Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Produksi Gas Iran Kembali Mengalir di South Pars setelah Serangan Militer
ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Pixabay)
  • Iran berhasil mengaktifkan kembali produksi gas di tiga platform South Pars setelah gangguan akibat serangan militer, dengan mengalihkan aliran gas ke fasilitas pengolahan lain sementara perbaikan dilakukan.
  • Ladang gas South Pars menjadi sumber energi utama Iran, dan pemulihan produksinya menandai langkah penting pemerintah dalam membangun kembali infrastruktur energi yang terdampak konflik.
  • Eskalasi militer antara Israel dan Iran memicu kerusakan fasilitas energi serta tekanan politik dari AS, yang terus menggunakan blokade ekonomi untuk menekan Teheran dalam negosiasi damai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesIran mulai mengaktifkan kembali sektor energinya setelah konflik bersenjata yang sempat mengganggu aktivitas produksi. Berdasarkan laporan media pemerintah Iran, IRNA, produksi gas kini kembali berjalan di tiga platform lepas pantai yang berada di ladang gas South Pars.

CEO Pars Oil and Gas Company, Touraj Dehqani menjelaskan, ketiga platform tersebut sebenarnya tak mengalami kerusakan fisik akibat serangan. Kendala muncul karena fasilitas pemrosesan di darat yang terhubung dengan platform itu sempat tak berfungsi. Karena itu, aliran gas dari ketiga platform dialihkan sementara ke fasilitas pengolahan lain di sekitar area tersebut agar produksi dapat kembali normal sambil dilakukan perbaikan fasilitas darat.

1. Kerusakan fasilitas darat menghentikan operasi

ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

Mengutip Anadolu Agency, sejumlah platform lepas pantai di South Pars sesungguhnya berada dalam kondisi siap beroperasi penuh. Namun, seluruh aktivitasnya sempat dihentikan setelah fasilitas pengolahan di darat rusak akibat serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Terputusnya sistem interkoneksi membuat pengelola kehilangan jalur untuk menerima serta memproses pasokan gas yang berasal dari laut. Kondisi itu menghentikan aktivitas produksi hingga pengalihan pasokan ke kilang lain akhirnya dapat diterapkan.

2. South Pars menjadi tulang punggung energi Iran

ilustrasi industri minyak (pexels.com/Jędrzej Koralewski)

South Pars merupakan ladang gas alam terbesar di dunia yang wilayahnya terbagi antara Iran dan Qatar. Bagian yang berada di Iran dikenal sebagai South Pars, sedangkan wilayah Qatar bernama North Field. Bagi Teheran, kawasan ini menjadi sumber energi utama yang menopang kebutuhan listrik nasional di tengah persoalan pasokan yang kerap terjadi.

Dilansir Al Jazeera, pemulihan produksi tersebut dinilai menunjukkan upaya Iran untuk menata kembali infrastruktur energinya. Jurnalis Tohid Asadi yang melaporkan dari Teheran menyebut, langkah itu menjadi pesan bahwa pemerintah sedang membangun kembali fasilitas yang terdampak serangan.

“Iran sedang berusaha mengirimkan pesan bahwa mereka sedang berusaha membangun kembali fasilitas-fasilitas yang menjadi sasaran,” kata Asadi.

Ia menambahkan, pembukaan kembali fasilitas tersebut merupakan langkah awal yang penting bagi sektor energi Iran.

Asadi mengatakan, South Pars merupakan salah satu fasilitas energi di Iran. Menurutnya, pembukaan kembali fasilitas tersebut menjadi langkah maju awal yang penting, meski masih perlu dilihat apakah Iran akan mampu mencapai keberhasilan yang sama dalam hal ekspor energi.

3. Tekanan politik membayangi sektor energi Iran

ilustrasi bendera iran (pexels.com/aboodi vesakaran)

Gangguan di South Pars berawal dari eskalasi militer ketika Israel melancarkan serangan udara ke kawasan tersebut. Kompleks petrokimia terbesar Iran di Asaluyeh kemudian ikut menjadi sasaran, yang memicu serangan balasan berupa rudal dan drone Iran ke sejumlah infrastruktur energi di kawasan.

Situasi tersebut masih berlangsung di tengah tekanan ekonomi terhadap Iran. AS yang dipimpin Presiden Donald Trump tetap mempertahankan blokade pelabuhan sebagai alat tekanan politik agar Teheran bersedia menandatangani kesepakatan damai baru. Di sisi lain, perundingan diplomatik antara Washington dan Teheran masih berjalan, sementara kepala perunding Iran menegaskan negaranya hanya akan menerima kesepakatan yang menjamin seluruh hak Iran secara penuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article