Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apakah Bitcoin Masih Bisa Mencetak ATH Baru pada 2026?

Apakah Bitcoin Masih Bisa Mencetak ATH Baru pada 2026?
ilustrasi investasi Bitcoin (pexels.com/Leeloo The First)
Intinya Sih
  • Harga Bitcoin sempat mencapai rekor tertinggi pada 2025 sebelum turun di awal 2026, memicu pertanyaan apakah aset ini masih bisa mencetak ATH baru.
  • Dukungan institusi dan efek halving menjadi faktor utama yang berpotensi menahan harga tetap kuat serta membuka peluang kenaikan lebih lanjut.
  • Kondisi ekonomi global dan psikologi pasar turut menentukan arah pergerakan Bitcoin, menjadikan prospek ATH baru bergantung pada kombinasi faktor tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Pergerakan Bitcoin kembali jadi perhatian setelah sempat mencetak rekor all-time high di sekitar US$126.080 pada pertengahan 2025, atau lebih dari Rp2 miliar. Namun, memasuki 2026, harganya turun ke kisaran US$80.000. Kondisi ini membuat banyak orang mulai bertanya, apakah Bitcoin masih bisa mencetak ATH baru pada 2026 atau justru sudah melewati puncaknya?

Di sisi lain, pasar kripto sekarang sudah jauh berbeda dibandingkan sebelumnya. Pergerakan Bitcoin tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen, tetapi juga oleh faktor seperti kondisi ekonomi global dan masuknya investor besar. Karena itu, untuk melihat peluang Bitcoin mencetak ATH baru, perlu memahami beberapa faktor penting yang memengaruhi arah harganya.

1. Dukungan institusi yang semakin kuat

ilustrasi uang dan bitcoin
ilustrasi uang dan bitcoin (pexels.com/David McBee)

Keterlibatan institusi menjadi salah satu faktor utama yang membedakan siklus saat ini dengan sebelumnya. Perusahaan investasi besar dan manajer aset kini mulai memasukkan Bitcoin ke dalam portofolio mereka sebagai bagian dari diversifikasi. Kehadiran produk seperti exchange-traded fund berbasis Bitcoin juga mempermudah akses bagi investor yang sebelumnya tidak terlibat langsung di pasar kripto.

Arus dana dari institusi ini cenderung lebih stabil dibandingkan dengan investor ritel, sehingga dapat menjadi penopang harga dalam jangka panjang. Selain itu, kepercayaan dari lembaga keuangan besar memberikan legitimasi tambahan terhadap Bitcoin sebagai aset investasi. Kondisi ini membuka peluang kenaikan harga yang lebih berkelanjutan, meskipun pergerakannya tidak selalu cepat.

2. Dampak halving terhadap pasokan

ilustrasi chart bitcoin
ilustrasi chart bitcoin (unsplash.com/Kanchanara)

Salah satu mekanisme penting dalam Bitcoin adalah halving, yaitu pengurangan imbalan bagi penambang yang terjadi secara berkala. Peristiwa ini secara langsung memengaruhi jumlah pasokan baru yang masuk ke pasar. Dengan pasokan yang semakin terbatas, tekanan terhadap harga cenderung meningkat jika permintaan tetap tinggi atau bahkan bertambah.

Secara historis, periode setelah halving sering diikuti oleh kenaikan harga yang signifikan, meskipun tidak selalu terjadi secara instan. Pada 2026, efek dari halving sebelumnya masih dapat dirasakan karena suplai baru tetap lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak analis masih melihat peluang Bitcoin untuk mencetak ATH baru.

3. Pengaruh kondisi ekonomi global

ilustrasi penurunan ekonomi
ilustrasi penurunan ekonomi (pixabay.com/Gerd Altmann)

Pergerakan Bitcoin saat ini semakin terhubung dengan kondisi ekonomi global, terutama kebijakan moneter dan tingkat suku bunga. Ketika suku bunga tinggi, investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset berisiko seperti kripto. Sebaliknya, ketika likuiditas meningkat, minat terhadap aset seperti Bitcoin biasanya ikut naik.

Selain itu, ketidakpastian ekonomi sering mendorong sebagian investor untuk mencari alternatif penyimpan nilai. Dalam konteks ini, Bitcoin mulai dipandang sebagai digital gold oleh sebagian kalangan. Jika kondisi ekonomi global mendukung arus dana ke aset alternatif, maka peluang kenaikan harga hingga menembus ATH menjadi lebih terbuka.

4. Siklus pasar dan psikologi investor

ilustrasi market cryptocurrency
ilustrasi market cryptocurrency (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Pasar kripto dikenal memiliki siklus yang dipengaruhi oleh sentimen dan perilaku investor. Fase optimisme biasanya mendorong harga naik secara cepat, sementara fase ketakutan dapat menyebabkan penurunan tajam. Pada tahap tertentu, ekspektasi terhadap kenaikan harga dapat menjadi pendorong utama, bahkan sebelum faktor fundamental berubah.

Namun, pada siklus yang lebih matang seperti sekarang, pergerakan harga cenderung lebih kompleks. Investor tidak hanya mengandalkan sentimen, tetapi juga mempertimbangkan data dan perkembangan industri. Kombinasi antara psikologi pasar dan faktor fundamental ini akan sangat menentukan apakah Bitcoin mampu mencetak ATH baru atau tidak.

Bitcoin masih bisa mencetak ATH baru pada 2026, namun sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Dukungan institusi, efek halving, kondisi ekonomi global, serta psikologi pasar menjadi elemen penting yang tidak bisa diabaikan. Dengan memahami faktor tersebut, arah pergerakan Bitcoin dapat dilihat dengan lebih rasional tanpa hanya bergantung pada spekulasi semata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo

Related Articles

See More