ilustrasi perusahaan garmen (unsplash.com/Collab Media)
Banyak perusahaan Asia mulai mengurangi ketergantungan pada pasar Amerika Serikat. Sharma memperluas bisnisnya ke Malaysia serta mulai menjajaki pasar Timur Tengah. Langkah ini diambil karena wilayah tersebut dianggap lebih stabil dari sisi kebijakan perdagangan. Fokus bisnis pun diarahkan pada pasar yang lebih bisa diprediksi.
Pendekatan serupa dilakukan perusahaan garmen Thailand dengan membidik Kanada, Australia, serta Eropa. Kok Ping Soon dari Singapore Business Federation menilai ketidakpastian lebih merusak kepercayaan dunia usaha dibanding besaran tarif itu sendiri. Reema Bhattacharya dari Verisk Maplecroft menjelaskan bahwa risiko kini bergeser dari skala negara ke sektor industri tertentu. Artinya, satu sektor bisa aman sementara sektor lain justru sangat rentan.
Putusan tarif Trump gak membawa kelegaan besar bagi bisnis Asia, justru membuka babak baru penuh kebingungan. Kondisi ini membuat pelaku usaha sulit memprediksi biaya impor dan harga jual produk di pasar AS. Akibatnya, aktivitas bisnis berjalan dalam suasana penuh ketidakpastian.
China tetap menjadi pusat manufaktur yang sulit dilepaskan, sementara banyak perusahaan mulai mencari pasar alternatif di luar Amerika. Dunia usaha kini harus beradaptasi dengan perubahan sebagai bagian dari normal baru perdagangan global.