Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Peluang Bisnis dari Kebiasaan Konsumen yang Beralih ke Produk Murah

3 min read
3 Peluang Bisnis dari Kebiasaan Konsumen yang Beralih ke Produk Murah
ilustrasi online shop (Pexels.com/iMin Technology)
  • Konsumen tetap berbelanja kebutuhan, tetapi makin selektif dengan membandingkan harga, mencari alternatif, dan mengurangi jumlah pembelian dalam satu transaksi.
  • Pengusaha dapat mengembangkan private label sebagai alternatif terjangkau dengan manfaat jelas; 68% konsumen global menilai private label alternatif baik bagi merek terkenal.
  • Peluang lain mencakup produk lokal pengganti merek premium serta kemasan kecil, satuan, atau trial agar konsumen tetap bisa membeli sesuai anggaran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika harga kebutuhan terus menjadi pertimbangan, konsumen mulai lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang. Salah satu perubahan yang terlihat adalah kebiasaan memilih produk dengan harga lebih terjangkau dibandingkan sebelumnya. Bukan berarti konsumen berhenti berbelanja. Mereka masih membeli berbagai kebutuhan, tetapi mulai membandingkan harga, mencari alternatif, atau mengurangi jumlah pembelian dalam satu transaksi.

Bagi pengusaha, perubahan ini sebenarnya bukan hanya tantangan. Ada peluang untuk mengikuti ke mana konsumen berpindah tanpa harus menunggu daya beli mereka kembali seperti sebelumnya. Berikut tiga peluang bisnis yang bisa dipertimbangkan!

  1. 1. Mengembangkan private label atau merek sendiri

    ilustrasi produk UMKM (Pexels.com/Kampus Production)
    ilustrasi produk UMKM (Pexels.com/Kampus Production)

    Ketika konsumen mulai meninggalkan merek tertentu karena harganya dianggap terlalu mahal, mereka tetap membutuhkan produk dalam kategori yang sama. Kondisi ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menawarkan produk dengan merek sendiri atau private label. Misalnya, pemilik toko kebutuhan rumah tangga dapat mengembangkan merek sendiri untuk produk pembersih. Pemilik toko makanan dapat menjual camilan dengan merek sendiri. Begitu pula bisnis kecantikan atau fesyen yang dapat mengembangkan produk dengan identitas mereknya sendiri.

    Keunggulan private label adalah pelaku usaha memiliki ruang yang lebih besar untuk mengatur produk, harga, dan positioning. Produk tidak harus menjadi yang paling murah, tetapi bisa ditawarkan sebagai alternatif dengan harga yang lebih terjangkau dan manfaat yang tetap jelas. Tren ini juga bukan sekadar soal menjual barang murah. Shopify, mengutip data NielsenIQ, mencatat 68 persen konsumen global kini melihat private label sebagai alternatif yang baik terhadap merek terkenal, sedangkan 69 persen menilai produk tersebut menawarkan value yang baik.

  2. 2. Menawarkan produk lokal sebagai alternatif merek premium

    ilustrasi produk UMKM (Pexels.com/Kampus Production)
    ilustrasi produk UMKM (Pexels.com/Kampus Production)

    Peluang berikutnya adalah menyasar konsumen yang mulai meninggalkan produk premium, tetapi masih menginginkan fungsi dan pengalaman yang serupa. Produk lokal bisa menjadi salah satu alternatif tersebut. Contohnya, konsumen yang sebelumnya membeli produk olahraga impor dapat mencoba merek lokal.

    Kuncinya bukan sekadar memasang harga lebih rendah. Produk lokal tetap perlu menawarkan alasan yang kuat mengapa konsumen layak berpindah, seperti kualitas, desain, bahan, rasa, layanan, atau keunikan produk. Bagi pelaku usaha lokal, situasi ini bisa menjadi kesempatan untuk masuk ke kategori yang sebelumnya didominasi merek premium dengan menawarkan kombinasi harga, kualitas, dan manfaat yang lebih relevan bagi konsumen.

  3. 3. Menyediakan produk dengan ukuran atau kemasan ekonomis

    ilustrasi warung (Pexels.com/Paolo Sanchez)
    ilustrasi warung (Pexels.com/Paolo Sanchez)

    Ketika daya beli rendah, konsumen yang biasanya membeli kemasan besar mulai memilih kemasan lebih kecil. Orang yang biasanya membeli paket lengkap mungkin memilih produk satuan. Ada pula konsumen yang memilih ukuran trial terlebih dahulu sebelum membeli produk dalam ukuran penuh. Perubahan kebiasaan ini bisa menjadi peluang bagi pengusaha untuk menyediakan lebih banyak pilihan ukuran dan harga.

    Misalnya, produsen minuman dapat menawarkan kemasan kecil untuk pembelian sekali konsumsi. Sementara, bisnis kebutuhan rumah tangga bisa menyediakan produk dalam ukuran ekonomis yang lebih mudah masuk ke anggaran konsumen. Strategi tersebut membuat konsumen tetap memiliki kesempatan membeli tanpa harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar sekaligus. Bagi pengusaha, ini juga bisa menjadi cara untuk mengikuti perubahan kemampuan belanja konsumen tanpa harus terus-menerus memberikan diskon.

    Kebiasaan konsumen beralih ke produk yang lebih murah tidak selalu berarti pasar sedang kehilangan pembeli. Konsumen tetap membutuhkan makanan, produk rumah tangga, pakaian, kosmetik, hingga berbagai kebutuhan lainnya. Hanya saja, mereka semakin selektif dalam menentukan produk mana yang dianggap layak dibeli.

    Karena itu, pengusaha tidak harus menunggu sampai daya beli masyarakat kembali seperti sebelumnya. Justru, perubahan perilaku konsumen saat ini bisa menjadi petunjuk untuk menyesuaikan produk dan model bisnis. Mulai dari membangun private label, menawarkan produk lokal sebagai alternatif merek premium, hingga menyediakan ukuran yang lebih ekonomis, peluangnya ada pada bisnis yang mampu memberikan nilai yang terasa sepadan dengan uang yang dikeluarkan konsumen.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More