potret hakim Mahkamah Agung AS (supremecourt.gov)
Dalam sidang sebelumnya, sejumlah hakim terlihat skeptis terhadap argumen pemerintah. Ketua Mahkamah Agung John Roberts menyatakan bahwa terlepas dari motif presiden, “mekanismenya adalah pengenaan pajak kepada rakyat Amerika, dan itu selalu menjadi kewenangan inti Kongres.”
Ia juga meragukan apakah kewenangan kebijakan luar negeri presiden dapat “mengungguli kewenangan dasar Kongres tersebut.”
Hakim Amy Coney Barrett turut menyoroti potensi kerumitan pengembalian dana. “Menurut saya ini bisa menjadi kekacauan,” ujar Hakim Amy Coney Barrett.
Nilai yang dipertaruhkan dalam perkara ini diperkirakan mencapai sekitar 130 miliar dolar AS. Sejak awal 2025, pemerintah AS telah mengumpulkan lebih dari 260 miliar dolar AS bea masuk, dengan sekitar 55 persen di antaranya berasal dari tarif yang dipersoalkan dalam kasus ini, menurut estimasi Tax Foundation.
Amy Howe dari SCOTUSblog menyebut keterlambatan putusan bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kemungkinan opini mayoritas yang mempertahankan tarif atau menyerahkan isu pengembalian dana ke pengadilan yang lebih rendah.
“Apa pun hasilnya, satu hal yang jelas,” tulis Howe. “Pengadilan bertindak sesuai jadwalnya sendiri, bukan mengikuti jadwal yang diinginkan para pihak, pengamat pengadilan, maupun pers,” tambahnya.
Hakim Ketanji Brown Jackson juga menyatakan bahwa penyusunan opini memang membutuhkan waktu. “Membutuhkan waktu untuk menulis” sebuah opini, dan “pengadilan sedang melalui proses pertimbangan, dan rakyat Amerika mengharapkan kami untuk teliti dan jelas dalam setiap keputusan.”
Dengan potensi dampak ratusan miliar dolar terhadap ekonomi AS, putusan Mahkamah Agung atas tarif Trump menjadi perhatian pasar dan pelaku usaha. Arah kebijakan perdagangan AS dalam waktu dekat sangat bergantung pada bagaimana hakim memutus perkara ini.