Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

AS Siap Serang Iran jika Kesepakatan Damai Gagal Diraih

AS Siap Serang Iran jika Kesepakatan Damai Gagal Diraih
potret Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)
Intinya Sih
  • Amerika Serikat menegaskan siap menyerang Iran jika kesepakatan damai gagal, disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth saat kunjungan ke Singapura.
  • AS dan Iran telah menyepakati MoU berisi perpanjangan gencatan senjata 60 hari dan pembukaan Selat Hormuz, namun penerapannya menunggu persetujuan akhir Presiden Donald Trump.
  • Trump belum menyetujui MoU karena ingin Iran menghentikan program senjata nuklirnya, yang dianggap sebagai ancaman bagi keamanan Amerika Serikat dan negara lain.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat menegaskan akan menyerang Iran jika kesepakatan damai gagal diraih. Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth.

"Kami mampu untuk memulai kembali (serangan ke Iran) jika diperlukan. (Bahkan), kami lebih dari mampu. Persediaan kami lebih dari cukup untuk itu, baik di sana maupun di seluruh dunia. Jadi, kami berada dalam posisi yang sangat baik," kata Hegseth saat berkunjung ke Singapura pada Sabtu (30/5/2026), seperti dilansir Jerusalem Post.

1. AS dan Iran sudah menyepakati MoU

Kesepakatan damai.
ilustrasi kesepakatan (pexels.com/MART PRODUCTION)

Perwakilan AS dan Iran sebetulnya sudah menyepakati nota kesepaham bersama (MoU) pada Kamis (28/5/2026). Dalam MoU tersebut, AS dan Iran menyepakati perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Kesepakatan ini merupakan upaya AS dan Iran untuk menghentikan perang dan mencapai perdamaian. 

Meski sudah disepakati delegasi AS dan Iran, MoU tersebut belum bisa diterapkan. Sebab, berdasarkan keterangan seorang pejabat AS anonim, dokumen tersebut masih harus mendapatkan persetujuan akhir dari Presiden Donald Trump. Jika tidak ada persetujuan Trump, maka apa yang sudah disepakati AS dan Iran tidak akan bisa diterapkan.   

2. Trump sudah melakukan pertemuan untuk membahas MoU AS dan Iran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menghadiri rapat kabinet di Gedung Putih pada April 2025.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menghadiri rapat kabinet di Gedung Putih pada April 2025. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Untuk membahas MoU yang sudah disetujui AS dan Iran, Trump sudah melakukan pertemuan dengan jajarannya pada Jumat (29/5/2026). Dalam pertemuan tersebut, Trump melakukan sesi dengar pendapat untuk memutuskan apakah dirinya harus menyetujui MoU AS dan Iran atau tidak. 

Sayangnya, setelah melakukan pertemuan, Trump dikabarkan belum mengambil keputusan apa pun soal MoU yang sudah disepakati AS dan Iran. Oleh karena itu, kesepakatan yang ada di dalam MoU tidak bisa diterapkan. Meski begitu, berdasarkan laporan Reuters, Trump dikabarkan akan segera mengambil keputusan terkait MoU AS dan Iran dalam waktu dekat ini.

3. Trump masih ngotot ingin setop program senjata nuklir Iran

Donald Trump sedang berpidato.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berpidato di acara Rose Garden Club dinner yang digelar di Gedung Puting, Washington D.C., pada 11 Mei 2026. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Menurut Hegseth, Trump saat ini juga masih ngebet untuk menghentikan program senjata nuklir Iran. Hegseth mengatakan, Trump siap bersabar hingga Iran mau mengikuti keinginan AS tersebut. Inilah yang membuat Trump belum mau menyetujui MoU antara AS dan Iran. Sebab, MoU itu tidak berbicara soal penghentian program nuklir Iran sama sekali. 

Sebagai informasi, Trump ngotot ingin menghentikan program nuklir Iran karena ia menganggap program tersebut sebagai ancaman. Sebab, jika Iran punya senjata nuklir, mereka dikhawatirkan akan menggunakan senjata tersebut untuk menyerang negara lain, termasuk Negeri Paman Sam.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More