Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

IHSG Anjlok 0,88 Persen ke Level 4.860 pada Perdagangan Sesi I

2 min read
IHSG Anjlok 0,88 Persen ke Level 4.860 pada Perdagangan Sesi I
Ilustrasi IHSG. (IDN Times/Aditya Pratama)
  • IHSG sesi I Rabu turun 0,88 persen atau 43,35 poin ke 4.860,937, bergerak di rentang 4.824,364–4.902,713.
  • Mayoritas saham melemah: 525 turun, 116 naik, dan 73 stagnan. Volume perdagangan mencapai 15,684 miliar saham dengan nilai transaksi Rp5,865 triliun.
  • Isu penyadapan Presiden Prabowo meningkatkan ketidakpastian politik dan premi risiko, tetapi tekanan belum menunjukkan penurunan kepercayaan luas karena yield SBN dan rupiah relatif stabil.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan sesi I, Rabu (4/11). IHSG turun 43,35 poin atau 0,88 persen ke level 4.860,937.

Pelemahan IHSG terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian politik menyusul mencuatnya isu penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto serta penetapan tiga jenderal sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Berdasarkan data RTI Business, IHSG dibuka di level 4.856,960. Sepanjang perdagangan sesi I, indeks bergerak dalam rentang 4.824,364 hingga 4.902,713.

  1. 1. Sebanyak 525 saham terpantau melemah

    Pelemahan IHSG tercermin dari mayoritas saham yang bergerak di zona merah. Sebanyak 525 saham melemah, sementara 116 menguat, dan 73 bergerak stagnan. Total volume perdagangan tercatat mencapai 15,684 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp5,865 triliun.

    Adapun frekuensi perdagangan mencapai 745.619 kali transaksi. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat sebesar Rp8.579,921 triliun.

  2. 2. Penyadapan Presiden Prabowo Subianto beri sentimen ke pasar keuangan domestik

    Sementara itu, analis mata uang, Lukman Leong, menilai dampak isu penyadapan tersebut terhadap pasar keuangan domestik cukup besar. Namun, pengaruhnya diperkirakan tidak sebesar persoalan status pasar modal Indonesia dalam evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI). Menurut Lukman, memburuknya sentimen domestik berpotensi menambah tekanan terhadap pasar saham domestik.

    "Iya, hal ini akan memperburuk sentimen domestik, terutama di pasar ekuitas. Dampaknya cukup besar, namun tidak akan sebesar masalah terkait status pasar MSCI," ujar Lukman.

  3. 3. Ketidakpastian politik naikkan premi risiko investasi

    Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, menilai ketidakpastian politik, terutama yang berkaitan dengan tata kelola pemerintahan (governance), berpotensi meningkatkan premi risiko investasi di Indonesia. Menurutnya, investor akan mencermati apakah perkembangan politik tersebut berdampak terhadap kepastian hukum, kredibilitas institusi, hingga konsistensi kebijakan pemerintah.

    "Pelemahan pasar saham tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan satu isu politik domestik," ujar Irman.

    Irman mencatat, pada penutupan perdagangan 3 November 2026, IHSG anjlok 3,78 persen ke level 4.904,29. Penurunan tersebut juga disertai aksi jual bersih investor asing sekitar Rp575 miliar.

    Namun, tekanan di pasar saham belum diikuti oleh pergerakan sebanding di pasar keuangan lainnya. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun relatif stabil di kisaran 7,71 persen, sementara pergerakan harian rupiah masih terbatas.

    "Artinya, tekanan pada aset berisiko ini belum cukup untuk menyimpulkan adanya penurunan kepercayaan yang meluas terhadap stabilitas ekonomi Indonesia akibat satu isu politik ini," ujar Irman.

Related Articles

See More