PIER Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 5,3 Persen

- PIER memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 berada di kisaran 5,1 hingga 5,3 persen, dengan titik tengah sekitar 5,2 persen.
- Tantangan ekonomi diperkirakan muncul pada kuartal II dan III-2026 karena tidak ada faktor musiman yang signifikan mendorong pertumbuhan.
- Inflasi dan defisit APBN diproyeksikan tetap terjaga di bawah tiga persen berkat kebijakan harga BBM dan komitmen disiplin fiskal pemerintah.
Jakarta, IDN Times - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 berhasil melambung tinggi ke level 5,61 persen. Namun, hal tersebut tidak semata mengeliminiasi tantangan perekonomian ke depan yang diproyeksikan masih penuh gejolak.
Permata Institute for Economic Research (PIER) pun memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 ada di level moderat, yakni 5,1 hingga 5,3 persen.
"Terkait dengan pertumbuhan ekonomi, kami tetap melihat bahwa di tahun ini pertumbuhan PDB Indonesia masih berkisar 5,1 hingga 5,3 persen, dengan titik tengahnya masih di kisaran 5,2 persenan," kata Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede dalam media briefing di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
1. Tantangan ada pada kuartal II dan III

Josua menjelaskan, tantangan akan cukup intens pada saat kuartal II dan III-2026. Pada dua periode tersebut tidak ada faktor musiman yang cenderung bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi.
Contohnya pada tahun lalu Idul Fitri masih jadi pendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal II, tetapi tahun ini momen tersebut terjadi pada tiga bulan pertama 2026.
"Sehingga ini menjadi salah satu tantangan yang harus kita lihat bersama, sekalipun tadi beberapa data indikator, leading indikator misalnya dari penjualan automotif sudah menunjukkan tanda-tanda yang cukup baik, namun kita perlu melihat lagi bagaimana post kuartal I ini," tutur Josua.
2. Inflasi masih akan terjaga di bawah tiga persen

Kemudian dari sisi inflasi, PIER melihat tekanan inflasi masih dapat diatasi dengan catatan pemerintah masih mempertahankan harga BBM, terutama BBM bersubsidi.
"Kami melihat bahwa inflasi masih akan tetap terjaga di bawah tiga persen," ujar Josua.
3. Defisit APBN diproyeksikan masih di bawah tiga persen

Lalu dari sisi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), PIER melihat secara keseluruhan defisitnya masih akan tetap terjaga di bawah tiga persen.
Hal itu menjadi keharusan bagi pemerintah untuk menunjukkan komitmen disiplin fiskal yang bisa memengaruhi keputusan investor berinvestasi.
"Oleh karena itu kami pikir adalah ini menjadi komitmen yang penting dan mestinya ini menjadi salah satu catatan yang mungkin tidak boleh ditinggalkan oleh investor asing dan juga lembaga rating internasional bahwa disiplin fiskal itu menjadi komitmen utama dari pemerintah," tutur Josua.


















