Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Isu Damai AS-Iran Menguat

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Isu Damai AS-Iran Menguat
ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Pixabay)
Intinya Sih
  • Harga minyak dunia anjlok lebih dari 5 persen setelah muncul harapan damai antara AS, Israel, dan Iran yang memicu optimisme pasar energi global.
  • Distribusi minyak masih terganggu akibat blokade di Selat Hormuz, menahan jutaan barel minyak mentah dan membuat pemulihan pasokan butuh waktu hingga enam bulan.
  • Perundingan diplomatik AS-Iran memberi dorongan positif bagi bursa Asia, dengan indeks Nikkei 225 mencetak rekor tertinggi berkat prospek pembukaan kembali jalur energi vital.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times – Pasar minyak dunia akhirnya bisa sedikit bernapas lega. Harapan tercapainya kesepakatan damai untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran langsung memicu penurunan tajam harga minyak pada Senin (25/5/2026). Walau para pejabat AS masih menyampaikan sinyal yang campur aduk terkait arah negosiasi, sentimen positif tersebut berhasil meredam gejolak di pasar energi.

Di pasar komoditas, minyak mentah Brent jatuh lebih dari 5 persen ke level 97,90 dolar AS per barel (setara Rp1,7 juta per barel). Sementara itu, minyak mentah yang diperdagangkan di AS ikut merosot sekitar 5,9 persen menjadi 90,93 dolar AS per barel (setara Rp1,6 juta per barel).

Angka tersebut memang masih jauh di atas posisi 70 dolar AS per barel (setara Rp1,2 juta per barel) sebelum konflik pecah pada akhir Februari. Meski begitu, penurunan ini mencerminkan optimisme pasar terhadap peluang pulihnya pasokan energi global.

1. Pasokan minyak global belum pulih total

ilustrasi kilang minyak
ilustrasi kilang minyak (pexels.com/ Erik Mclean)

Meski pasar merespons positif, kondisi pasokan minyak dunia belum benar-benar berubah drastis. Analis Pasar Minyak Senior Sparta di Singapura, June Goh, menjelaskan secara fundamental distribusi minyak mentah masih tersendat selama Selat Hormuz belum dibuka kembali. Ia menyebut sekitar 10-11 juta barel minyak mentah per hari masih tertahan akibat blokade tersebut.

“Namun, pasar mengharapkan banjir 100 juta barel minyak mentah dari kapal-kapal yang terdampar untuk mengalir keluar begitu kesepakatan terwujud,” kata Goh kepada Al Jazeera.

Sparta memperkirakan proses pemulihan menuju kondisi normal membutuhkan waktu sekitar tiga hingga enam bulan. Proses itu mencakup pengaktifan kembali kapasitas produksi hingga operasional kilang minyak yang sebelumnya terganggu.

Pandangan serupa disampaikan Analis Energi MST Financial, Saul Kavonic. Ia menilai perkembangan negosiasi memang memberi sedikit angin segar bagi pasar minyak, tetapi efeknya masih bersifat terbatas dalam jangka pendek.

“Seknow ada sedikit cahaya di ujung terowongan, yang akan membawa sedikit kelegaan harga minyak dalam jangka pendek,” ujar Kavonic, dikutip BBC.

2. Selat Hormuz memicu gangguan distribusi energi

ilustrasi kapal pengangkut minyak
ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)

Fokus utama konflik ini bertumpu pada Selat Hormuz. Jalur laut vital yang mengangkut seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global itu praktis lumpuh sejak Iran memberlakukan blokade pada awal perang. Situasi tersebut makin rumit setelah AS ikut menerapkan blokade tandingan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sehingga distribusi energi di kawasan semakin terisolasi.

Presiden AS, Donald Trump, turut memengaruhi pergerakan pasar lewat pernyataannya yang berubah-ubah. Pekan lalu, Trump mengklaim draf kesepakatan damai hampir rampung, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz. Ia juga menyebut telah menjalin komunikasi positif dengan para pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, serta Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu.

Namun lewat akun Truth Social miliknya, Trump justru menahan laju ekspektasi pasar. Ia menegaskan kedua pihak perlu meluangkan waktu agar kesepakatan disusun tanpa kesalahan. Trump juga memastikan blokade ekonomi dan militer dari pihak AS tetap diberlakukan penuh sampai kesepakatan resmi dicapai, disertifikasi, dan ditandatangani.

3. Perundingan diplomatik mengangkat bursa Asia

ilustrasi grafik market (pexels.com/Romulo Queiroz)
ilustrasi grafik market (pexels.com/Romulo Queiroz)

Di sisi lain, optimisme diplomatik masih berembus dari meja perundingan. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, saat berkunjung ke Delhi, India, mengatakan para negosiator telah mengantongi poin-poin draf yang solid. Ia juga menyebut peluang tercapainya kesepakatan damai sesegera mungkin semakin terbuka.

Respons dari Teheran cenderung lebih berhati-hati. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengonfirmasi posisi kedua pihak memang semakin mendekat. Kendati demikian, ia mengingatkan agar publik tak mengharapkan penyelesaian instan untuk isu-isu krusial karena masih ada pernyataan kontradiktif dari pemerintahan AS.

Kabar dari jalur diplomasi itu langsung direspons positif oleh pasar saham Asia. Indeks Nikkei 225 di Jepang melonjak lebih dari 3 persen hingga menembus level 65 ribu dan mencetak rekor tertinggi baru sepanjang sejarah.

Sebagai negara yang sangat bergantung pada pasokan energi kawasan Teluk, Jepang dan Korea Selatan diperkirakan menjadi pihak yang paling diuntungkan jika Selat Hormuz kembali dibuka dan arus distribusi minyak global pulih normal. Momentum ini merupakan kelanjutan dari gencatan senjata yang sebelumnya disepakati pada awal April dan diteruskan melalui dialog intensif antara Washington dan Teheran. Dalam proses tersebut, Trump terus menekankan syarat bahwa kesepakatan akhir harus menutup total peluang Iran memiliki senjata nuklir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More