Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Nike PHK 1.400 Karyawan Global demi Efisiensi
Logo Nike (unsplash.com/wu yi)
  • Nike mem-PHK sekitar 1.400 karyawan global, terutama di divisi teknologi dan operasional, sebagai langkah efisiensi menghadapi penurunan penjualan beberapa tahun terakhir.
  • Perusahaan menjalankan strategi 'Win Now' dengan restrukturisasi besar, termasuk penggabungan rantai pasok, pemusatan teknologi di dua lokasi utama, dan penyesuaian fungsi manufaktur Converse.
  • Kinerja keuangan Nike tertekan akibat turunnya penjualan global hingga 4 persen dan persaingan ketat dengan merek lain, mendorong fokus baru pada produk inti seperti lari dan sepak bola.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perusahaan perlengkapan olahraga asal Amerika Serikat (AS), Nike, mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 1.400 karyawannya secara global pada Kamis (23/4/2026). Keputusan ini diambil sebagai langkah efisiensi di tengah upaya perusahaan mengatasi penurunan penjualan dalam beberapa tahun terakhir.

Pemangkasan ini berfokus pada karyawan divisi teknologi dan operasional yang berada di kawasan Amerika Utara, Asia, dan Eropa. Jumlah karyawan yang terdampak tersebut setara dengan kurang dari dua persen total tenaga kerja global Nike saat ini.

1. Nike terapkan strategi transformasi untuk perbaiki kinerja perusahaan

potret logo Nike (unsplash.com/mojtaba mosayebzadeh)

Chief Operating Officer Nike, Venkatesh Alagirisamy, menyampaikan pengumuman ini melalui memo internal kepada karyawan. Ia menjelaskan, langkah ini adalah bagian dari strategi operasional perusahaan yang diberi nama "Win Now".

"Kami telah mengambil langkah terencana di seluruh jenjang perusahaan untuk memperkuat fondasi, meningkatkan daya saing, dan membangun model bisnis yang menghasilkan pertumbuhan jangka panjang," kata Alagirisamy, dilansir RTE.

Pemangkasan ini merupakan tahap PHK kedua yang dilakukan Nike sepanjang tahun 2026. Sebelumnya, pada Januari lalu, perusahaan mengurangi sekitar 775 posisi di pusat distribusi AS untuk mempercepat proses otomatisasi. Alagirisamy menyatakan, kebijakan ini merupakan kelanjutan dari proses penyesuaian operasional yang sedang berjalan.

Restrukturisasi ini juga meliputi perubahan struktur tim dan lokasi kerja dalam beberapa minggu ke depan. Perusahaan berencana membuat organisasi yang lebih ramping, sesuai dengan kebutuhan bisnis, dan dapat beradaptasi dengan perubahan industri olahraga.

2. Nike lakukan tiga perubahan operasional

potret logo Nike (unsplash.com/Paul Steuber)

Memo internal tersebut menjelaskan tiga perubahan operasional utama yang mendasari pengurangan karyawan. Pertama, penggabungan rantai pasok bahan baku ke dalam tim rantai pasok alas kaki dan pakaian yang sudah ada. Kedua, pemusatan kegiatan teknologi di dua lokasi utama, yakni kampus Philip H. Knight di Beaverton, Oregon, dan Nike India Technology Center. Ketiga, pemindahan sebagian fungsi manufaktur dan rekayasa merek Converse agar berlokasi lebih dekat dengan mitra pabrik.

Nike juga memperbarui fasilitas Air Manufacturing Innovation di Beaverton, St. Louis, dan Vietnam. Perubahan ini bertujuan untuk menyederhanakan proses dan menyesuaikan jumlah staf dengan kebutuhan bisnis perusahaan.

"Perubahan ini bertujuan agar perusahaan beroperasi dengan lebih sederhana dan lebih cepat tanggap," kata Alagirisamy, dilansir Yahoo Finance.

Karyawan yang terdampak akan menerima pemberitahuan dari pimpinan dan bagian sumber daya manusia. Nike menyatakan akan menyediakan informasi dan dukungan bagi karyawan selama masa transisi ini.

3. Penurunan target penjualan dan persaingan pasar pengaruhi bisnis Nike

sepatu Nike Air Zoom Pegasus (nike.com)

Kebijakan ini berkaitan dengan kondisi kinerja keuangan perusahaan. Nike memperkirakan penurunan penjualan sebesar 2 hingga 4 persen pada kuartal berjalan. Pasar China diperkirakan akan mengalami penurunan penjualan hingga 20 persen. Nilai saham Nike juga tercatat menurun dalam tiga tahun terakhir karena persaingan dengan merek lain seperti On, Hoka, dan Anta.

CEO Nike, Elliott Hill, yang menjabat sejak 2024, berencana mengembalikan fokus merek pada produk utama seperti perlengkapan lari dan sepak bola, serta mempercepat peluncuran sepatu baru ke pasar. Namun, ia menyebutkan proses perbaikan kinerja perusahaan membutuhkan waktu.

"Kemajuan rencana pemulihan ini ternyata memakan waktu lebih lama dari yang saya harapkan," kata Elliott Hill.

Analis Morningstar, David Swartz, menilai pengurangan karyawan terbaru ini menunjukkan adanya kendala operasional yang lebih besar dari perkiraan awal. Ia menyebutkan Nike berpotensi mengalami kelebihan staf karena manajemen sebelumnya merekrut tenaga kerja dalam jumlah besar, terutama di bidang teknologi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team