Masyarakat Eswatini (commons.wikimedia.org/Sphiwe Clememtine Mkhabela)
Selain lima nama teratas, Broadband Genie mencatat sejumlah negara dan wilayah lain. Mereka memiliki biaya internet tetap yang jauh lebih mahal dibandingkan harga internet rata-rata global. Berikut daftarnya berdasarkan rata-rata harga broadband bulanan
Negara dengan internet termahal di dunia
Peringkat | Negara/Wilayah | Biaya per Bulan |
1 | Wallis dan Futuna | US$373,88 / sekitar Rp6,6 juta |
2 | Turkmenistan | US$286,24 / sekitar Rp5,1 juta |
3 | Turks dan Caicos Islands | US$252 / sekitar Rp4,5 juta |
4 | Saint Barthélemy | US$207,26 / sekitar Rp3,7 juta |
5 | Eswatini | US$193,31 / sekitar Rp3,4 juta |
6 | Suriah | US$189,92 / sekitar Rp3,4 juta |
7 | Burundi | US$186,46 / sekitar Rp3,3 juta |
8 | Komoro | US$175,12 / sekitar Rp3,1 juta |
9 | Cayman Islands | US$167,39 / sekitar Rp3 juta |
10 | British Virgin Islands | US$155 / sekitar Rp2,7 juta |
Sumber: Global Broadband Price League 2026 dari Broadband Genie Data tersebut berasal dari pemeringkatan Broadband Genie yang mengukur harga paket fixed-line broadband, bukan tarif internet seluler. Studi ini menggunakan harga yang dikumpulkan dari situs resmi penyedia layanan internet lokal atau situs perbandingan broadband tepercaya. Menariknya, 18 dari 25 pasar broadband termahal di dunia merupakan negara atau wilayah kepulauan. Hal ini memperlihatkan bahwa lokasi geografis memiliki kaitan kuat dengan biaya internet, terutama ketika sebuah wilayah membutuhkan infrastruktur khusus untuk terhubung dengan jaringan global.
Bagi konsumen, harga internet yang murah tentu menjadi keuntungan karena koneksi digital zaman sekarang semakin berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga dan kegiatan bisnis. Sebaliknya, biaya broadband yang mencapai jutaan rupiah per bulan dapat menjadi beban besar, terutama di wilayah yang pendapatannya tidak sebanding dengan harga layanan. Menurut kamu, apakah biaya internet di Indonesia saat ini sudah cukup murah dibandingkan negara lain?