Pemerintah Masih Izinkan Impor Solar CN51 Buat Industri di 2026

- Solar CN51 masih boleh diimpor untuk keperluan khusus
- Program B40 berhasil menurunkan impor solar dari 8,3 juta ton menjadi 5 juta ton
- Konversi ke B40 menghemat devisa Rp130,21 triliun dan menurunkan emisi karbon sebesar 38,88 juta ton CO₂
Jakarta, IDN Times - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan setop impor solar pada 2026 seiring rencana penerapan B50 dan mulai beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kalimantan Timur.
B50 adalah bahan bakar solar yang dicampur 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit (FAME) dan 50 persen solar fosil. Uji coba ditargetkan rampung pada semester I-2026. Selanjutnya, akan dievaluasi sebelum kebijakan tersebut ditetapkan secara penuh.
"Dengan demikian, kalau B50 kami pakai dan RDMP di Kalimantan Timur yang Insya Allah diresmikan dalam waktu dekat sudah terjadi, maka tidak akan melakukan impor solar lagi di 2026," kata Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, di Jakarta, dikutip Sabtu (10/1/2026).
1. Masih ada solar tertentu yang boleh diimpor

Bahlil menjelaskan, terdapat dua jenis solar yang digunakan di dalam negeri. Solar dengan spesifikasi Cetane Number (CN) 48 digunakan secara umum, seperti untuk kendaraan dan fasilitas publik.
Sementara itu, solar dengan spesifikasi CN51 merupakan solar berkualitas lebih tinggi yang dibutuhkan untuk keperluan khusus, seperti alat berat di wilayah bersuhu dingin dan dataran tinggi. Menurutnya, kemampuan produksi solar spesifikasi CN51 di dalam negeri hingga saat ini belum mencukupi.
"Nah untuk solar 51 ini, kami masih ada opsi impor dari luar karena untuk industri dalam negeri belum cukup. Kalau tidak, nanti industri orang akan tidak bisa berjalan," ujar Bahlil.
2. Penurunan impor solar sudah terlihat dari program B40

Bahlil menyampaikan kebijakan mandatori biodiesel telah berdampak pada penurunan impor solar. Dia mencatat impor solar Indonesia pada 2024 masih berada di kisaran 8,3 juta ton, namun diperkirakan turun menjadi sekitar lima juta ton pada 2025.
"Saya bersyukur, impor solar kita di 2024 itu masih kurang lebih sekitar 8,3 juta ton. Kemudian, impor kita di 2025 turun menjadi kurang lebih lima juta ton. Jadi, ini akibat dari apa? Program biodiesel kita, B40," kata dia.
3. Biodiesel menghemat devisa dan beri nilai tambah

Selain menekan impor, Bahlil mengklaim program biodiesel juga memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan. Dia menyampaikan penghematan devisa dari konversi ke B40 mencapai Rp130,21 triliun. Dari sisi lingkungan, konversi tersebut diklaim mampu menurunkan emisi karbon sebesar 38,88 juta ton CO₂. Sementara dari sisi hilirisasi, peningkatan nilai tambah dari pengolahan crude palm oil (CPO) menjadi fatty acid methyl ester (FAME) atau biodiesel mencapai Rp20,43 triliun.
"Jadi dari CPO, kami tingkatkan menjadi FAME, biodiesel, itulah kemudian ada peningkatan nilai tambah," ujar Bahlil.


















