Nasabah Bank Bullion Meledak, Tembus 5,7 Juta dalam Setahun

- Jumlah nasabah Bank Bullion melonjak 78 persen dalam setahun, mencapai 5,7 juta orang per Februari 2026 dari sebelumnya 3,2 juta nasabah pada Februari 2025.
- Pemanfaatan emas sebagai jaminan pinjaman meningkat tajam, dengan total emas tergadai mencapai 144,7 ton atau senilai sekitar Rp102 triliun.
- Pemerintah bersama BI dan Kemenko Perekonomian memperkuat literasi keuangan melalui kolaborasi lintas lembaga yang melibatkan lebih dari 10 juta peserta untuk mendorong kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan jumlah nasabah bank bullion mengalami lonjakan signifikan dalam setahun terakhir. Hingga Februari 2026, tercatat sebanyak 5,7 juta orang telah menjadi nasabah, naik 78 persen dibandingkan Februari 2025 yang masih berada di level 3,2 juta nasabah.
“Bank Bullion itu di Februari tahun lalu jumlah nasabahnya 3,2 juta, sekarang sudah mencapai 5,7 juta, jadi itu meningkat dengan pesat,” ujar Airlangga dalam acara Aksi Klik Kuatkan Literasi dan Inklusi Keuangan untuk Kesejahteraan, Jumat (6/3/2026).
1. Pemanfaatan emas jadi pinjaman

Selain pertumbuhan nasabah, nilai emas yang digadaikan melalui Pegadaian juga mengalami peningkatan signifikan. Nilai emas yang digadaikan tercatat mencapai 144,7 ton, naik dari sebelumnya 94 ton.
"Pemanfaatan emas sebagai jaminan pinjaman juga meningkat, dengan total emas yang dimanfaatkan untuk pinjaman naik sebesar 38,5 ton atau setara Rp102 triliun," tegasnya.
2. Jumlah emas yang dikelola BSI capai 22 ton

Peningkatan serupa terjadi di Bank Syariah Indonesia (BSI), di mana jumlah emas yang dikelola melalui layanan terkait telah mencapai sekitar 22 ton. Airlangga menilai tren peningkatan ini tidak lepas dari kenaikan harga emas global serta kondisi geopolitik yang mendorong masyarakat mencari instrumen penyimpanan nilai yang lebih aman. Saat peluncuran bank bullion, harga emas global masih berada di kisaran 3.000 dolar AS per ons, kini telah melonjak hingga sekitar 5.000 dolar AS per ons.
“Ini karena pengaruh perang, memang emas menjadi safe haven dari ketidakpastian untuk simpanan, salah satunya adalah emas,” jelas Airlangga.
3. Peningkatan capaian nasabah bullion hasil kolaborasi lintas Kementerian dan Lembaga

Airlangga menyebut capaian ini tidak lepas dari kolaborasi antara Kementerian/Lembaga, Bank Indonesia (BI), dan Kementerian Koordinator Perekonomian (Kemenko), yang mendorong literasi dan kesejahteraan keuangan masyarakat. Program Gerakan Nasional Cerdas Keuangan tercatat telah melibatkan lebih dari 10 juta peserta.
Selain itu, pemerintah juga aktif memberdayakan aset tidak berwujud, termasuk sertifikasi hak atas tanah yang mencapai 97,8 persen, sertifikasi hak kekayaan intelektual sebanyak 740 ribu sertifikat, dan sertifikasi halal yang mendukung pertumbuhan UMKM di berbagai sektor.
"Dengan berbagai program ini, pemerintah dan lembaga keuangan berupaya memperkuat stabilitas ekonomi, menjaga nilai tukar rupiah, dan meningkatkan literasi serta kesejahteraan keuangan masyarakat," tegasnya.



















