Jakarta, IDN Times - Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Sumatra pada akhir Mei dan berlanjut di sejumlah wilayah Jawa-Bali sepanjang Juni 2026 dinilai memperlihatkan masih lemahnya ketahanan energi nasional. Gangguan itu disebut mengungkap tingginya ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil, keterbatasan jaringan transmisi, serta lambatnya pengembangan energi terbarukan.
"Pemadaman listrik bukan hanya mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari, tetapi juga dapat mempengaruhi iklim investasi dan produktivitas industri," kata ekonom Senior INDEF sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Berly Martawardaya dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6/2026).
Berly menyoroti kondisi sektor kelistrikan nasional yang masih sering mengalami gangguan di tengah pasokan listrik yang kerap berlebih. Menurutnya, persoalan itu berkaitan dengan dominasi batu bara dalam sistem pembangkitan listrik nasional.
Program pembangunan pembangkit 35 gigawatt (GW) yang berjalan sejak 2015 hingga 2029 sebagian besar bertumpu pada PLTU batu bara. Akibatnya, pasokan listrik sangat bergantung pada komoditas yang rentan terhadap gejolak harga maupun gangguan distribusi.
