Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)
Berbeda dengan Indonesia, S&P justru menilai Malaysia berada dalam posisi cukup kuat untuk menghadapi guncangan energi global, sehingga peringkat kreditnya diperkirakan dapat bertahan meski tekanan berlangsung lebih lama. Negara ini memiliki produksi energi domestik yang besar dan ekonominya relatif terdiversifikasi.
Kenaikan biaya subsidi bahan bakar memang dapat menekan posisi fiskal dan utang pemerintah. Namun, kekuatan kredit pemerintah, termasuk pasar modal domestik yang dalam dan tren pertumbuhan ekonomi yang sehat, membuat kemungkinan penurunan fiskal sekali saja atau kenaikan moderat rasio utang tidak langsung memicu perubahan peringkat.
"Hal ini juga karena kami sudah memperhitungkan rasio utang pemerintah bersih yang relatif tinggi, sekitar 69 persen dari PDB," tegas S&P.
Prospek ekonomi dan fiskal Thailand (BBB+/Stable/A-2) diperkirakan melemah pada 2026. Meski begitu, cadangan kredit yang ada dinilai cukup untuk meredam dampak tersebut. Dalam skenario guncangan energi yang tajam, Thailand menghadapi risiko perlambatan ekonomi dan akumulasi utang pemerintah yang lebih cepat, yang dapat menekan ruang fiskal dan menurunkan pertumbuhan ekonomi di bawah dua persen pada 2026.
Meski demikian, pemerintah Thailand tetap memiliki kekuatan kredit penting, termasuk kondisi moneter dan eksternal yang sehat, sehingga negara ini dapat bertahan dari tekanan besar pada tingkat peringkat saat ini.
"Kebijakan fiskal yang lebih ekspansif dalam beberapa tahun terakhir memang memperlebar defisit, tetapi tetap relatif rendah, sedikit di atas tiga persen dari PDB, setelah memperhitungkan surplus jaminan sosial dan pemerintah daerah. Bersama dengan rasio utang bersih sekitar 50 persen dari PDB, profil fiskal dan utang pemerintah cukup kuat untuk menahan guncangan sementara," tulis S&P.
Selanjutnya, Vietnam yang memiliki peringkat (BB+/Stable/B) juga dinilai memiliki cadangan cukup untuk menghadapi dampak perang, berdasarkan asumsi saat ini. Pertumbuhan ekonomi yang solid, sektor ekspor yang berkembang, dan neraca pemerintah yang relatif sehat menjadi penopang terhadap dislokasi pasar energi.
Namun, lonjakan berkepanjangan dalam biaya impor energibersama dengan potensi berkurangnya cadangan devisa dapat melemahkan posisi likuiditas eksternal Vietnam.
"Kenaikan tajam defisit fiskal, jika pertumbuhan ekonomi juga melambat secara mendadak, berisiko merusak profil leverage pemerintah. Jika skenario ini berlangsung lebih dari enam bulan dan pemerintah gagal menahan dampak terhadap metrik kredit, cadangan kredit Vietnam yang saat ini kuat bisa tergerus pada tingkat peringkat saat ini," ungkap S&P.