Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Akses Pembiayaan Masih Terbatas, Pengusaha Ungkap Penyebabnya

Akses Pembiayaan Masih Terbatas, Pengusaha Ungkap Penyebabnya
ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)
Intinya Sih
  • Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 8 persen dengan mendorong pusat ekonomi baru di daerah, namun akses pembiayaan bagi pengusaha lokal masih terbatas.
  • Reynaldo Bryan Tampang Allo menilai persyaratan kredit yang rumit menjadi hambatan utama dan mendorong HIPMI untuk memperjuangkan kebijakan kredit yang lebih inklusif.
  • Melalui pendekatan jangka pendek dan panjang, Reynaldo ingin mengoptimalkan jaringan HIPMI serta mendorong kebijakan pemerintah agar pemerataan akses permodalan bagi UMKM semakin mudah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 8 persen. Untuk mencapainya, diperlukan adanya pusat-pusat ekonomi baru di daerah, tak hanya di kota-kota besar.

Untuk mewujudkan hal tersebut, dunia usaha berperan besar. Namun, menurut pengusaha muda asal Papua, Reynaldo Bryan Tampang Allo, akses pembiayaan bagi pengusaha di daerah masih terbatas. Padahal, calon Ketua Umum BPP HIPMI nomor urut 2 itu mengatakan, pembiayaan menjadi aspek krusial dalam mendorong pertumbuhan bisnis.

“Saya rasa memang yang menjadi permasalahan di daerah itu adalah akses permodalan. Ketika kita terpilih nanti, kita harus memiliki data yang kuat mengenai kebutuhan anggota dan potensi usaha di setiap daerah agar solusi pembiayaan yang diberikan benar-benar tepat sasaran,” ujar Reynaldo, dikutip Kamis, (4/6/2026).

1. Persyaratan kredit yang rumit jadi penyebabnya

7ad4ba30-9a9c-4f8d-81d5-9f2ccf1b8e10.jpeg
Pengusaha muda asal Papua, Reynaldo Bryan Tampang Allo. (dok. HIPMI)

Reynaldo mengatakan, salah satu penyebab terhambatnya pengusaha daerah dalam mengakses pembiayaan usaha adalah persyaratan yang rumit.

“Ke depan, HIPMI harus mampu mempengaruhi kebijakan pemerintah agar akses kredit semakin inklusif,” ujar Reynaldo.

2. Pengusaha bisa bahu-membahu dalam mendorong akses pembiayaan

ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)
ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)

Untuk menangani persoalan tersebut, Reynaldo membeberkan dua pendekatan, yakni solusi jangka pendek dan jangka panjang agar kebutuhan pembiayaan pelaku usaha dapat terjawab secara berkelanjutan.

Untuk jangka pendek, Reynaldo berkomitmen mengoptimalkan kekuatan jaringan HIPMI dengan menggalang dukungan dari internal organisasi serta para senior HIPMI yang telah berhasil membangun usaha di berbagai sektor.

“Kita akan menyusun skema pembiayaan yang melibatkan kekuatan internal HIPMI. Senior-senior HIPMI yang telah sukses harus menjadi bagian dari solusi untuk membantu teman-teman pengusaha di daerah agar mendapatkan akses permodalan yang lebih cepat dan tepat sasaran,” ucap Reynaldo.

3. Perlu kebijakan jangka panjang buat permudah akses pembiayaan

ilustrasi rupiah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
ilustrasi rupiah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Sementara itu, dalam jangka panjang, Reynaldo menegaskan pengusaha harus mengambil peran lebih strategis dalam mendorong lahirnya kebijakan pemerintah yang berpihak kepada pelaku usaha, khususnya UMKM dan pengusaha muda di daerah.

Dia kembali menekankan, keberhasilan pembangunan ekonomi nasional tidak dapat dilepaskan dari tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di daerah. Oleh karena itu, pemerataan akses permodalan harus menjadi agenda prioritas.

“Saya membayangkan suatu saat masyarakat yang memiliki kemampuan dan rekam jejak yang baik, bahkan hanya dengan ijazah sekalipun, dapat memperoleh akses Kredit Usaha Rakyat dan pembiayaan produktif lainnya untuk memulai atau mengembangkan usahanya,” ucap Reynaldo.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More