Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)
Menurut laporan S&P, jika harga energi global tidak segera kembali normal dalam beberapa bulan ke depan dan perang di Timur Tengah memberikan dampak jangka panjang yang serius, maka prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selama ini cukup kuat berpotensi terganggu.
Kondisi ini akan melemahkan dukungan ekonomi bagi peringkat kredit Indonesia karena beban fiskal dan eksternal dapat meningkat, sementara kemampuan pemerintah untuk mempertahankan stabilitas ekonomi menjadi lebih terbatas.
"Di Asia Tenggara, kami menilai peringkat kredit Indonesia akan lebih rentan jika konflik berkepanjangan. Sementara itu, dukungan kredit untuk pemerintah negara berkembang dan ekonomi utama lainnya di kawasan ini diperkirakan lebih tangguh," bunyi laporan S&P.
S&P menyebut, ada sejumlah risiko terhadap kondisi fiskal Indonesia dan neraca transaksi berjalan Indonesia jika perang terus belanjut, yakni:
Harga energi yang lebih tinggi meningkatkan pengeluaran pemerintah untuk subsidi, sehingga membebani defisit anggaran.
Pembayaran bunga pemerintah juga bisa meningkat jika inflasi yang semakin cepat mendorong kenaikan suku bunga pasar lebih lanjut.
Impor produk minyak yang lebih mahal dapat memperlebar defisit transaksi berjalan.
Respons pemerintah terhadap gangguan energi dapat membatasi sebagian kerusakan pada kinerja fiskalnya. Meskipun mempertahankan harga bahan bakar bersubsidi, Indonesia telah mengurangi pengeluaran untuk program makanan bergizi gratis untuk sebagian mengimbangi peningkatan biaya.
"Pada saat bersamaan, harga komoditas yang lebih tinggi juga dapat meningkatkan pendapatan pemerintah. Hal ini membantu membatasi peningkatan ukuran defisit fiskal dan mengurangi tekanan ke atas pada rasio pembayaran bunga anggaran. Pemerintah baru-baru ini menegaskan kembali niatnya untuk menjaga defisit fiskal mendekati tiga persen dari PDB untuk tahun ini," tulis S&P.