Mandek 28 Tahun, Konstruksi Proyek Blok Masela Dimulai 2027

- Pemerintah memastikan konstruksi proyek gas raksasa Blok Masela dimulai 2027 setelah FID rampung, dengan target produksi pada 2029–2030 di wilayah Laut Arafura, Maluku.
- Selama 28 tahun proyek ini mandek karena perdebatan panjang soal konsep pengembangan fasilitas produksi antara opsi di laut atau di darat.
- Bahlil menegaskan pemerintah kini fokus mempercepat realisasi proyek dan memberi ultimatum kepada Inpex agar segera menjalankan keputusan yang telah disepakati.
Jakarta, IDN Times - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan konstruksi proyek Blok Masela akan dimulai pada 2027 setelah Final Investment Decision (FID) rampung. Proyek gas raksasa tersebut ditargetkan mulai berproduksi pada 2029-2030.
Blok Masela adalah wilayah kerja minyak dan gas (WK Migas) yang berada di Laut Arafura, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku. Di dalam wilayah kerja tersebut terdapat Lapangan Gas Abadi (Abadi Gas Field), yang merupakan salah satu cadangan gas alam terbesar di Indonesia.
"FID-nya udah selesai, 2027 awal konstruksi dan ditargetkan 2029-2030 sudah bisa berproduksi dan itu salah satu giant yang terbesar di Indonesia," kata Bahlil dikutip dari YouTube INDEF, Jumat (26/6/2026).
1. Blok Masela sudah puluhan tahun mandek

Bahlil mengatakan pemerintah tengah mempercepat pengembangan lapangan migas yang telah memiliki Plan of Development (POD), tetapi belum juga masuk tahap produksi. Salah satunya adalah Blok Masela yang selama 28 tahun belum juga terealisasi.
"Masela ini sudah 28 tahun dikuasai oleh Inpex Jepang dan nggak selesai-selesai tahap produksi," ujar mantan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) itu.
2. Sempat terkendala perdebatan konsep pengembangan

Bahlil menjelaskan keterlambatan pengembangan Blok Masela tidak terlepas dari panjangnya pembahasan mengenai konsep pembangunan fasilitas produksi pada masa pemerintahan Presiden Joko "Jokowi" Widodo.
Menurut Bahlil, sempat terjadi perbedaan pandangan terkait pembangunan fasilitas di laut maupun di darat. Dia menyebut berbagai pandangan dari para akademisi maupun pakar perminyakan memiliki dasar pertimbangan masing-masing dalam menentukan skema pengembangan proyek tersebut.
"Itu terjadi perdebatan antara profesor doktor juga, antara laut atau darat, gitu. Memang semakin banyak titel ini semakin banyak pertimbangan, gitu. Ya, ini benar, benar, benar, benar dan semuanya benar," kata dia.
3. Pemerintah mendorong proyek segera direalisasikan

Setelah melalui berbagai kajian, pemerintah memilih opsi yang dinilai paling cepat untuk direalisasikan. Bahlil mengatakan fokus pemerintah saat ini adalah memastikan proyek yang telah diputuskan dapat segera dijalankan.
"Nah, akhirnya sudah ada keputusan, sudah ada kajian, saya kasih tahu sama Inpex, kalau lu nggak jalan saya cabut izin lu," ujar Bahlil.
















