Jumlah tersebut merupakan peningkatan lima kali lipat, dibandingkan dengan rata-rata harian tiga tahun sebesar 550 ribu kantong sampah. Akibatnya, sejumlah peritel besar mulai memberlakukan pembatasan pembelian per pelanggan.
Ketegangan geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel telah memutus jalur pasokan minyak utama melalui Selat Hormuz. Hal ini mengganggu ketersediaan nafta, yakni bahan baku utama polietilen yang digunakan untuk memproduksi kantong plastik. Untuk diketahui, Korsel adalah salah satu importir energi terbesar di Asia dan sangat bergantung pada pasokan dari Timur Tengah.
Sebagai respons, pemerintah Korsel telah mengambil langkah-langkah drastis, yakni membatasi ekspor nafta demi mengamankan pasokan domestik dan menyiapkan anggaran masa perang sebesar 25 triliun won (sekitar Rp282,4 triliun). Serta, memberlakukan kontrol bahan bakar untuk pertama kalinya sejak 1997.
Menteri Energi Kim Sung-whan berupaya meredakan kepanikan publik dengan menjamin bahwa stok bahan baku daur ulang masih mencukupi untuk satu tahun ke depan.
"Tidak perlu khawatir. Kapasitas produksi kami sangat memadai dan tidak ada kenaikan harga. Bahkan, dalam skenario terburuk, pemerintah akan melegalkan penggunaan kantong plastik biasa untuk pembuangan sampah agar warga tidak perlu menumpuk sampah di rumah," ujarnya.