Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pengusaha Australia Sebut BUMN Khusus Ekspor Bentuk Praktik Monopsoni

Pengusaha Australia Sebut BUMN Khusus Ekspor Bentuk Praktik Monopsoni
ilustrasi ekspor (IDN Times/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Edward Buckingham menilai rencana pembentukan BUMN khusus ekspor oleh Presiden Prabowo sebagai praktik monopsoni yang berpotensi mengontrol harga dan arah perdagangan komoditas Indonesia.
  • Pemerintah melalui Mendag Budi Santoso menegaskan tujuan pembentukan BUMN ekspor adalah memperkuat posisi Indonesia dalam menentukan harga komoditas utama seperti CPO di pasar internasional.
  • Kebijakan ini diarahkan untuk mengonsolidasikan ekspor di bawah kendali negara agar Indonesia memiliki posisi tawar lebih kuat dan mampu menetapkan harga produk strategisnya sendiri di pasar global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Chief Victoria Chapter Australia Indonesia Business Council (AIBC), Edward Buckingham menyebutkan, pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) khusus ekspor yang diumumkan Presiden Prabowo merupakan sebuah praktik monopsoni.

Untuk diketahui, monopsoni merupakan bentuk pasar yang dilakukan oleh sekelompok pembeli yang dapat menentukan harga. Kinerja dari pasar dengan persaingan tidak sempurna ini kerap kali dianggap merugikan pedagang.

Pasar monopsoni merupakan wujud dari pasar yang hanya terdapat satu pelanggan. Pelanggan tersebut berbentuk korporasi dengan peran sebagai satu-satunya pembeli yang akan mengontrol terhadap situasi atau konten perdagangan.

"Itu semacam monopsoni, bukan monopoli, tapi monopsoni. Istilahnya semua barang itu harus dijual kepada satu badan yang akan mewakili semua pihak Indonesia dari penjualannya dan ini sebaliknya daripada monopoli, tapi istilahnya sama, mengontrol," tutur Edward, Kamis (21/5/2026).

1. Alasan Prabowo ingin memegang kontrol atas ekspor

antarafoto-presiden-prabowo-berpidato-dalam-rapat-paripurna-dpr-1779250560.jpg
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna ke-19 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Meski begitu, Edward menyatakan, publik perlu bertanya mengapa Presiden Prabowo ingin pemerintah punya kontrol sepenuhnya atas ekspor terutama industri pertambangan dan kelapa sawit.

Menurut Edward, keinginan Prabowo itu tidak lepas dari kondisi industri-industri tersebut yang apakah sudah cukup menanamkan keuntungannya di Indonesia dan memberikan rakyat Indonesia kesejahteraan dari industri-industri itu.

"Nah, saya tidak mau menjawab secara pasti, tapi kalau saya melihat berita rasanya industri-industri itu not pulling their weight. Jadi industri mau masuk ini sudah keadaan susah, ada masalah di timur tengah, ada masalah fiskal, ada banyak perubahan yang harus dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, harus menanam modal," ujar Edward.

Edward menambahkan, ada kecemasan tersendiri dari pemerintah, khususnya Prabowo untuk segera melakukan pembentukan BUMN khusus ekspor terlebih dalam kurun waktu 10 tahun lagi bonus demografi Indonesia akan habis.

2. Memperkuat posisi Indonesia dalam pembentukan harga komoditas andalan

20260521_112610(1).jpg
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso di Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian, Jakarta, Kamis (21/5/2026). (IDN Times/Trio Hamdani)

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso mengatakan pemerintah ingin pembentukan BUMN khusus ekspor dapat memperkuat posisi Indonesia dalam menentukan harga komoditas andalan.

Menurut dia, Indonesia sebagai eksportir minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) terbesar dunia semestinya memiliki pengaruh lebih besar terhadap pembentukan harga di pasar internasional. Oleh karena itu, pemerintah menilai skema ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dapat menjadi langkah untuk memperkuat posisi tawar Indonesia.

"Nah dengan harapan harganya akan lebih bagus, yang seperti saya sampaikan tadi karena kita yang punya produk. CPO aja kan kita ekspor nomor satu, seharusnya harga juga dari kita yang paling menentukan," katanya kepada jurnalis di Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

3. Perkuat posisi tawar Indonesia di pasar dunia

Ilustrasi buah kelapa sawit
Ilustrasi buah kelapa sawit (pixabay.com/tristantan)

​Fokus utama dari kebijakan baru pemerintah adalah mengonsolidasikan ekspor komoditas di bawah kendali BUMN. Strategi itu dirancang agar Indonesia tidak sekadar menjadi pengikut tren harga, melainkan menjadi pihak yang memiliki wewenang untuk menetapkan harga.

Mengingat dominasi Indonesia sebagai negara pengekspor CPO terbesar, Budi menekankan pentingnya memaksimalkan potensi tersebut agar Indonesia bisa mengatur alur dan nilai jual produknya sendiri di level internasional.

"Nah sebenarnya kan maksudnya ketika BUMN, BUMN ekspor kan komoditasnya itu kan punya kita ya. Kita yang ekspor, katakanlah CPO aja kan kita nomor satu ekspornya. Maksudnya biar kita itu mempunyai bargaining position yang kuat dalam menentukan harga," tutur dia.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More