Jakarta, IDN Times - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan penerbitan Surat Utang Negara (SUN) berdenominasi yuan atau Panda Bond dinilai menjadi alternatif pembiayaan yang strategis bagi pemerintah.
Kendati menawarkan diversifikasi sumber pendanaan di luar pasar dolar Amerika Serikat (AS) dan yen Jepang, instrumen ini bukan berarti otomatis memberikan biaya pinjaman yang lebih murah.
Menurutnya secara nominal kupon Panda Bond memang lebih rendah dibandingkan obligasi global Indonesia yang diterbitkan dalam dolar AS. Namun, rendahnya kupon tersebut tidak serta-merta mencerminkan biaya pendanaan yang lebih murah karena pemerintah tetap harus memperhitungkan biaya lindung nilai (hedging) serta risiko pergerakan nilai tukar.
"Perbedaan kupon bukan berarti penghematan biaya secara langsung karena tetap ada biaya lindung nilai dan risiko pergerakan mata uang. Dalam praktiknya, biaya tersebut bisa mengurangi bahkan menghilangkan keuntungan dari selisih bunga," ujarnya saat dihubungi, Sabtu (25/7/2026).
