Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Panda Bond Bukan Sekadar Kejar Bunga Murah, tapi Diversifikasi
Ilustrasi obligasi (IDN Times/Aditya Pratama)

Jakarta, IDN Times - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan penerbitan Surat Utang Negara (SUN) berdenominasi yuan atau Panda Bond dinilai menjadi alternatif pembiayaan yang strategis bagi pemerintah.

Kendati menawarkan diversifikasi sumber pendanaan di luar pasar dolar Amerika Serikat (AS) dan yen Jepang, instrumen ini bukan berarti otomatis memberikan biaya pinjaman yang lebih murah.

Menurutnya secara nominal kupon Panda Bond memang lebih rendah dibandingkan obligasi global Indonesia yang diterbitkan dalam dolar AS. Namun, rendahnya kupon tersebut tidak serta-merta mencerminkan biaya pendanaan yang lebih murah karena pemerintah tetap harus memperhitungkan biaya lindung nilai (hedging) serta risiko pergerakan nilai tukar.

"Perbedaan kupon bukan berarti penghematan biaya secara langsung karena tetap ada biaya lindung nilai dan risiko pergerakan mata uang. Dalam praktiknya, biaya tersebut bisa mengurangi bahkan menghilangkan keuntungan dari selisih bunga," ujarnya saat dihubungi, Sabtu (25/7/2026).

1. Panda bond diterbitkan bukan hanya untuk mengejar biaya pinjaman yang rendah

Ilustrasi Obligasi/Surat Berharga. (IDN Times/Aditya Pratama)

Ia mengatakan manfaat utama penerbitan Panda Bond bukan semata mengejar biaya pinjaman yang rendah.

Instrumen ini lebih ditujukan untuk memperluas basis investor pemerintah, mengurangi ketergantungan terhadap pasar obligasi domestik, serta menyediakan alternatif pembiayaan ketika kondisi pasar dolar AS kurang kondusif.

2. Surat utang denominasi dolar AS masih jadi sumber pembiayaan utama pemerintah

Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Meski demikian, pasar dolar AS dinilai masih akan menjadi sumber pembiayaan utama pemerintah. Pasalnya, pasar tersebut memiliki likuiditas dan kedalaman yang jauh lebih besar dibandingkan pasar obligasi dalam mata uang yuan atau reminbi.

Selain itu, penerbitan Panda Bond juga diperkirakan belum akan memberikan dampak signifikan terhadap penguatan nilai tukar rupiah dalam jangka panjang.

"Memang ada tambahan pasokan valas dalam jangka pendek, tetapi kewajiban pemerintah tetap berada dalam mata uang asing sehingga risiko kurs tetap ada. Risiko tersebut hanya berpindah dari dolar ke renminbi. Lindung nilai alami baru akan lebih kuat jika pemerintah memiliki penerimaan atau kebutuhan pembayaran dalam yuan yang cukup besar," jelasnya.

3. Diversifikasi sumber pembiayaan bukan jadi pengganti utama sumber pembiayaan

ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt)

Dalam jangka panjang, Panda Bond dipandang sebagai instrumen diversifikasi sumber pembiayaan, bukan pengganti utama penerbitan utang pemerintah.

Menurutnya, rencana pemerintah menerbitkan Panda Bond hingga 30 miliar yuan dalam dua tahun ke depan menunjukkan instrumen tersebut akan menjadi bagian dari strategi pembiayaan negara. Namun, porsinya masih relatif kecil dibandingkan total kebutuhan pembiayaan pemerintah setiap tahun.

Ia menambahkan, agar Panda Bond memiliki peran yang lebih strategis, Indonesia perlu memperdalam pasar lindung nilai rupiah terhadap yuan sekaligus memperkuat hubungan perdagangan dan arus kas dalam mata uang yuan.

"Agar benar-benar strategis, pasar lindung nilai rupiah terhadap yuan harus lebih berkembang dan Indonesia perlu memiliki hubungan arus kas dalam yuan yang lebih kuat," jelasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article