Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengenal 5 Jenis Batu Bara, dari Gambut hingga Antrasit
Ilustrasi tambang batu bara (unsplash.com/Artyom Korshunov)
  • Batu bara terbentuk dari sisa tumbuhan purba melalui proses jutaan tahun yang dipengaruhi suhu, tekanan, dan lingkungan hingga menghasilkan berbagai tingkat kualitas.
  • Lima jenis utama batu bara meliputi gambut, lignit, sub-bituminus, bituminus, dan antrasit dengan perbedaan kadar air serta kandungan karbon yang menentukan nilai kalorinya.
  • Pemanfaatan tiap jenis bervariasi, mulai dari media tanam dan pembangkit listrik kecil hingga industri besar seperti metalurgi, kimia, serta filtrasi air.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Batu bara merupakan batuan sedimen organik yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan purba melalui proses pembatubaraan atau coalification.

Proses alami yang memakan waktu jutaan tahun ini sangat dipengaruhi oleh suhu, tekanan, dan kondisi lingkungan, yang kemudian menghasilkan berbagai tingkatan batubara dengan karakteristik berbeda.

Berikut adalah lima peringkat batubara berdasarkan proses pembentukannya!

1. Gambut

ilustrasi industri batu bara (pexels.com/Braeson Holland)

Mengutip Badan Geologi, gambut (peat) menjadi tahap awal dalam siklus pembentukan batu bara. Material ini berwarna coklat muda dan tekstur serat tumbuhannya masih terlihat jelas.

Karena kandungan airnya mencapai lebih dari 75 persen dan kadar karbonnya hanya berkisar 5-15 persen, gambut lebih banyak digunakan sebagai penyimpan karbon, pengatur air, serta media tanam.

2. Lignit

ilustrasi pengangkutan batu bara (dok PTBA)

Lignit atau batu bara coklat memiliki tekstur rapuh dengan warna kehitaman yang terkadang masih menunjukkan struktur kayu. Batu bara jenis ini memiliki kadar air sekitar 30-40 persen dan kandungan karbon antara 25-35 persen.

Nilai kalornya yang rendah membuat lignit biasanya hanya digunakan untuk industri lokal dan pembangkit listrik skala kecil.

3. Sub-Bituminus

ilustrasi tambang batu bara (pexels.com/Vikash Singh)

Jenis ini sering disebut sebagai tingkat menengah yang stabil. Secara fisik, sub-bituminus berwarna hitam pekat namun tidak mengkilap serta tidak menggumpal.

Dengan kadar air 20-30 persen dan kandungan karbon 35-45 persen, batu bara ini umumnya dimanfaatkan untuk keperluan industri semen dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

4. Bituminus

ilustrasi tambang batu bara (pixabay.com/Martina Janochová)

Bituminus (steam coal) memiliki ciri fisik hitam pekat, mengkilap, dan seringkali memperlihatkan pita-pita terang atau vitrain. Jenis ini memiliki nilai kalor yang tinggi berkat kandungan karbon sebesar 45-85 persen dan kadar air yang rendah, yakni sekitar 5-15 persen.

Penggunaannya lazim ditemukan pada industri metalurgi dan pembangkit listrik.

5. Antrasit

Angkutan batu bara PT Bukit Asam Tbk (dok. PTBA)

Antrasit merupakan peringkat tertinggi dalam klasifikasi batubara. Batuan ini memiliki tekstur keras dengan warna hitam metalik. Kandungan karbonnya sangat dominan mencapai 85-97 persen, sementara kadar airnya sangat minim di bawah 5 persen.

Karena nilai kalornya paling tinggi, antrasit digunakan untuk kebutuhan listrik, industri kimia, filtrasi air, hingga metalurgi.

Editorial Team