Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Nilai Tukar Petani Turun Tipis ke 127,65 pada Juni, Ini Penyebabnya
Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)
  • Nilai Tukar Petani (NTP) Juni 2026 turun tipis 0,06 persen ke 127,65 karena kenaikan harga yang diterima petani lebih rendah dibandingkan biaya yang mereka keluarkan.
  • Hanya subsektor tanaman pangan yang mencatat kenaikan NTP sebesar 0,75 persen, sementara hortikultura, perkebunan rakyat, peternakan, dan perikanan mengalami penurunan.
  • Harga beras naik di seluruh rantai distribusi pada Juni 2026, dengan kenaikan tertinggi di tingkat penggilingan sebesar 0,97 persen secara bulanan dan 6,96 persen secara tahunan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani (NTP) pada Juni 2026 sebesar 127,65 atau turun tipis 0,06 persen dibandingkan Mei 2026. Penurunan NTP terjadi karena kenaikan indeks harga yang diterima petani lebih rendah dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, pada Juni 2026, indeks harga yang diterima petani naik 0,49 persen, namun tidak mampu mengimbangi kenaikan indeks harga yang dibayar petani.

"Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juni 2026 tercatat sebesar 127,65 atau turun tipis 0,06 persen dibandingkan Mei 2026," ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Rabu (1/7/2026).

1. Komoditas penopang kenaikan indeks harga yang diterima petani

Petani terdampak potong leher di desa Pragak memilih panen padinya lebih cepat untuk hindari kerugian besar. IDN Times/ Riyanto.

Kenaikan indeks harga yang diterima petani ditopang oleh sejumlah komoditas, antara lain gabah, karet, bawang merah, dan jagung. Sementara itu, kenaikan indeks harga yang dibayar petani dipengaruhi oleh naiknya harga bawang merah, bensin, bawang putih, dan beras.

Berdasarkan subsektor, hanya tanaman pangan yang mencatat kenaikan NTP, yakni sebesar 0,75 persen menjadi 114,65. Sebaliknya, NTP subsektor hortikultura turun 0,42 persen menjadi 139,99 dari 140,58 pada Mei 2026.

NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat juga turun 0,46 persen menjadi 163,49 dari 164,24. Penurunan terdalam terjadi pada subsektor peternakan. NTP subsektor ini turun 1,85 persen menjadi 101,94 dari 103,86 pada bulan sebelumnya.

"Dari seluruh subsektor, hanya tanaman pangan yang mengalami peningkatan NTP pada Juni. Sementara hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan, dan perikanan mengalami penurunan," kata Ateng.

2. Nilai tukar nelayan turun tipis 0,01 persen

Ilustrasi kapal nelayan di Muara Angke (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Adapun NTP subsektor perikanan turun 0,21 persen menjadi 106,78. Angka tersebut terdiri dari NTN nelayan yang turun tipis 0,01 persen menjadi 107,47 dan NTP pembudidaya ikan yang turun 0,53 persenmenjadi 105,69.

Menurut Ateng, penurunan Nilai Tukar Nelayan (NTN) dipicu kenaikan indeks harga yang diterima nelayan sebesar 0,76 persen, yang masih lebih rendah dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar nelayan sebesar 0,77 persen.

"Dengan kata lain, biaya yang harus dikeluarkan nelayan meningkat lebih cepat dibandingkan tambahan pendapatan yang mereka peroleh dari hasil tangkapan. Dia menyebut komoditas yang mendorong kenaikan harga yang diterima nelayan antara lain ikan cakalang, layang, tongkol, dan juga ikan kembung," tuturnya.

3. Harga beras naik di seluruh rantai distribusi pada Juni 2026

Ilustrasi Bantuan Pangan Beras dari Perum Bulog. (Dok. Bapanas)

BPS juga mencatat harga beras rata-rata di seluruh mata rantai distribusi naik pada Juni 2026. Di tingkat penggilingan, harga beras naik 0,97 persen secara bulanan (month to month/mtm). Sementara itu, harga beras di tingkat grosir meningkat 0,82 persen mtm dan di tingkat eceran naik 0,45 persen mtm. Secara tahunan (year on year/yoy), rata-rata harga beras tercatat naik 6,96 persen.

Lebih rinci, harga beras premium di tingkat penggilingan meningkat 1,01 persen mtm dan melonjak 11,66 persen yoy. Adapun harga beras medium naik 0,96 persen mtm dan 5,10 persen yoy. Di tingkat grosir, inflasi beras tercatat sebesar 0,82 persen mtm dan 5,12 persen yoy. Sementara di tingkat eceran, inflasi beras mencapai 0,45 persen mtm dan 3,98 persen yoy.

"Harga beras yang kami sampaikan merupakan harga rata-rata beras yang mencakup berbagai jenis kualitas dan juga mencakup seluruh wilayah di Indonesia," ucapnya.

Editorial Team

Related Article