Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi Tesla, mobil listrik, perusahaan teknologi (unsplash.com/Paul Steuber)
  • Korelasi saham Magnificent Seven mencapai titik terendah lebih dari satu dekade pada 2026; ETF MAGS naik 7 persen, tertinggal dari kenaikan S&P 500 sebesar 12 persen.
  • Perbedaan eksposur dan strategi AI membuat investor menilai fundamental tiap perusahaan, termasuk pertumbuhan Azure, Google Cloud, AWS, aplikasi AI Meta, chip NVIDIA, serta robotika Tesla.
  • Apple naik sekitar 26,8 persen sepanjang 2026 berkat kekuatan produk dan App Store; NVIDIA, Alphabet, Amazon, Meta, Microsoft, dan Tesla menghadapi pendorong serta tantangan bisnis berbeda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Selama beberapa tahun terakhir, kelompok saham teknologi raksasa yang dikenal dengan sebutan Magnificent Seven menjadi perhatian utama investor di pasar saham Amerika Serikat. Kelompok ini terdiri dari tujuh perusahaan besar, yaitu Alphabet, Amazon, Apple, Meta Platforms, Microsoft, NVIDIA, dan Tesla. Pergerakan saham mereka sering dianggap saling berkaitan karena memiliki pengaruh besar terhadap pasar dan perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Akan tetapi, kondisi tersebut mulai berubah pada 2026 karena performa masing-masing perusahaan semakin menunjukkan perbedaan. Situasi ini membuat investor perlu lebih cermat dalam memilih saham, alih-alih membelinya sekaligus dengan asumsi memiliki prospek yang sama.

Kondisi Magnificent Seven tak lagi kompak menjadi pengingat bahwa perusahaan teknologi besar tetap memiliki tantangan dan peluang bisnis yang berbeda. Meskipun sama-sama terlibat dalam perkembangan AI, setiap perusahaan memiliki strategi, sumber pendapatan, dan kemampuan menghasilkan keuntungan yang tidak selalu sejalan. Lantas, apa yang membuat Magnificent Seven mulai kehilangan kekompakannya dan saham mana saja yang menarik untuk dicermati?

1. Korelasi saham Magnificent Seven mulai melemah

ilustrasi saham (pexels.com/Artem Podrez)

Selama ini, Magnificent Seven sering dipandang sebagai satu kelompok saham dengan pergerakan yang relatif searah. Ketika saham teknologi mengalami penguatan, sebagian besar anggota kelompok ini biasanya ikut mendapatkan keuntungan. Namun, pola tersebut mulai berubah pada 2026 karena korelasi pergerakan saham di antara ketujuh perusahaan mengalami penurunan.

Analisis terhadap korelasi pergerakan harian saham selama 60 hari menunjukkan bahwa rata-rata korelasi dari 21 pasangan saham Magnificent Seven baru-baru ini mencapai level terendah dalam lebih dari satu dekade. Artinya, pergerakan saham setiap perusahaan semakin tidak bergantung satu sama lain. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor mulai memberikan penilaian lebih spesifik terhadap prospek bisnis masing-masing perusahaan. Mereka gak lagi bisa menganggap ketujuh saham tersebut memiliki potensi pertumbuhan yang seragam.

Dampaknya terlihat dari performa kelompok saham ini dibandingkan pasar secara keseluruhan. Roundhill Magnificent Seven ETF (MAGS) tercatat naik 7 persen sepanjang 2026, sedangkan indeks S&P 500 sudah menguat 12 persen. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa memiliki saham perusahaan teknologi raksasa secara bersamaan belum tentu memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan mengikuti pergerakan pasar secara luas.

2. Prospek bisnis AI menjadi pembeda utama

ilustrasi teknologi AI (vecteezy.com/RIAN SRI RATNO UTOMO)

Salah satu alasan utama yang membuat pergerakan saham Magnificent Seven semakin berbeda adalah tingkat eksposur masing-masing perusahaan terhadap AI. Menurut Gil Luria, analis dari D.A. Davidson, ketujuh perusahaan tersebut memiliki eksposur AI yang berbeda-beda. Kondisi ini membuat investor perlu melakukan penilaian lebih mendalam terhadap setiap perusahaan daripada membeli seluruh sahamnya sekaligus.

Thomas DiFazio, ahli strategi ETF dari Roundhill Investments, juga menjelaskan bahwa investor semakin memperhatikan faktor fundamental yang mendorong pertumbuhan masing-masing perusahaan. Perhatian mereka tertuju pada perkembangan bisnis spesifik yang bisa menentukan keberhasilan perusahaan dalam persaingan AI. Misalnya, investor memantau pertumbuhan layanan cloud Azure milik Microsoft, perkembangan aplikasi AI konsumen Meta, hingga kemampuan NVIDIA mempertahankan permintaan terhadap chip buatannya.

Hal serupa juga terjadi pada perusahaan lainnya. Alphabet perlu membuktikan kemampuan Google Cloud, model AI Gemini, dan bisnis mesin pencarinya dalam mempertahankan pertumbuhan. Sementara itu, Amazon mengandalkan perkembangan Amazon Web Services (AWS), sedangkan Apple masih memiliki kekuatan melalui perangkat dan layanan digitalnya. Tesla bahkan mulai dinilai dari peluang bisnis robotika, robotaxi, dan AI, bukan sekadar penjualan mobil listrik.

