Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Purbaya Beberkan Cara Turunkan Utang yang Tembus Rp10.293 Triliun
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (IDN Times/Triyan).
  • Utang pemerintah per 30 Juni 2026 mencapai Rp10.293,69 triliun atau 41,26 persen dari PDB, masih di bawah batas legal 60 persen.
  • Menkeu Purbaya menilai keberlanjutan utang harus dilihat bersama kondisi fiskal dan kapasitas ekonomi, sambil berharap rasio utang turun sedikit pada akhir tahun.
  • Pemerintah akan membatasi defisit dan memperbaiki pemungutan pajak tanpa menaikkan tarif; SBN mendominasi utang Rp8.966,79 triliun, sementara pembiayaan semester I mencapai Rp477,4 triliun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakartq, IDN Times - Pemerintah mencatatkan utang sebesar Rp10.293,69 triliun per 30 Juni 2026. Jika dibandingkan dengan produk domestik bruto (PDB), rasio utang pemerintah mencapai 41,26 persen.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai posisi utang tersebut masih berada dalam batas aman. Pasalnya, batas maksimal rasio utang pemerintah yang diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara adalah 60 persen terhadap PDB.

Meski demikian, pemerintah akan terus melakukan perbaikan, khususnya dari sisi penerimaan negara agar kebutuhan pembiayaan utang dapat ditekan secara konsisten.

“Belum berakhir tahunnya, nanti kita lihat akhir tahun pertumbuhannya seperti apa. Harusnya sih akan bisa turun lagi sedikit. Kalau kita lihat kan, masih di bawah 60 persen dari PDB, ini masih jauh,” ujar Purbaya kepada awak media di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (12/8/2026).

1. Utang harus dilihat dengan kondisi fiskalnya

ilustrasi utang (vecteezy.com/Hifzhan Graphics)

Purbaya menegaskan, untuk melihat keberlanjutan utang pemerintah, rasio utang tidak bisa dilihat secara terpisah. Pemerintah perlu memperhatikan kondisi fiskal secara keseluruhan serta kemampuan ekonomi dalam menopang utang tersebut.

“Persentase utang Singapura hingga 180 persen dari PDB. Kalau kita melihat sustainability utang atau fiskal seperti itu. Kita lihat relatif terhadap size ekonominya,” ujar Purbaya.

2. Tekan defisit dan perbaiki strategi pengumpulan pajak

ilustrasi APBN (IDN Times/Aditya Pratama)

Menurut dia, pemerintah akan tetap menjaga defisit anggaran agar sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Dengan begitu, tekanan terhadap kebutuhan pembiayaan utang dapat dikendalikan.

Selain itu, pemerintah akan memperbaiki efektivitas pengumpulan penerimaan pajak. Perbaikan tersebut tidak dilakukan dengan menaikkan tarif pajak, melainkan dengan membenahi proses pemungutan pajak.

“Strateginya kita akan batasi defisit supaya enggak tinggi-tinggi amat. Terus kita akan efektifkan tax collection (penerimaan pajak) kita. Bukan naikin pajak, tapi kita bersihkan cara kita beroperasi mengumpulkan pajak,” ucapnya.

3. Utang pemerintah akhir Juni capai Rp10.293 triliun

ilustrasi APBN (IDN Times/Aditya Pratama)

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, utang pemerintah per akhir Juni 2026 Rp10.293,69 triliun, terdiri atas surat berharga negara (SBN) sebesar Rp8.966,79 triliun dan pinjaman Rp1.326,9 triliun. Dengan demikian, SBN mendominasi struktur utang pemerintah dengan porsi sekitar 87,11 persen

Sementara itu, khusus pembiayaan utang pada tahun anggaran 2026, pemerintah telah menarik sebesar Rp477,4 triliun hingga semester I-2026. Realisasi tersebut setara dengan 57,4 persen dari target pembiayaan utang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp832,2 triliun. Secara tahunan, realisasi pembiayaan utang hingga semester I-2026 tersebut tumbuh 51,4 persen.

Curated For You

Editorial Team

Related Article