Jakarta, IDN Times - Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah di Jawa pada 9-10 Juni 2026 memunculkan pertanyaan mengenai penyebab gangguan yang sebenarnya.
Penjelasan awal yang menyebut adanya gangguan pada sistem kelistrikan dinilai belum cukup menjawab mengapa pemadaman bisa meluas di sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (Jamali), yang selama ini dirancang agar gangguan pada satu pembangkit atau elemen jaringan tidak dengan mudah menjalar ke wilayah lain.
Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai sistem Jamali seharusnya memiliki lapisan pengamanan melalui cadangan daya (reserve margin), sistem proteksi, dan redundansi jaringan yang mampu menjaga keandalan pasokan listrik ketika terjadi gangguan.
"Jika sejumlah informasi yang beredar bahwa adanya gangguan pasokan batubara yang membuat PLTU harus menurukan kapasitas pembangkitannya adalah benar, ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada sistem kelistrikan yang didominasi oleh batubara dan sistem listrik yang terpusat (centralized) merupakan ancaman keamanan pasokan energi," kata dia beberapa waktu lalu.
Dengan ketentuan cadangan daya sebesar 30 persen yang diterapkan di sistem kelistrikan PLN, gangguan pada satu titik semestinya dapat diantisipasi tanpa berujung pada pemadaman bergilir di berbagai daerah.
Atas dasar itu, IESR meminta Kementerian ESDM melakukan investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab, faktor pemicu, serta kelemahan sistem yang memungkinkan gangguan berkembang menjadi pemadaman dalam skala luas.
Lembaga tersebut juga menilai hasil investigasi perlu disampaikan secara terbuka kepada publik sebagai bentuk akuntabilitas, mengingat pemadaman listrik dalam beberapa bulan terakhir telah berdampak pada aktivitas masyarakat, dunia usaha, serta memunculkan pertanyaan mengenai keandalan sistem kelistrikan nasional.