3. Apple dan NVIDIA menunjukkan daya tarik berbeda

ilustrasi perusahaan Apple, perusahaan teknologi, smartphone, Apple store (unsplash.com/Trac Vu)

Apple menjadi salah satu perusahaan dengan perubahan penilaian paling menarik di kelompok Magnificent Seven. Pada 2025, perusahaan ini sempat menjadi salah satu anggota dengan performa terburuk karena hanya mencatatkan kenaikan saham 8,9 persen. Saat itu, Apple mendapat kritik karena dianggap kurang agresif dalam mengeluarkan belanja modal untuk mengikuti persaingan pengembangan AI.

Namun, situasinya berubah pada 2026. Harga saham Apple justru mencatatkan kenaikan sekitar 26,8 persen sepanjang tahun berjalan dan menjadi salah satu yang terbaik di kelompok tersebut. Jay Woods, kepala strategi pasar di Freedom Capital Markets, menilai Apple tetap memiliki kekuatan melalui produk dan App Store. Menurutnya, konsistensi bisnis tersebut membuat Apple memiliki daya tarik tersendiri di tengah persaingan AI.

Di sisi lain, NVIDIA menghadapi tantangan yang berbeda. Sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di sektor semikonduktor, pergerakan sahamnya cukup sensitif terhadap perubahan ekspektasi investor. Kekhawatiran mengenai keberlanjutan permintaan chip dan kemungkinan pengurangan belanja modal perusahaan teknologi sempat menekan harga sahamnya. Meski begitu, Woods menilai valuasi NVIDIA masih relatif murah dibandingkan standar historisnya dan permintaan chip yang berkelanjutan tetap menjadi faktor pendukung.

4. Alphabet dan Amazon bergantung pada pertumbuhan cloud

ilustrasi Amazon, perusahaan teknologi (unsplash.com/BoliviaInteligente)

Alphabet masih memiliki kekuatan melalui bisnis mesin pencarinya, tetapi perusahaan ini juga menghadapi persaingan dari berbagai platform AI. Investor ingin melihat apakah Gemini mampu memperkuat posisi perusahaan di industri kecerdasan buatan. Selain itu, perkembangan Google Cloud dan prospek pertumbuhan pendapatan menjadi perhatian penting dalam menilai kinerja Alphabet ke depan.

Amazon juga menghadapi penilaian serupa, terutama melalui perkembangan AWS yang menjadi salah satu penyumbang keuntungan terbesar perusahaan. Pada kuartal II 2026, pendapatan AWS tumbuh 37 persen secara tahunan. Angka tersebut memang cukup solid, tapi masih berada di bawah pertumbuhan Azure milik Microsoft sebesar 43 persen dan Google Cloud yang mencapai 82 persen pada periode terakhir yang dibahas.

Meski demikian, kamu perlu memperhatikan ukuran bisnis masing-masing perusahaan sebelum membandingkan angka pertumbuhannya. AWS memiliki skala bisnis yang jauh lebih besar dibandingkan kedua pesaingnya tersebut. Bahkan, pertumbuhan 37 persen yang dicatatkan AWS menjadi yang tertinggi dalam 18 kuartal terakhir. Artinya, meskipun persentase pertumbuhannya lebih rendah, Amazon masih menunjukkan perkembangan bisnis cloud yang cukup kuat.

5. Meta, Microsoft, dan Tesla menghadapi tantangan tersendiri

ilustrasi Microsoft, perusahaan teknologi (unsplash.com/Ed Hardie)

Meta sempat mendapatkan sentimen positif setelah aplikasi asisten AI personal bernama Muse menarik perhatian pengguna. Tingginya jumlah unduhan di App Store membuat investor mulai melihat peluang baru bagi perusahaan tersebut untuk menghasilkan pendapatan dari layanan AI konsumen. Thomas DiFazio menilai tingkat adopsi Muse menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi prospek saham Meta.

Namun, optimisme tersebut mulai menghadapi tantangan setelah Meta melaporkan arus kas bebas negatif pada kuartal III 2026. Perusahaan juga menaikkan batas bawah proyeksi belanja modal untuk tahun berjalan. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa investasi besar yang dikeluarkan untuk AI mungkin membutuhkan waktu lebih lama sebelum menghasilkan keuntungan yang sepadan.

Sementara itu, Microsoft berhasil meredakan kekhawatiran investor mengenai kemungkinan AI mengganggu bisnis perangkat lunaknya. Meski begitu, perhatian pasar kini tertuju pada perkembangan Azure dan kemampuan sahamnya menembus area resistensi 530–550 dolar AS atau sekitar Rp8,8 juta–Rp9,2 juta per saham, dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS. Tesla menghadapi tantangan berbeda karena prospek investasinya semakin bergantung pada keberhasilan pengembangan AI, robotika, dan robotaxi. Jay Woods bahkan menilai Tesla tertinggal dibandingkan anggota Magnificent Seven lainnya, sedangkan Gil Luria mempertanyakan kelayakan valuasinya yang dinilai masih mendapatkan premi karena faktor Elon Musk.

Kondisi Magnificent Seven tak lagi kompak menjadi bukti bahwa saham perusahaan teknologi besar gak selalu bergerak searah meskipun berada dalam kelompok yang sama. Apple dan NVIDIA memiliki daya tarik melalui kekuatan bisnis masing-masing, sementara Microsoft, Alphabet, dan Amazon masih perlu membuktikan kemampuan mempertahankan pertumbuhan cloud dan AI. Meta serta Tesla juga menghadapi tantangan tersendiri yang perlu diperhatikan investor.

Jadi, kalau kamu tertarik berinvestasi pada saham teknologi Amerika Serikat, sebaiknya jangan hanya mengandalkan popularitas nama perusahaan aja, ya. Perhatikan juga kondisi fundamental, strategi bisnis, valuasi, dan kemampuan setiap perusahaan menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article